Skip to main content

Selusin Kutang Sejuta Keberkahan

selusin kutang sejuta keberkahan, inspiring story kagama virtual
Lebaran tinggal menghitung hari. Sebelum mudik ke rumah mertua, seperti biasa, saya mengecek status segala sesuatu keperluan lebaran. Kue-kue, ada. Stoples, nampan, piring-gelas, sudah bersih siap digunakan. Gorden, sudah oke. Baju untuk ibu, tersedia meski tidak gress baru. Sendal, ready. Mukena, beres. Ibu punya satu mukena yang istimewa hanya dipakai saat sholat ied. Rasanya semuanya sudah 100% siap.

Sekadar memastikan, saya bertanya pada ibu. "Ibu pengen dibelikan apa? Gamis atau yang lain?" 

"Enggak, nggak usah," sergah ibu. "Gamis ibu masih ada, bagus. Nggak usah beli lagi."
"Trus mau apa? Sendal?" tanya saya lagi.
Ibu menggeleng. "Nggak usah. Masih ada."
"Lha trus?" kejar saya.
"Hmmm ... anu," ibu menatap saya beberapa detik dengan canggung. "Belikan kutang saja ya. Kutang ibu sudah jelek-jelek. Wis amoh-amoh malah."


Dziggh!

Seperti ada godam yang mengetuk kepala saya dengan telak. "Kutang, Bu?" 
Pertanyaan saya mendadak terdengar bodoh di telinga saya sendiri. Saya dengar dengan jelas barusan ibu bicara apa. Mengulang pertanyaan yang saya sudah paham adalah reaksi spontan saya yang sebenarnya adalah pengalihan imbas makjlebnya keluhan ibu.


Ya, rasanya saya baru tersadar. Saya tinggal bersama ibu. Setiap hari membersamai beliau. Sok-sokan saya menganggap saya sudah memenuhi semua keperluan beliau. Nyatanya? Saya abai. Ada keperluan ibu yang meski tidak cetha mela-mela ketok mata, harusnya saya tetap paham. Toh saya perempuan yang sama butuh kutang juga. Kok ya ndadak diminta baru ngeh? Harusnya kan saya paham dengan sendirinya tanpa ibu bilang dulu?

Sambil malu dalam hati, saya bilang pada ibu. "Besok aku beliin. Yang Plum kan?"

Ibu mengangguk. "Kayak yang dulu kamu belikan itu."
"Oke. Mau berapa banyak? Seprapat apa setengah lusin?" tawar saya. Paham banget sistem jual Plum di pasar: lusinan.
"Setengah lusin sekalian. Sama celana juga ya," ibu antusias.
Saya mengacungkan jempol dengan bersemangat. Acungan jempol yang sebenarnya untuk menutupi rasa malu di hati.


Ah, Bu. Urusan sesederhana itu saja anakmu ini abai. Padahal yang ibu perlukan juga bukan barang mahal. Plum yang ada di pasar sudah sangat-sangat cukup. Jangankan minta, bahkan ibu tak tahu ada merek kutang yang mirip dengan nama presiden Amerika saat ini.

Secepatnya saya ke pasar Kolombo, pasar terdekat, mencari kutang buat ibu. Sayangnya, merek Plum tidak ada di kios yang saya tuju, yang apesnya hanya satu kios itu yang saya temui. Ya sudah, darurat sementara, saya beli merek lain tiga biji dengan ukuran berbeda. Mau saya tunjukkan dulu pada ibu. Kalau ibu suka, saya balik lagi beli setengah lusin. Toh si abang penjual baik hati membolehkan pengembalian atau tukar ukuran. Sip lah.

Sampai di rumah, saya sodorkan kresek berisi tiga buah kutang dan 3 CD pada ibu. "Ini bukan Plum, Bu. Plumnya nggak ada. Ibu suka nggak yang ini? Nanti kalau suka aku beli lagi nggenapi kurangnya."
Kakak ketiga saya yang kebetulan sedang bertandang ke rumah ikut memperhatikan ibu yang sibuk mengamati belanjaan saya.
"Di pasar dekat rumahku banyak jual merek Plum," kakak menyeletuk. "Mau kubelikan po?"
"Enggak usah. Kapan-kapan aja kalau butuh lagi," sergah saya. Agak malu juga karena kakak saya laki-laki. Masa saya nitip kutang sama dia?
"Lha besok juga nggak pa-pa. Bisa nitip sama ibunya anak-anak," kata kakak.

Saya menggeleng sembari mengulum senyum. Kalau nitip ke mbak ipar saya malah nggak pa-pa. Tapi sungkan juga. Pinginnya sebelum lebaran pesanan ibu sudah terbeli. Anggap saja biar ibu bisa berlebaran dengan underwear baru.

"Ntar aja tak cariin wis. Nggak usah nitip," kata saya. "Biar cepet dapetnya."
Kakak mengangguk.

Tak berapa lama, ibu selesai mengecek kutang-kutang barunya. "Yang ini saja, Tik. Bukan Plum nggak pa-pa," ujar ibu menyodorkan pilihannya pada saya.
"Apa tak belikan aja di Pamela sekarang?" sela kakak. "Merek Plum pasti ada lah di sana."
Hampir bersamaan saya dan ibu menggeleng.

"Eh, enggak usah. Nanti aja aku yang ke sana," saya berinisiatif. Urusan perempuan biar saya saja, pikir saya.

"Ya sudah kalau gitu," ibu menengahi.
"Tapi sebentar ya perginya. Aku tak leyeh-leyeh dulu," saya menyalakan kipas angin. 

Ibu mengangguk.
Tak lama berselang, kakak pamit.

Saya masih leyeh-leyeh ditemani ibu ketika pintu rumah terbuka. Ternyata kakak balik lagi. Kresek putih bertuliskan "Pamela" disodorkannya pada ibu. "Nih, dapat Plumnya. Selusin."

Detik itu juga saya sukses melongo. Makin speechless ketika isi kresek dibuka. Kutang-kutang dan CD merek Plum untuk ibu, dibelikan kakak spontan, nggak pakai nanti-nanti. Dan yang membuat saya makin salut, tak ada canggung sama sekali dia. Kakak cerita dengan entengnya, datang ke swalayan langsung ke gerai pakaian dan menemui pramuniaga di sana. Katanya, "Mbak. Saya cari kutang merek Plum ukuran sekian sekalian CD ukuran anu buat ibu saya. Masing-masing selusin. Tolong dibantu ya."

Mendengar ceritanya, saya betul-betul speechless. 

Yang santai banget cerita beli kutang dan CD untuk ibu tanpa canggung itu adalah seorang lelaki, dosen yang sudah 3 kali diwisuda oleh UGM, yang di tiap sesi mengajarnya di-nut sama mahasiswanya, juga dihormati teman-teman sejawatnya.

Tapi di hadapan saya, ia menunjukkan dirinya sebagai anak ibu. Yang baktinya adalah kewajiban. Yang cintanya adalah kunci-kunci surga lewat birrul walidain-nya yang tak bersyarat. Spontan, tanpa menunggu diminta.

Hati saya berdesir. Rasanya saya makin tahu kenapa kakak saya ini hidupnya selalu happy seolah tak ada beban berat. Rezekinya juga adaaa saja walau tidak bergelimang kekayaan. Barangkali memang benar, salah satu kunci sukses keberkahan hidupnya adalah baktinya pada ibu.


Selusin kutang untuk ibu yang barusan saya saksikan secara langsung adalah buktinya. Saya ingat betul, istri kakak saya itu pernah bercerita kalau kakak saya pernah bilang:
"Apa-apa yang saya miliki, kalau ibu saya memintanya, pasti langsung saya kasihkan. Bahkan jika ibu nembung rumah saya, mobil, atau apapun, saya akan berikan."


Saya tak bisa berkata-kata waktu itu. Dalam hati saya hanya bisa berdoa, "Semoga Gusti Allah paring barokah kanggo sampeyan awit bekti luhur sampeyan, Mas. Matur nuwun, saya belajar banyak dari sampeyan."

Ditulis oleh Etyastari Soeharto dalam buku "Inspiring Story" yang diterbitkan oleh Kagama Virtual. Tebal 528 halaman, hard cover, jilid jahit. Harga: Rp.110.000 (seluruh hasil penjualan dialokasikan untuk beasiswa Kagama via KagamaCare). Open PO sampai 5 Februari 2019.


Mau tau rahasia sukses bisnis bersama suami/istri? Like/Follow:
INSTAGRAM: Fenny Ferawati

Info dan kerjasama silakan klik disini.

Baca juga:

Comments

Artikel Terpopuler

Menikah dan Memahami Pasangan

Ciptaan Allah yang satu ini sungguh luar biasa indahnya. Sebuah perpaduan warna yang tak satu mahluk pun mampu membuatnya, meski berbeda namun selalu kompak dan harmonis. Kehidupan pernikahan bisa diibaratkan sebuah pelangi. Tak jarang banyak perbedaan karakter, mindset, latar belakang kehidupan, pendidikan dan berbagai macam ketidaksamaan. Namun satu hal, bagaimana semua itu terlihat mempesona.
Angan yang terlalu melambung tinggi ketika memimpikan sosok pasangan yang super lembut, sabar, bijaksana dan selalu mencintai pasangan. Namun ketika realita berkata lain, pantaskah pasutri berfikir untuk segera mengakhiri fragmen kehidupan pernikahan?
Episode kehidupan Asma binti Abu Bakar dengan Zubair bin Awwam kiranya cukup menjadi pelajaran berharga. Betapa rumah tangga mereka tetap solid meski kemiskinan dan kesulitan hidup tak lepas dari hari-harinya.
Asma harus berjuang membawa air dan merawat kuda. Sungguh keikhlasan itulah yang telah membuat cinta mereka bersatu. Sementara Zubair adalah …

Menyikapi Tabiat Pasangan

Seorang teman mengeluhkan sikap dan tabiat suaminya yang menurutnya egois dan kekanak-kanakan. Teman ini merasa menyesal telah menikah dengan suaminya.
Setahu saya sikap, karakter, atau kebiasaan tidak tercipta semalam dan juga tidak bisa berubah hanya semalam. Apa yang ditunjukkan suaminya saat ini, dalam pemahaman saya, sebenarnya telah ditunjukkan dulu waktu sebelum menikah.

"Apakah suamimu baru sekarang ini sikap dan perilakunya seperti yang kamu keluhkan?" tanya saya.
"Oh.. sudah dari dulu" jawabnya.
"Sejak masih pacaran ya," tanya saya lagi.
"Ya...." jawab teman.
"Lha... kalau sudah tahu begini kok ya diteruskan sampai nikah?" tanya saya penasaran.
"Saya pikir nanti kalau sudah nikah dia bisa berubah. Ternyata tidak mau berubah dan malah tambah parah. Katanya suami, dia sejak lahir ya seperti ini. Suami bilang saya harus menerima dia apa adanya," keluhnya.
Memang demikianlah yang sering terjadi. Kita berharap pasangan be…

Peran Ayah Dalam Pendidikan Anak

Al-Qur’an menyebutkan beberapa kisah ayah bersama anaknya. Diantaranya adalah kisah Nabi Ibrahim, Nabi Nuh, Ya’qub dalam surat Al- Baqoroh 132-133, QS. Luqman 12-19, QS. Yusuf. Proses pendidikan bukan hanya terjadi pada kita saja, akan tetapi terjadi pula pada para Nabi dan Rasul. Ketika kita membaca kisah Nabi Ibrahim yang sabar dalam menjalankan perintah Allah. Hajar yang tegar, dan Ismail yang sabar. Pertanyaannya apakah pengorbanan mereka datang secara kebetulan atau melalui proses tarbiyah (pendidkan)?
Jika contoh diatas ada pada Nabi dan Rasul. Maka beda halnya dengan Luqman. Dia adalah hamba Allah yang shalih. Berkat keshalihannya Allah berikan padanya kata-kata hikmah yang menghiasi lembaran Al-Qur’an. Nasihat Luqman yang ia berikan kepada anaknya dan menjadi pelajaran bagi kita.
وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kep…

Suami dan Keridhoannya

(Nasehat indah dari Ustadz Nasrullah Gontor)
Ada seorang ibu, mau cerai dari suaminya. Lalu dia diskusi panjang dengan saya.... + Pak Nas, saya sudah nggak kuat dengan suami saya. Saya mau cerai saja...
-: emangnya kenapa bu? + ya suami saya udah nggak ada kerjanya, nggak kreatif, nggak bisa jadi pemimpin untuk anak2. Nanti gimana anak2 saya kalau ayahnya modelnya kayak begitu. Saya harus cari nafkah capek2 dia santai aja di rumah.

-: oh gitu, cuma itu aja? + sebenarnya masih banyak lagi, tapi ya itu mungkin sebab yang paling utama.
-: oooh... iya... mau tahu pandangan saya nggak bu? + boleh pak Nas.

-: gini... ibarat orang punya kulkas, tapi dipakainya untuk lemari pakaian, ya akhirnya nggak bakal puas dengan produk kulkas tersebut. Sudahlah nggak muat banyak, nggak ada gantungan pakaiannya, nggak ada lacinya, nggak  bisa dikunci, malah boros listrik...
Nah... itulah kalau kita pakai produk nggak sesuai fungsi. Sebagus apapun produknya kalau dipakai tidak sesuai peruntukannya ya nggak ak…

10 Sifat Istri yang Membuat Rejeki Mengalir Deras

Banyak suami yang mungkin tidak tahu kalau rejekinya dengan izin Allah mengalir lancar atas peran istri. Memang tidak dapat dilihat secara kasat mata, tetapi dapat dijelaskan secara spiritual kalau 10 karakter istri ini ‘membantu’ menghadirkan rejeki untuk suami dan rumah tangganya.
1. Istri yang pandai bersyukur Istri yang bersyukur atas semua karunia Allah pada hakikatnya dia sedang mengundang tambahan nikmat untuk suaminya. Termasuk juga rejeki. Miliki suami, bersyukur. Jadi ibu, bersyukur. Anak-anak dapat mengaji, bersyukur. Suami memberi nafkah, bersyukur.
2. Istri yang tawakal kepada Allah Di waktu seseorang bertawakkal pada Allah, Allah akan mencukupi rejekinya. “Dan barangsiapa yang bertawakkal pada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya.” (QS. Ath Thalaq : 3). Bila seseorang istri bertawakkal pada Allah, sementara dia tidak bekerja, dari mana dia dicukupkan rejekinya. Allah akan mencukupkannya dari jalan lain, tidak selamanya harus langsung diberikan pada wanit…