Skip to main content

Emosi Sebagai Pemancar Radio Alam

emosi sebagai pemancar radio alam
Di tengah duka mendalam atas berbagai bencana alam yang terjadi di Indonesia belakangan ini, sambil memanjatkan doa dan bergotong-royong membantu para korban, ada baiknya kita juga memperluas wawasan dan kesadaran diri. Untuk itu saya ingin sedikit berbagi penelitian ilmiah tentang pengaruh emosi terhadap medan magnit alam (geomagnetic field).

Melalui penelitian menggunakan alat Global Coherence Monitoring System, para ilmuwan di Amerika menemukan bahwa 2-3 minggu sebelum terjadi fenomena alam yang sifatnya merusak, akan terdeteksi juga perubahan pada data geomagnetic field di bumi. Misalkan sebelum tanah longsor, sebelum gempa bumi, sebelum tsunami, sebelum terjadi konflik dll. Alat ini bisa memonitor dan memberikan data perubahan dan fluktuasi dari earth geomagnetic field yang dihasilkan oleh bumi dan ionosphere.

Yang menarik adalah ilmuwan juga menemukan bahwa perubahan dari magnetic field bumi ternyata berasosiasi dengan perubahan sistem aktivitas otak dan hati manusia. Perubahan geomagnetic ternyata berdampak terhadap perilaku, heart rhythms, heart rate, mental dan emosi. Dimana saat geomagnetic bumi berubah, tingkat kejadian negatif juga meningkat, seperti bunuh diri, kecelakaan, stroke, pencurian, perampokan dan lain sebagainya.

bumi menerima pancaran emosi manusia

Bahkan 2-3 minggu sebelum tragedi 911 di Amerika, alat ini juga telah mendeteksi adanya anomali dari data monitor geomagnetic field tersebut, dimana pengaruh ini berlaku timbal balik. Geomagnetik alam mempengaruhi perilaku dan heart rhythms, sebaliknya perilaku, heart rythms juga mempengaruhi geomagnetik alam.

Melalui penelitian tersebut ilmuwan menyimpulkan sistem emosi kita ternyata tidak saja mempengaruhi keselarasan (coherence) dan ketidakselarasan (incoherence) dalam tubuh kita saja, namun juga bertindak seperti gelombang radio yang bisa memancar keluar dan terdeteksi oleh sistem syaraf orang lain dan juga terdeteksi oleh lingkungan, mempengaruhi keselarasan dan ketidakselarasan alam.

Jadi semakin hati kita tidak harmonis maka geomagnetik alam juga akan menjadi tidak harmonis. Jika hati kita damai maka alam semesta mendukung (mestakung) dengan merubah juga medan magnit yang mempengaruhi terjadinya kegiatan negatif baik oleh manusia maupun proses erupsi bumi.

Mental dan emosi kini bisa diukur dengan alat pengukur HRV (Heart Rate Variability) untuk individu maupun untuk area yang luas (untuk mental kolektif).  Global Coherence Monitoring System semakin banyak dipakai di berbagai lokasi global antara lain: Hawaii, California, Peru, Lithuania, Jepang, Korea selatan Chili, South Africa, Saudi Arabia, Malaysia, New zealand, dll. Juga di beberapa kantor perusahaan dunia.

Inti yang bisa kita pelajari dari data-data ini adalah: jika hati kita penuh kebencian, saling menyalahkan, sombong, merasa paling benar, susah bersyukur, susah puas, susah berterimakasih, menyebar fitnah maka alam semesta mendukung (mestakung) dengan merubah juga medan magnit yang akan mempengaruhi terjadinya kejadian yang merusak/negatif, baik oleh manusia maupun proses erupsi bumi, dan ini adalah hasil penelitian bukan hanya tebak-tebakan .

Jika kita sudah tahu ternyata hati dan emosi kita adalah pemancar radio yang diterima alam, diperlukan kesadaran untuk memilih: tetap mau memancarkan "lagu kebencian" yang akan mendatangkan kerusakan dan perilaku negatif atau mau memancarkan "lagu kasih sayang" yang akan mendatangkan alam yang damai, sejahtera gemah ripah loh jinawi.

Jadi jangan cuci tangan dengan fenomena alam yang terjadi, tidak mau bertanggung jawab lalu membebankan pada Tuhan.  Tuhan Selalu Maha Pengasih dan Penyayang. Kita sendirilah yang merubah geomagnetik alam ini. Kita sendirilah perusaknya dengan memupuk kebencian di hati kita. Cukup sudah kita menjadi penyumbang kerusakan, mari hening dan damaikan hati.


Mau tau rahasia sukses bisnis bersama suami/istri? Like/Follow:
INSTAGRAM: Fenny Ferawati

Info dan kerjasama silakan klik disini.

Baca juga:

Comments

Artikel Terpopuler

Menikah dan Memahami Pasangan

Ciptaan Allah yang satu ini sungguh luar biasa indahnya. Sebuah perpaduan warna yang tak satu mahluk pun mampu membuatnya, meski berbeda namun selalu kompak dan harmonis. Kehidupan pernikahan bisa diibaratkan sebuah pelangi. Tak jarang banyak perbedaan karakter, mindset, latar belakang kehidupan, pendidikan dan berbagai macam ketidaksamaan. Namun satu hal, bagaimana semua itu terlihat mempesona.
Angan yang terlalu melambung tinggi ketika memimpikan sosok pasangan yang super lembut, sabar, bijaksana dan selalu mencintai pasangan. Namun ketika realita berkata lain, pantaskah pasutri berfikir untuk segera mengakhiri fragmen kehidupan pernikahan?
Episode kehidupan Asma binti Abu Bakar dengan Zubair bin Awwam kiranya cukup menjadi pelajaran berharga. Betapa rumah tangga mereka tetap solid meski kemiskinan dan kesulitan hidup tak lepas dari hari-harinya.
Asma harus berjuang membawa air dan merawat kuda. Sungguh keikhlasan itulah yang telah membuat cinta mereka bersatu. Sementara Zubair adalah …

Menyikapi Tabiat Pasangan

Seorang teman mengeluhkan sikap dan tabiat suaminya yang menurutnya egois dan kekanak-kanakan. Teman ini merasa menyesal telah menikah dengan suaminya.
Setahu saya sikap, karakter, atau kebiasaan tidak tercipta semalam dan juga tidak bisa berubah hanya semalam. Apa yang ditunjukkan suaminya saat ini, dalam pemahaman saya, sebenarnya telah ditunjukkan dulu waktu sebelum menikah.

"Apakah suamimu baru sekarang ini sikap dan perilakunya seperti yang kamu keluhkan?" tanya saya.
"Oh.. sudah dari dulu" jawabnya.
"Sejak masih pacaran ya," tanya saya lagi.
"Ya...." jawab teman.
"Lha... kalau sudah tahu begini kok ya diteruskan sampai nikah?" tanya saya penasaran.
"Saya pikir nanti kalau sudah nikah dia bisa berubah. Ternyata tidak mau berubah dan malah tambah parah. Katanya suami, dia sejak lahir ya seperti ini. Suami bilang saya harus menerima dia apa adanya," keluhnya.
Memang demikianlah yang sering terjadi. Kita berharap pasangan be…

Peran Ayah Dalam Pendidikan Anak

Al-Qur’an menyebutkan beberapa kisah ayah bersama anaknya. Diantaranya adalah kisah Nabi Ibrahim, Nabi Nuh, Ya’qub dalam surat Al- Baqoroh 132-133, QS. Luqman 12-19, QS. Yusuf. Proses pendidikan bukan hanya terjadi pada kita saja, akan tetapi terjadi pula pada para Nabi dan Rasul. Ketika kita membaca kisah Nabi Ibrahim yang sabar dalam menjalankan perintah Allah. Hajar yang tegar, dan Ismail yang sabar. Pertanyaannya apakah pengorbanan mereka datang secara kebetulan atau melalui proses tarbiyah (pendidkan)?
Jika contoh diatas ada pada Nabi dan Rasul. Maka beda halnya dengan Luqman. Dia adalah hamba Allah yang shalih. Berkat keshalihannya Allah berikan padanya kata-kata hikmah yang menghiasi lembaran Al-Qur’an. Nasihat Luqman yang ia berikan kepada anaknya dan menjadi pelajaran bagi kita.
وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kep…

Suami dan Keridhoannya

(Nasehat indah dari Ustadz Nasrullah Gontor)
Ada seorang ibu, mau cerai dari suaminya. Lalu dia diskusi panjang dengan saya.... + Pak Nas, saya sudah nggak kuat dengan suami saya. Saya mau cerai saja...
-: emangnya kenapa bu? + ya suami saya udah nggak ada kerjanya, nggak kreatif, nggak bisa jadi pemimpin untuk anak2. Nanti gimana anak2 saya kalau ayahnya modelnya kayak begitu. Saya harus cari nafkah capek2 dia santai aja di rumah.

-: oh gitu, cuma itu aja? + sebenarnya masih banyak lagi, tapi ya itu mungkin sebab yang paling utama.
-: oooh... iya... mau tahu pandangan saya nggak bu? + boleh pak Nas.

-: gini... ibarat orang punya kulkas, tapi dipakainya untuk lemari pakaian, ya akhirnya nggak bakal puas dengan produk kulkas tersebut. Sudahlah nggak muat banyak, nggak ada gantungan pakaiannya, nggak ada lacinya, nggak  bisa dikunci, malah boros listrik...
Nah... itulah kalau kita pakai produk nggak sesuai fungsi. Sebagus apapun produknya kalau dipakai tidak sesuai peruntukannya ya nggak ak…

10 Sifat Istri yang Membuat Rejeki Mengalir Deras

Banyak suami yang mungkin tidak tahu kalau rejekinya dengan izin Allah mengalir lancar atas peran istri. Memang tidak dapat dilihat secara kasat mata, tetapi dapat dijelaskan secara spiritual kalau 10 karakter istri ini ‘membantu’ menghadirkan rejeki untuk suami dan rumah tangganya.
1. Istri yang pandai bersyukur Istri yang bersyukur atas semua karunia Allah pada hakikatnya dia sedang mengundang tambahan nikmat untuk suaminya. Termasuk juga rejeki. Miliki suami, bersyukur. Jadi ibu, bersyukur. Anak-anak dapat mengaji, bersyukur. Suami memberi nafkah, bersyukur.
2. Istri yang tawakal kepada Allah Di waktu seseorang bertawakkal pada Allah, Allah akan mencukupi rejekinya. “Dan barangsiapa yang bertawakkal pada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya.” (QS. Ath Thalaq : 3). Bila seseorang istri bertawakkal pada Allah, sementara dia tidak bekerja, dari mana dia dicukupkan rejekinya. Allah akan mencukupkannya dari jalan lain, tidak selamanya harus langsung diberikan pada wanit…