Skip to main content

Miskin Karena Suka Dapat Bantuan Duit

bantuan duit
Duit itu punya jaringan luas untuk dijadikan alat membantu sesama makhluk Tuhan. Duit dapat digunakan membantu siapapun dan apapun. Kita bisa bantu penjahat dengan duit, bantu ulama dengan duit, bantu ayam dengan duit, bantu orang miskin dengan duit. Bahkan bantu orang kaya dengan duit, juga sangat bisa.

Namun ketika mau membantu sesama makhluk Tuhan dengan ilmu, kita sangat terbatas aksesnya. Mau bantu ayam dengan ilmu matematika, pasti sia-sia. Punya ilmu BTQ (Baca Tulis Al-Qur'an) lalu digunakan untuk membantu meramaikan gereja, jelas tidak berguna. Atau sebaliknya, seorang penginjil mau gunakan ilmunya untuk membantu memakmurkan masjid, jelas tidak diterima. Punya ilmu kimia mau dipakai membantu penyanyi dangdut mengatur cengkok nada suara, jelas sia-sia.

Dan maaf, punya ilmu pemberdayaan diri mau dipakai membantu orang yang mentalnya lemah, malah bisa stres sendiri. Tidak percaya? Silakan coba nasehati pengemis di jalanan bahwa meminta-minta itu penyebab kemiskinan, pasti akan dijawab olehnya, "ASU!". Pengemis dibantu ilmu pemberdayaan diri bukan berterima kasih, tapi dia akan tersinggung.

Tapi coba bantu si pengemis dengan recehan 2000 perak, dengan santun dia akan mendoakan agar disegerakan naik haji ke Baitulllah, dimudahkan rezekinya, dipanjangkan umurnya, dll.

Cerita tentang pemberdayaan diri sering dibantah orang, karena si pembaca berada di kesadaran yang berbeda, itu contoh kecil bahwa orang yang terpuruk hidupnya justru tidak bisa dibantu dengan ilmu pemberdayaan diri. Tapi andai mereka dikasih duit, sudah pasti terima kasihnya berjubel-jubel, doa yang baik-baik keluar semuanya.

Itu semua berarti jangkauan duit sangat luas dalam fastabiqul khairat (berlomba dalam kebaikan), karena siapapun dan apapun bisa dibantu dengan duit, semua doyan duit.

Maka dari iitu, kita harus sadar sesadar-sadarnya bahwa kita butuh kaya raya duit, karena tidak semua pihak bisa dibantu dengan ilmu, tapi bisa kita bisa bantu dengan "duit".

Namun demikian, yang merugi banyak justru makhluk Tuhan yang hanya bisa menerima bantuan duit, sebab duit sebenarnya tidak pernah bisa mengubah kehidupan. Kita setiap hari memberi bantuan duit pada ayam, tiap hari kita kasih mereka dedak, pur ayam, air minum, kandang, dan lain-lain. Apa bantuan duit itu pernah mengubah nasib ayam? Kalau bantuan duit bisa mengubah hidup, seharusnya ayam-ayam kita sekarang ini sudah kaya raya, sudah maju hidupnya.

Itu artinya, bantuan duit energi dayanya sangat kecil. Bantuan warisan harta, bantuan subsidi BBM, bantuan subsidi gas dan listrik, bantuan subsidi pajak mobil LCGC, bantuan rumah DP 0%, bantuan zakat mal dan zakat fitrah, bantuan BPJS, bantuan Kartu Indonesia Sehat dan Kartu Indonesia Pintar, itu semua sangat kecil membantu orang untuk berubah nasibnya, sebab ayam tidak pernah maju hidupnya walaupun setiap hari mereka dapat bantuan duit.

Nah kemiskinan dan keterpurukan itu disebabkan karena orang hanya mampu menerima bantuan duit.

Dulu sekali, orang-orang di pedesaan diberi pelatihan ternak kambing oleh pemerintah. Mereka diundang dan dikumpulkan di Kantor Desa, diberi pelatihan gratis, makan dan minum selama pelatihan gratis, pulang diberi sembako, dan diberi modal masing-masing orang miskin satu ekor kambing betina untuk modal ternak.

Apa yang terjadi? Lewat setahun, kambing tersebut raib semuanya. Ada yang dijual untuk bayar hutang, ada yang kambingnya sakit-sakitan jadinya disembelih, ada yang malah dititipkan ternaknya pada orang, dan macam-macam. Intinya hingga detik ini, orang-orang yang dapat training gratis, pesangon sembako gratis, modal ternak gratis, satu pun tidak ada yang berubah nasibnya.

Itu terjadi karena mereka hanya mampu menerima bantuan duitnya, bantuan kambingnya, tapi tidak mampu menerima bantuan ilmu pemberdayaan dirinya lewat ilmu ternak. Mental doyan duit itulah pemicu kemiskinan, karena energi duit dapat mengubah hidup itu sangat kecil getarannya.

Beberapa waktu lalu ada sahabat bercerita, "Saya coba angkat anak asuh dari keluarga tidak mampu untuk dapatkan pendidikan lebih baik. Saya beri dia motivasi hidup karena saya sadar jika hanya dibantu duit, seseorang tidak akan bisa berubah. Saya tanamkan pentingnya bercita-cita tinggi, berdedikasi, dan lain-lain. Dalam beberapa bulan, saya melihat dia tidak nyambung ke frekwensi tersebut, mungkin ini kesalahan saya, pada saat itu saya memotivasi dengan nada tinggi, sebab pegal juga hatinya memotivasi anak didik tapi si anak didik tidak nyambung," ungkapnya.

"Tapi setahu saya, se-killer apapun saya, tidak ada karyawan di perusahaan saya yang tidak suka pada saya. Artinya mereka paham bahwa karakter "killer" saya itu positif."

"Tapi si anak ini aneh, saya motivasi dia agar punya impian tinggi, malah dia tersinggung. Pulang ke rumah, dia melaporkan pada keluarganya kalau saya menghinanya, menuduh keluarga mereka orang-orang yang lemah cita-citanya, keluarga yang lemah dedikasinya."

"Beberapa hari kemudian, kakak-kakak si anak didik saya tersebut, mem-posting caci makinya pada saya di facebook. Haduh, aneh bin ajaib."

"Si anak ini pun akhirnya mundur sebagai anak asuh saya, tidak kuat. Setelah saling memaafkan di antara kami, eeh si anak mem-posting nada dendamnya pada saya."

"Saya geleng-geleng kepala, dan saat itu saya komentar: Itulah mengapa mereka terpuruk, karena mereka hanya mampu menerima bantuan duit, bantuan biaya pendidikan gratis, tapi tidak mampu menerima bantuan motivasi hidup, bantuan ilmu pemberdayaan diri. Padahal bantuan duit, hakikatnya tidak akan pernah membantu perubahan hidup mereka," pungkasnya.

Nah orang kaya lebih mampu menerima ilmu, mampu membentuk karakter diri. Contoh di dunia training pemberdayaan diri. Mungkin 98% peserta workshop adalah orang kaya. Demi ilmu pemberdayaan diri, mereka rela bayar jutaan rupiah hanya untuk dapatkan ilmu sehari. Tidak digratisi, tidak disubsidi, mereka sadar sepenuhnya bahwa ilmu harganya mahal, ilmu itu layak dihargai, bagi mereka uang remeh saja untuk membayar ilmu. Mereka doyan ilmu, mereka doyan karakter diri, tapi tidak doyan duit, maka itu mereka kaya.

Itulah mengapa Nabi S.A.W berkata kalau kekayaan itu sebenarnya adalah kaya hati.
أنَّ النبيَّ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يقول : (( اللَّهُمَّ إنِّي أسْألُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membaca do'a: “Ya Allah, saya memohon petunjuk kepada-Mu, memohon ketakwaan, terjaga dari hal-hal haram, dan memohon kekayaan hati." (H.R. Muslim).


Mau tau rahasia sukses bisnis bersama suami/istri? Like/Follow:
INSTAGRAM: Fenny Ferawati

Info dan kerjasama silakan klik disini.

Baca juga:

Comments

Artikel Terpopuler

Menikah dan Memahami Pasangan

Ciptaan Allah yang satu ini sungguh luar biasa indahnya. Sebuah perpaduan warna yang tak satu mahluk pun mampu membuatnya, meski berbeda namun selalu kompak dan harmonis. Kehidupan pernikahan bisa diibaratkan sebuah pelangi. Tak jarang banyak perbedaan karakter, mindset, latar belakang kehidupan, pendidikan dan berbagai macam ketidaksamaan. Namun satu hal, bagaimana semua itu terlihat mempesona.
Angan yang terlalu melambung tinggi ketika memimpikan sosok pasangan yang super lembut, sabar, bijaksana dan selalu mencintai pasangan. Namun ketika realita berkata lain, pantaskah pasutri berfikir untuk segera mengakhiri fragmen kehidupan pernikahan?
Episode kehidupan Asma binti Abu Bakar dengan Zubair bin Awwam kiranya cukup menjadi pelajaran berharga. Betapa rumah tangga mereka tetap solid meski kemiskinan dan kesulitan hidup tak lepas dari hari-harinya.
Asma harus berjuang membawa air dan merawat kuda. Sungguh keikhlasan itulah yang telah membuat cinta mereka bersatu. Sementara Zubair adalah …

Menyikapi Tabiat Pasangan

Seorang teman mengeluhkan sikap dan tabiat suaminya yang menurutnya egois dan kekanak-kanakan. Teman ini merasa menyesal telah menikah dengan suaminya.
Setahu saya sikap, karakter, atau kebiasaan tidak tercipta semalam dan juga tidak bisa berubah hanya semalam. Apa yang ditunjukkan suaminya saat ini, dalam pemahaman saya, sebenarnya telah ditunjukkan dulu waktu sebelum menikah.

"Apakah suamimu baru sekarang ini sikap dan perilakunya seperti yang kamu keluhkan?" tanya saya.
"Oh.. sudah dari dulu" jawabnya.
"Sejak masih pacaran ya," tanya saya lagi.
"Ya...." jawab teman.
"Lha... kalau sudah tahu begini kok ya diteruskan sampai nikah?" tanya saya penasaran.
"Saya pikir nanti kalau sudah nikah dia bisa berubah. Ternyata tidak mau berubah dan malah tambah parah. Katanya suami, dia sejak lahir ya seperti ini. Suami bilang saya harus menerima dia apa adanya," keluhnya.
Memang demikianlah yang sering terjadi. Kita berharap pasangan be…

Peran Ayah Dalam Pendidikan Anak

Al-Qur’an menyebutkan beberapa kisah ayah bersama anaknya. Diantaranya adalah kisah Nabi Ibrahim, Nabi Nuh, Ya’qub dalam surat Al- Baqoroh 132-133, QS. Luqman 12-19, QS. Yusuf. Proses pendidikan bukan hanya terjadi pada kita saja, akan tetapi terjadi pula pada para Nabi dan Rasul. Ketika kita membaca kisah Nabi Ibrahim yang sabar dalam menjalankan perintah Allah. Hajar yang tegar, dan Ismail yang sabar. Pertanyaannya apakah pengorbanan mereka datang secara kebetulan atau melalui proses tarbiyah (pendidkan)?
Jika contoh diatas ada pada Nabi dan Rasul. Maka beda halnya dengan Luqman. Dia adalah hamba Allah yang shalih. Berkat keshalihannya Allah berikan padanya kata-kata hikmah yang menghiasi lembaran Al-Qur’an. Nasihat Luqman yang ia berikan kepada anaknya dan menjadi pelajaran bagi kita.
وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kep…

Suami dan Keridhoannya

(Nasehat indah dari Ustadz Nasrullah Gontor)
Ada seorang ibu, mau cerai dari suaminya. Lalu dia diskusi panjang dengan saya.... + Pak Nas, saya sudah nggak kuat dengan suami saya. Saya mau cerai saja...
-: emangnya kenapa bu? + ya suami saya udah nggak ada kerjanya, nggak kreatif, nggak bisa jadi pemimpin untuk anak2. Nanti gimana anak2 saya kalau ayahnya modelnya kayak begitu. Saya harus cari nafkah capek2 dia santai aja di rumah.

-: oh gitu, cuma itu aja? + sebenarnya masih banyak lagi, tapi ya itu mungkin sebab yang paling utama.
-: oooh... iya... mau tahu pandangan saya nggak bu? + boleh pak Nas.

-: gini... ibarat orang punya kulkas, tapi dipakainya untuk lemari pakaian, ya akhirnya nggak bakal puas dengan produk kulkas tersebut. Sudahlah nggak muat banyak, nggak ada gantungan pakaiannya, nggak ada lacinya, nggak  bisa dikunci, malah boros listrik...
Nah... itulah kalau kita pakai produk nggak sesuai fungsi. Sebagus apapun produknya kalau dipakai tidak sesuai peruntukannya ya nggak ak…

10 Sifat Istri yang Membuat Rejeki Mengalir Deras

Banyak suami yang mungkin tidak tahu kalau rejekinya dengan izin Allah mengalir lancar atas peran istri. Memang tidak dapat dilihat secara kasat mata, tetapi dapat dijelaskan secara spiritual kalau 10 karakter istri ini ‘membantu’ menghadirkan rejeki untuk suami dan rumah tangganya.
1. Istri yang pandai bersyukur Istri yang bersyukur atas semua karunia Allah pada hakikatnya dia sedang mengundang tambahan nikmat untuk suaminya. Termasuk juga rejeki. Miliki suami, bersyukur. Jadi ibu, bersyukur. Anak-anak dapat mengaji, bersyukur. Suami memberi nafkah, bersyukur.
2. Istri yang tawakal kepada Allah Di waktu seseorang bertawakkal pada Allah, Allah akan mencukupi rejekinya. “Dan barangsiapa yang bertawakkal pada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya.” (QS. Ath Thalaq : 3). Bila seseorang istri bertawakkal pada Allah, sementara dia tidak bekerja, dari mana dia dicukupkan rejekinya. Allah akan mencukupkannya dari jalan lain, tidak selamanya harus langsung diberikan pada wanit…