Skip to main content

Jangan Membonsai Anak

Fenny Ferawati di masa kecil
Sebuah Catatan Parenting oleh Muhammad Nurul Banan
Saya pernah ditegur oleh nenek buyut anak saya, Hissi Billaura Fasyarizan. Pasalnya Hissi waktu itu ikut sopir jemput nenek buyutnya ke kampung halaman saya. Saya dan istri tidak ikut. Pulangnya, di mobil Hissi duduk di kursi depan. Hissi yang masih usia dini, sepanjang jalan kaki Hissi naik ke dashboard mobil. Hahaha saya juga tidak bisa bayangkan bagaimana kacaunya.

Sampai di rumah saya, nenek buyut langsung bicarakan Hissi dengan menegur saya. "Iya, Nek, saya belum mau menerapkan etika ketat-ketat pada anak," jelas saya pelan.

"Kalau tubuh Nenek, saya ikat tali kuat-kuat, apa Nenek bisa bergerak?" tanya saya melanjutkan. Nenek jawab dengan gelengkan kepala. "Mengetati aturan ini dan itu pada anak di usia dini, yakni anak didoktrin agar penurut, itu artinya sedang mengikat emosi anak agar terbatas geraknya. Di situ ada sistem boikot emosi yang diterapkan pada anak. Anak di usia dini adalah tumbuhan yang baru ditanam, daun dan akarnya baru mulai tumbuh. Akar baru mulai tumbuh segera dipindah ke pot yang memiliki ruang terbatas, ya jelas akarnya tidak dapat bertumbuh bebas. Ke kanan, ke kiri, ke atas, ke bawah, semua dibatasi ruang pot," terang saya.

"Anak di usia dini emosinya baru bertumbuh kemudian langsung dimasukkan ke dalam pot etika-etika orang dewasa, itu sama saja sedang membonsai emosi anak. Dalam hypnosis, anak usia dini masih kerap memakai pikiran bawah sadarnya. Nah di usia dini ini kalau orang tua rajin mendoktrin agar anaknya penurut, maka akan menjadi sugesti pikiran bawah sadarnya, selanjutnya terblokirlah pikiran bawah sadarnya dengan keharusan menurut tersebut. Dan itu sama saja membonsai pertumbuhan emosi anak," lanjut saya.

"Nanti di usia 7 tahun, saat Hissi sudah tidak dominan dengan pikiran bawah sadarnya baru saya ketati untuk beretika baik," tutup penjelasan saya. Kemudian nenek buyut berkata, "Orang tua sekarang makin modern cara didiknya, kalau orang tua dulu lah tahunya anak baik berarti anak yang nurut."

Anak yang pikiran bawah sadarnya terbonsai emosinya dengan doktrin "nurut", cenderung tidak mampu menyelesaikan tanggung jawabnya sendiri. Saya pernah diceritai seorang sahabat, waktu dia masih SD paling stres kalau ditugasi guru menaruh buku absensi ke meja guru di kantor sekolah.

Masalahnya waktu itu dia tidak tahu meja guru yang dimaksud untuk naruh absensi itu meja yang mana. Sampai di depan kantor sekolah dia cuma bisa gelisah dan stres, tidak punya inisiatif mengambil tindakan, tidak tahu apa yang harus dia lakukan untuk menyelesaikan ketidaktahuannya dimana meja guru yang dituju.

Bagi Anda sederhana sekali penyelesaiannya, tinggal ketuk pintu kantor, tanyakan dimana meja guru ini untuk menaruh absensi, tapi karena dia terblokir pikiran bawah sadarnya akhirnya dia cuma bisa stres di depan kantor sekolah.

Latar belakang dia terblokir inisiatifnya untuk menyelesaikan tugasnya sendiri ternyata sejak bayi dia diketati harus jadi anak penurut oleh ibunya, apa-apa diatur, apa-apa harus ibunya yang menentukan keputusan, sehingga menghadapi tugas di sekolah masih menunggu ibunya untuk memberi ide jalan keluar.

Saya sendiri mengamati, anak-anak didoktrin ketat agar nurut, pada saat mereka dewasa dan sudah dibebani suatu tanggung jawab hidup, mereka cenderung tidak punya ide kreatif untuk mengembangkannya, apalagi ide untuk memajukan di luar dirinya, untuk memajukan dirinya sendiri saja dia bisa tidak punya pendapat.

Mereka juga kesulitan berkomunikasi baik dengan orang-orang di sekitarnya. Mereka sering "salah pasang badan", harusnya dia asor, malah dia menentang, harusnya menentang malah dia asor, harusnya merangkul malah memukul, harusnya memukul malah merangkul, dan seterusnya. Dia gugup dalam berkomunikasi secara sosial.

Yang paling repot ketika dia dapat posisi jadi pemimpin, dia bisa seperti monyet kecil ditinggal induknya, tidak bisa mengambil tindakan dan keputusan, kesulitan memengaruhi orang lain.

Bonsai emosi terjadi pada diri si anak, karena emosinya terblokir, di pikiran bawah sadarnya masih menunggu kehadiran orang tuanya untuk mengambil keputusan atas masalahnya.

Ciri anak yang terbonsai emosinya, pada anak cowok biasanya di usia remaja hingga dewasanya, dia masih suka "rantang-runtung" dengan orang tuanya, orang tuanya pergi kemana, dia ikut, kalau keluar rumah masih suka nempel orang tuanya, persis anak usia dini. Padahal remaja atau anak dewasa sudah waktunya tidak selera lagi berada di lingkungan orang tuanya, dia sudah waktunya "keluar rumah", tidak kemudian mau pergi saja nunggu mama dan papa.

Anak cowok Anda suka ngeluyur tidak pamitan? Enggan diajak pergi bareng dengan Anda? Ya itulah anak remaja dan anak dewasa yang berkembang emosinya. Mungkin Anda sering gelisah ketika anak Anda pergi sampai sehari semalam tidak pulang, tapi itulah realitasnya anak berkembang emosinya.

Pada anak cewek biasanya diindikasikan terjadinya kepribadian ganda. Di depan orang tuanya sangat menurut dan taat, ketika di luar rumah dia baru cengengesan berekspresi. Dirinya ada 2; satu pribadi kalem saat di dalam rumah, satu gaya "cute" di luar rumahnya.

Prilaku membonsai emosi anak sangat pengaruh akurat bagi pertumbuhan emosi anak saat dia di usia dini karena si anak di usia tersebut masih lebih dominan menggunakan pikiran bawah sadar. Akibatnya di masa depan pada saat si anak sudah harus mengambil keputusan sendiri, dia bisa tidak punya ide, karena pikiran bawah sadarnya masih menunggu keputusan dari orang tuanya. Ya kalau orang tuanya ada di dekatnya, kalau sudah pisah jauh? Atau sudah ditinggal mati?

Nabi S.A.W pun tidak pernah ketat-ketat mengajarkan kepada anak usia dini untuk nurut. Nabi S.A.W tidak pernah mengikat anak usia dini dengan etika tinggi.

Saat S.A.W menjadi imam shalat, para makmum heran karena sujud beliau jauh lebih lama ketimbang biasanya. Mereka mengira terjadi sesuatu pada Nabi, namun ternyata tidak terjadi apa-apa, "Aku ditunggangi cucuku, maka aku tidak mau tergesa-gesa sampai dia puas,” terang Nabi S.A.W.

Seorang nabi mulia sedang shalat ditunggangi cucu balitanya, Hasan dan Husain, tapi Nabi S.A.W memang bukan pembonsai anak, beliau tidak mampu membatasi akar emosi cucunya yang baru bertumbuh.

Abu Dzar saat itu bersama sahabat-sahabatnya duduk berbincang dengan Rasulullah S.A.W, tiba-tiba kedua cucu beliau, Hasan dan Husain, datang dan menaiki punggung kakeknya. Setelah selesai bincang-bincang, Rasulullah pun meminta kepada kedua cucu kesayangannya untuk turun. “Wahai cucuku sayang, turunlah,” pinta Rasulullah.

Ali bin Abi Thalib sebagai ayah menatap tajam kepada putra-putranya tanda tidak berkenan sehingga membuat Hasan dan Husain takut, dan akhirnya keduanya turun dari punggung Rasulullah S.A.W. Rasulullah SAW pun bertanya kepada kedua cucunya, “Kenapa kalian gemetar, Cucuku?” Tanya Nabi. “Kami takut pada ayah,” jawab polos Hasan dan Husain.

Ali pun memberi pelajaran dengan memukul pelan paha kedua anaknya dan menasihati dengan nada sedikit tinggi, “Bersopan-santunlah kalian ketika ada tamu, Putraku,” tegur Ali.

Rasulullah pun berkata, “Wahai menantuku, Ali, janganlah kamu bentak Hasan dan Husain, karena mereka adalah buah hatiku.”

Ali pun langsung menundukan kepala dan berkata dengan penuh penghormatan, “Ya”.

Jibril datang dan menegur Nabi S.A.W, “Wahai Muhammad, tindakan Ali adalah benar. Rawatlah dan berilah lah nama yang bagus, dan perbaikilah gizi anak-anakmu, karena di akhirat nanti anak-anakmu akan memberi pertolongan,” pesan Malaikat Jibril.

Ketika mendengar teguran dan pesan tesebut, Rasulullah bersabda, “Wahai Kaum Muslimin, barangsiapa yang diberi anak oleh Allah, maka wajib baginya mengajarkan sopan santun dan mendidiknya dengan baik. Bilamana hal itu dilakukannya, maka Allah akan menerima permohonan syafa’at anaknya. Tapi barang siapa yang membiarkan anaknya bodoh, tidak mengenal agama, suka melakukan pelanggaran serta tidak berakhlak, maka setiap pelanggaran dan dosa yang dilakukan anak-anaknya, orang tua ikut menanggungnya”.

Itu artinya, mengajarkan etika pada anak itu keharusan, tapi tidak dengan membonsai emosinya, bukan dengan doktrin, "Kamu harus nurut".

Ketika anak sudah tidak di usia dini lagi, sudah usia sekolah baru orang tua diperbolehkan memberikan aturan-aturan ketat keetikaan, maka ini Nabi S.A.W memerintahkan Anda memukul anak Anda—tentu bukan pukulan yang menyakiti tubuh—ketika si anak tidak mau shalat namun itu berlaku sesudah usia mumayyiz yakni usia pasca usia dini.

Mau tau rahasia sukses bisnis bersama suami/istri? Like/Follow:
INSTAGRAM: Ustadzah Fenny Ferawati

Info dan kerjasama silakan klik disini.

Baca juga:

Comments

Artikel Terpopuler

Menikah dan Memahami Pasangan

Ciptaan Allah yang satu ini sungguh luar biasa indahnya. Sebuah perpaduan warna yang tak satu mahluk pun mampu membuatnya, meski berbeda namun selalu kompak dan harmonis. Kehidupan pernikahan bisa diibaratkan sebuah pelangi. Tak jarang banyak perbedaan karakter, mindset, latar belakang kehidupan, pendidikan dan berbagai macam ketidaksamaan. Namun satu hal, bagaimana semua itu terlihat mempesona.
Angan yang terlalu melambung tinggi ketika memimpikan sosok pasangan yang super lembut, sabar, bijaksana dan selalu mencintai pasangan. Namun ketika realita berkata lain, pantaskah pasutri berfikir untuk segera mengakhiri fragmen kehidupan pernikahan?
Episode kehidupan Asma binti Abu Bakar dengan Zubair bin Awwam kiranya cukup menjadi pelajaran berharga. Betapa rumah tangga mereka tetap solid meski kemiskinan dan kesulitan hidup tak lepas dari hari-harinya.
Asma harus berjuang membawa air dan merawat kuda. Sungguh keikhlasan itulah yang telah membuat cinta mereka bersatu. Sementara Zubair adalah …

Menyikapi Tabiat Pasangan

Seorang teman mengeluhkan sikap dan tabiat suaminya yang menurutnya egois dan kekanak-kanakan. Teman ini merasa menyesal telah menikah dengan suaminya.
Setahu saya sikap, karakter, atau kebiasaan tidak tercipta semalam dan juga tidak bisa berubah hanya semalam. Apa yang ditunjukkan suaminya saat ini, dalam pemahaman saya, sebenarnya telah ditunjukkan dulu waktu sebelum menikah.

"Apakah suamimu baru sekarang ini sikap dan perilakunya seperti yang kamu keluhkan?" tanya saya.
"Oh.. sudah dari dulu" jawabnya.
"Sejak masih pacaran ya," tanya saya lagi.
"Ya...." jawab teman.
"Lha... kalau sudah tahu begini kok ya diteruskan sampai nikah?" tanya saya penasaran.
"Saya pikir nanti kalau sudah nikah dia bisa berubah. Ternyata tidak mau berubah dan malah tambah parah. Katanya suami, dia sejak lahir ya seperti ini. Suami bilang saya harus menerima dia apa adanya," keluhnya.
Memang demikianlah yang sering terjadi. Kita berharap pasangan be…

Peran Ayah Dalam Pendidikan Anak

Al-Qur’an menyebutkan beberapa kisah ayah bersama anaknya. Diantaranya adalah kisah Nabi Ibrahim, Nabi Nuh, Ya’qub dalam surat Al- Baqoroh 132-133, QS. Luqman 12-19, QS. Yusuf. Proses pendidikan bukan hanya terjadi pada kita saja, akan tetapi terjadi pula pada para Nabi dan Rasul. Ketika kita membaca kisah Nabi Ibrahim yang sabar dalam menjalankan perintah Allah. Hajar yang tegar, dan Ismail yang sabar. Pertanyaannya apakah pengorbanan mereka datang secara kebetulan atau melalui proses tarbiyah (pendidkan)?
Jika contoh diatas ada pada Nabi dan Rasul. Maka beda halnya dengan Luqman. Dia adalah hamba Allah yang shalih. Berkat keshalihannya Allah berikan padanya kata-kata hikmah yang menghiasi lembaran Al-Qur’an. Nasihat Luqman yang ia berikan kepada anaknya dan menjadi pelajaran bagi kita.
وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kep…

Suami dan Keridhoannya

(Nasehat indah dari Ustadz Nasrullah Gontor)
Ada seorang ibu, mau cerai dari suaminya. Lalu dia diskusi panjang dengan saya.... + Pak Nas, saya sudah nggak kuat dengan suami saya. Saya mau cerai saja...
-: emangnya kenapa bu? + ya suami saya udah nggak ada kerjanya, nggak kreatif, nggak bisa jadi pemimpin untuk anak2. Nanti gimana anak2 saya kalau ayahnya modelnya kayak begitu. Saya harus cari nafkah capek2 dia santai aja di rumah.

-: oh gitu, cuma itu aja? + sebenarnya masih banyak lagi, tapi ya itu mungkin sebab yang paling utama.
-: oooh... iya... mau tahu pandangan saya nggak bu? + boleh pak Nas.

-: gini... ibarat orang punya kulkas, tapi dipakainya untuk lemari pakaian, ya akhirnya nggak bakal puas dengan produk kulkas tersebut. Sudahlah nggak muat banyak, nggak ada gantungan pakaiannya, nggak ada lacinya, nggak  bisa dikunci, malah boros listrik...
Nah... itulah kalau kita pakai produk nggak sesuai fungsi. Sebagus apapun produknya kalau dipakai tidak sesuai peruntukannya ya nggak ak…

10 Sifat Istri yang Membuat Rejeki Mengalir Deras

Banyak suami yang mungkin tidak tahu kalau rejekinya dengan izin Allah mengalir lancar atas peran istri. Memang tidak dapat dilihat secara kasat mata, tetapi dapat dijelaskan secara spiritual kalau 10 karakter istri ini ‘membantu’ menghadirkan rejeki untuk suami dan rumah tangganya.
1. Istri yang pandai bersyukur Istri yang bersyukur atas semua karunia Allah pada hakikatnya dia sedang mengundang tambahan nikmat untuk suaminya. Termasuk juga rejeki. Miliki suami, bersyukur. Jadi ibu, bersyukur. Anak-anak dapat mengaji, bersyukur. Suami memberi nafkah, bersyukur.
2. Istri yang tawakal kepada Allah Di waktu seseorang bertawakkal pada Allah, Allah akan mencukupi rejekinya. “Dan barangsiapa yang bertawakkal pada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya.” (QS. Ath Thalaq : 3). Bila seseorang istri bertawakkal pada Allah, sementara dia tidak bekerja, dari mana dia dicukupkan rejekinya. Allah akan mencukupkannya dari jalan lain, tidak selamanya harus langsung diberikan pada wanit…