Skip to main content

Tips Mengatasi Campur Tangan Mertua

fenny ferawati
Pertikaian ataupun ketidakcocokan antara mertua dan menantu adalah hal yang umum terjadi.  Begitu umumnya hal ini, sehingga terkadang mereka yang tidak memiliki masalah dengan mertua dianggap sebagai orang-orang yang beruntung.

Apa saja yang umumnya menjadi sumber permasalahan antara mertua dan menantu? Berikut adalah lima pemicu yang sering dijumpai:
 1. Segala sesuatu terkait cucu (waktu untuk punya anak, cara membesarkan anak, cara memberikan disiplin, cara memberikan makan, dll)
2. Finansial (bantuan keuangan ataupun pinjaman yang diberikan tanpa sepengetahuan pasangan atau tanpa persetujuan pasangan)
3. Keyakinan bahwa anaknya seharusnya bisa mendapatkan pasangan yang lebih baik daripada menantunya
4. Merasa yakin lebih tahu bagaimana caranya mengelola rumah tangga dari pada menantunya
5. Hal-hal lainnya yang menyangkut ketidakcocokan kepribadian, kebiasaan, ataupun nilai-nilai budaya dan agama

Nah, tentunya mesti ada jalan keluar jitu yang perlu diambil agar hubungan antara keluarga dapat selalu terjaga dengan baik. Siapa sih yang tidak ingin hubungan dengan keluarga harmonis. 

Hubungan yang tidak harmonis dengan mertua biasanya akan mempengaruhi pola hubungan anak dengan eyangnya dan juga dengan pasangan kita sendiri.

Perhatikan contoh pertikaian antara pasangan berikut:
“Rasanya marah, sedih, kecewa, dan merasa dikhianati, ketika melihat Adi membela ibunya dan memintaku yang mengalah. Adi harusnya tahu ketika dia menikah, dia menikah denganku, bukan dengan ibunya. Kenapa dia selalu memihak ibunya?”

“Fera seharusnya bisa sabar. Semua orang tua itu maksudnya pasti baik. Tidak mungkin ada orang tua yang bermaksud mencelakakan. Saya yakin ibu juga tidak bermaksud seperti yang dituduhkan Fera. Fera harus bisa lebih sopan dalam menghadapi Ibu. Namanya juga orang tua, pasti akan tersinggung dan marah jika dihadapi dengan muka cemberut seperti itu.”

Apakah perasaan Fera valid? Apakah perasaan Adi salah? Dalam banyak kasus, tidak ada jawaban yang tegas antara mana yang benar dan mana yang salah. Karena dalam banyak kasus kedua sudut pandang ini datang dari niat yang baik. 

Poinnya di sini adalah pertikaian seharusnya tidak membuat pasangan kita memilih antara yang satu dan yang lain. Pilihan seperti ini akan membuat pasangan ada dalam dalam dilema yang sangat besar dan mungkin saja akan membawa penyesalan di kemudian hari.

Jadi, apa yang bisa dilakukan oleh pasangan dan seorang menantu dalam menghadapi mertua yang suka campur tangan?
Kompaklah dengan pasangan dan buat aturan-aturan main yang bisa disepakati bersama 
Sampaikan dengan baik pada pasangan apa saja hal-hal yang mulai dirasakan mengganggu dan diskusikan solusinya. Yang perlu diingat adalah percapakan dengan pasangan dilakukan untuk mencari solusi, bukan untuk saling menyalahkan atau belum-belum sudah menuduh pasangan kita memihak pada yang lain.  

Contoh cara menyampaikan sebuah masalah dan mendiskusikan solusi: “Kita tahu mama dan papa sayang sekali pada Wawan dan sering membelikan wawan mainan-mainan mahal. Bagaimana sebaiknya menghadapi ini ya, aku juga tidak mau Wawan tidak menghargai pemberian atau barang karena merasa mudah untuk mendapatkannya. Apakah mungkin kita berikan aturan bahwa pemberian hadiah hanya bisa dilakukan pada hari-hari istimewa saja? Bagaimana menurutmu, mas?”

Sampaikan hasil-hasil kesepakatan bersama ini pada mertua dengan baik
Piawailah dalam berdiplomasi. Salah satu cara yang bisa digunakan misalnya adalah dengan membuka diskusi untuk mencari tahu pendapat mertua tentang suatu maksud yang ingin dicapai. 

Contohnya: Utarakan bahwa maksud dari kesepakatan ini adalah untuk menerapkan disiplin dan agar wawan tumbuh menjadi anak yang dapat bertanggung jawab, seperti mertua dulu ketika membesarkan anak-anaknya. 

“Sayang kan ma, mainan mahal-mahal, ternyata langsung rusak sekali dua kali main karena dibanting-banting. Fera ingin Wawan tumbuh menjadi laki-laki yang bertanggung jawab seperti mas Adi. Bagaimana cara mama dulu memberikan disiplin pada mas Adi?”

Berkomitmen dengan kesepakatan yang sudah dibuat
Jika kesepakatan sudah dibuat dan sudah dikemukakan, yang berikutnya adalah penegakan kesepakatan. Jangan sungkan-sungkan untuk mengingatkan dengan baik, “Ma, hadiahnya Fera simpan dulu ya sampai akhir bulan ini, biar ada momennya untuk memberikan hadiah pada Wawan.”

Berusahalah untuk tetap santun dalam segala kondisi
Mungkin yang kita hadapi situasi yang sangat sulit, namun mertua adalah orang tua. Terlebih lagi yang paling penting, mertua adalah orang tua pasangan kita. 

Pasangan kita bisa menjadi seperti dirinya sekarang karena orang tuanya. Tak ada alasan kita untuk kehilangan kesopanan. Carilah cara untuk mengendalikan emosi dengan baik. Tak akan ada hasil yang baik yang bisa dicapai dengan emosi.

Selalu punya rasa humor yang baik
Dalam segala kondisi yang sulit, memiliki dan memelihara rasa humor adalah salah satu manajemen perasaan yang efektif.  Melihat sesuatudengan lensa humor bukan berarti sesuatu itu berkurang nilai pentingnya namun lebih sebagai upaya untuk membangun dan memperkuat relasi.


Mau tau rahasia sukses bisnis bersama suami/istri? Like/Follow:
INSTAGRAM: Ustadzah Fenny Ferawati

Info dan kerjasama silakan klik disini.

Baca juga:

Comments

Artikel Terpopuler

Menikah dan Memahami Pasangan

Ciptaan Allah yang satu ini sungguh luar biasa indahnya. Sebuah perpaduan warna yang tak satu mahluk pun mampu membuatnya, meski berbeda namun selalu kompak dan harmonis. Kehidupan pernikahan bisa diibaratkan sebuah pelangi. Tak jarang banyak perbedaan karakter, mindset, latar belakang kehidupan, pendidikan dan berbagai macam ketidaksamaan. Namun satu hal, bagaimana semua itu terlihat mempesona.
Angan yang terlalu melambung tinggi ketika memimpikan sosok pasangan yang super lembut, sabar, bijaksana dan selalu mencintai pasangan. Namun ketika realita berkata lain, pantaskah pasutri berfikir untuk segera mengakhiri fragmen kehidupan pernikahan?
Episode kehidupan Asma binti Abu Aakar dengan Zubair bin Awwam kiranya cukup menjadi pelajaran berharga. Betapa rumah tangga mereka tetap solid meski kemiskinan dan kesulitan hidup tak lepas dari hari-harinya.
Asma harus berjuang membawa air dan merawat kuda. Sungguh keikhlasan itulah yang telah membuat cinta mereka bersatu. Sementara Zubair adalah …

Menyikapi Tabiat Pasangan

Seorang teman mengeluhkan sikap dan tabiat suaminya yang menurutnya egois dan kekanak-kanakan. Teman ini merasa menyesal telah menikah dengan suaminya.
Setahu saya sikap, karakter, atau kebiasaan tidak tercipta semalam dan juga tidak bisa berubah hanya semalam. Apa yang ditunjukkan suaminya saat ini, dalam pemahaman saya, sebenarnya telah ditunjukkan dulu waktu sebelum menikah.

"Apakah suamimu baru sekarang ini sikap dan perilakunya seperti yang kamu keluhkan?" tanya saya.
"Oh.. sudah dari dulu" jawabnya.
"Sejak masih pacaran ya," tanya saya lagi.
"Ya...." jawab teman.
"Lha... kalau sudah tahu begini kok ya diteruskan sampai nikah?" tanya saya penasaran.
"Saya pikir nanti kalau sudah nikah dia bisa berubah. Ternyata tidak mau berubah dan malah tambah parah. Katanya suami, dia sejak lahir ya seperti ini. Suami bilang saya harus menerima dia apa adanya," keluhnya.
Memang demikianlah yang sering terjadi. Kita berharap pasangan be…

Peran Ayah Dalam Pendidikan Anak

Al-Qur’an menyebutkan beberapa kisah ayah bersama anaknya. Diantaranya adalah kisah Nabi Ibrahim, Nabi Nuh, Ya’qub dalam surat Al- Baqoroh 132-133, QS. Luqman 12-19, QS. Yusuf. Proses pendidikan bukan hanya terjadi pada kita saja, akan tetapi terjadi pula pada para Nabi dan Rasul. Ketika kita membaca kisah Nabi Ibrahim yang sabar dalam menjalankan perintah Allah. Hajar yang tegar, dan Ismail yang sabar. Pertanyaannya apakah pengorbanan mereka datang secara kebetulan atau melalui proses tarbiyah (pendidkan)?
Jika contoh diatas ada pada Nabi dan Rasul. Maka beda halnya dengan Luqman. Dia adalah hamba Allah yang shalih. Berkat keshalihannya Allah berikan padanya kata-kata hikmah yang menghiasi lembaran Al-Qur’an. Nasihat Luqman yang ia berikan kepada anaknya dan menjadi pelajaran bagi kita.
وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kep…

Suami dan Keridhoannya

(Nasehat indah dari Ustadz Nasrullah Gontor)
Ada seorang ibu, mau cerai dari suaminya. Lalu dia diskusi panjang dengan saya.... + Pak Nas, saya sudah nggak kuat dengan suami saya. Saya mau cerai saja...
-: emangnya kenapa bu? + ya suami saya udah nggak ada kerjanya, nggak kreatif, nggak bisa jadi pemimpin untuk anak2. Nanti gimana anak2 saya kalau ayahnya modelnya kayak begitu. Saya harus cari nafkah capek2 dia santai aja di rumah.

-: oh gitu, cuma itu aja? + sebenarnya masih banyak lagi, tapi ya itu mungkin sebab yang paling utama.
-: oooh... iya... mau tahu pandangan saya nggak bu? + boleh pak Nas.

-: gini... ibarat orang punya kulkas, tapi dipakainya untuk lemari pakaian, ya akhirnya nggak bakal puas dengan produk kulkas tersebut. Sudahlah nggak muat banyak, nggak ada gantungan pakaiannya, nggak ada lacinya, nggak  bisa dikunci, malah boros listrik...
Nah... itulah kalau kita pakai produk nggak sesuai fungsi. Sebagus apapun produknya kalau dipakai tidak sesuai peruntukannya ya nggak ak…

10 Sifat Istri yang Membuat Rejeki Mengalir Deras

Banyak suami yang mungkin tidak tahu kalau rejekinya dengan izin Allah mengalir lancar atas peran istri. Memang tidak dapat dilihat secara kasat mata, tetapi dapat dijelaskan secara spiritual kalau 10 karakter istri ini ‘membantu’ menghadirkan rejeki untuk suami dan rumah tangganya.
1. Istri yang pandai bersyukur Istri yang bersyukur atas semua karunia Allah pada hakikatnya dia sedang mengundang tambahan nikmat untuk suaminya. Termasuk juga rejeki. Miliki suami, bersyukur. Jadi ibu, bersyukur. Anak-anak dapat mengaji, bersyukur. Suami memberi nafkah, bersyukur.
2. Istri yang tawakal kepada Allah Di waktu seseorang bertawakkal pada Allah, Allah akan mencukupi rejekinya. “Dan barangsiapa yang bertawakkal pada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya.” (QS. Ath Thalaq : 3). Bila seseorang istri bertawakkal pada Allah, sementara dia tidak bekerja, dari mana dia dicukupkan rejekinya. Allah akan mencukupkannya dari jalan lain, tidak selamanya harus langsung diberikan pada wanit…