Skip to main content

Ikhlasku pada Suami

fenny ferawati
Fenny dan suami adalah pasangan yang tertaut usia cukup jauh. Beda usia diantara kamu berdua sekitar sebelas tahun. Beda usia yang sering kali membuat banyak orang berucap, “WOW” meski tidak sampai koprol. Jika mereka bertanya alasan Fenny menikah dengan laki-laki yang jauh lebih tua, Fenny menjawab dengan santai, “Supaya Fenny bisa lebih diatur. Fenny sifatnya keras. Setidaknya kalau dengan orang yang terpaut usia jauh, Fenny jadi lebih sungkan dong kalau mau ngotot bin ngeyel”. Jawaban yang terdengar konyol tapi memang itu yang menjadi salah satu alasan kuat Fenny menerima pinangan laki-laki yang melamar Fenny tersebut.

Kenyataannya memang tidak selalu seperti harapan Fenny. Sifat Fenny yang cenderung Perfeksionis Melankolis sangat bertolak belakang dengan sifat suami yang Sangunis Koleris. Di satu sisi maunya serba tepat waktu dan gampang ngambek, sedangkan sisi lain cenderung fleksibel dan kepemimpinannya kuat. Seringkali jadwal yang Fenny susun berubah total bahkan gagal kalau sudah tidak sesuai dengan jadwal dan mood suami. Drama pun berakhir dengan istri yang nangis tersedu-sedu dan suami yang melanjutkan aktivitas tanpa merasa bersalah.

Jika ditelisik memahami alasan suami yang seringkali terucap, “Lebih baik aku telat tapi berangkat dalam kondisi fit daripada berangkat tepat waktu tapi kondisinya ngantuk/capek. KESELAMATAN ITU LEBIH PENTING”. Bukan suatu pembenaran yang tepat dalam kerangka pemikiran Fenny meski ada benarnya pernyataan tersebut. Awalnya Fenny akan berargumen dan menyarankan untuk bersiap lebih awal jika hendak bepergian baik pergi sendiri atau pun berdua. Fenny pun dengan senang hati mengingatkan jadwal. Sayangnya tidak hampir tidak pernah berhasil saudara-saudara.

Ketika Fenny sudah menyerah dan tak sanggup lagi menangis, suami mendekati Fenny dan menguraikan kembali alasannya. Suami mengingatkan Fenny tentang keburukan yang terjadi jika tidak mengindahkan suami. Seringkali Fenny memang memilih berangkat pergi sendiri dan meninggalkan suami jika sudah tidak tahan. Akibatnya Fenny pun sering mengalami hal-hal yang semakin membuat tidak nyaman bahkan cenderung membahayakan. Suami meyakinkan jika mau berkompromi dengannya, Fenny akan mendapatkan lebih banyak kemudahan yang tidak terfikirkan sebelumnya. Terlepas dari paham yang diyakini para Muslim, “Ridho Allah ada pada ridho suami”, memulai segala sesuatu tanpa dibebani emosi dan ketergesaan memang lebih mendatangkan kebaikan.

Kalau sekedar mengedepankan siapa yang salah dan salah siapa tidak akan membuat problematika rumah tangga berkurang dan menuju keluarga yang sakinah mawadah wa rahmah. Suatu ketika Fenny mendapat pencerahan setalah membaca buku tentang kepribadian dimana salah satu bab membahas tentang pemahaman sifat suami istri. Perlu toleransi yang harus disepakati bersama jika tidak ingin terjadi drama bak telenovela setiap harinya.

Fenny pun belajar ikhlas terhadap suami meski beresiko terlambat dan terkadang harus siap menerima cemoohan dari keluarga atau orang-orang di sekitar. Membuka telinga lebih lebar supaya cemoohan bisa masuk telinga kiri keluar telinga kanan tanpa sempat bercokol di pikiran dan hati. Hati rasanya lebih damai dan sanggup menebalkan muka.Rupanya usaha Fenny mengikhlaskan menerima semua resiko untuk mendapatkan banyak kemudahan setelah mengikuti kemauan suami berujung kebaikan. Fenny melihat suami berusaha keras untuk mengendalikan ego. Suami sebenarnya juga tidak ingin Fenny datang terlambat dan dicemooh. Fenny jadi lebih bisa melihat kebaikan suami yang sebelumnya tertutupi dan bersyukur karenanya.


Mau tau rahasia sukses bisnis bersama suami/istri? Like/Follow:
INSTAGRAM: Ustadzah Fenny Ferawati

Info dan kerjasama silakan klik disini.

Baca juga:

Comments

Artikel Terpopuler

Menikah dan Memahami Pasangan

Ciptaan Allah yang satu ini sungguh luar biasa indahnya. Sebuah perpaduan warna yang tak satu mahluk pun mampu membuatnya, meski berbeda namun selalu kompak dan harmonis. Kehidupan pernikahan bisa diibaratkan sebuah pelangi. Tak jarang banyak perbedaan karakter, mindset, latar belakang kehidupan, pendidikan dan berbagai macam ketidaksamaan. Namun satu hal, bagaimana semua itu terlihat mempesona.
Angan yang terlalu melambung tinggi ketika memimpikan sosok pasangan yang super lembut, sabar, bijaksana dan selalu mencintai pasangan. Namun ketika realita berkata lain, pantaskah pasutri berfikir untuk segera mengakhiri fragmen kehidupan pernikahan?
Episode kehidupan Asma binti Abu Aakar dengan Zubair bin Awwam kiranya cukup menjadi pelajaran berharga. Betapa rumah tangga mereka tetap solid meski kemiskinan dan kesulitan hidup tak lepas dari hari-harinya.
Asma harus berjuang membawa air dan merawat kuda. Sungguh keikhlasan itulah yang telah membuat cinta mereka bersatu. Sementara Zubair adalah …

Menyikapi Tabiat Pasangan

Seorang teman mengeluhkan sikap dan tabiat suaminya yang menurutnya egois dan kekanak-kanakan. Teman ini merasa menyesal telah menikah dengan suaminya.
Setahu saya sikap, karakter, atau kebiasaan tidak tercipta semalam dan juga tidak bisa berubah hanya semalam. Apa yang ditunjukkan suaminya saat ini, dalam pemahaman saya, sebenarnya telah ditunjukkan dulu waktu sebelum menikah.

"Apakah suamimu baru sekarang ini sikap dan perilakunya seperti yang kamu keluhkan?" tanya saya.
"Oh.. sudah dari dulu" jawabnya.
"Sejak masih pacaran ya," tanya saya lagi.
"Ya...." jawab teman.
"Lha... kalau sudah tahu begini kok ya diteruskan sampai nikah?" tanya saya penasaran.
"Saya pikir nanti kalau sudah nikah dia bisa berubah. Ternyata tidak mau berubah dan malah tambah parah. Katanya suami, dia sejak lahir ya seperti ini. Suami bilang saya harus menerima dia apa adanya," keluhnya.
Memang demikianlah yang sering terjadi. Kita berharap pasangan be…

Peran Ayah Dalam Pendidikan Anak

Al-Qur’an menyebutkan beberapa kisah ayah bersama anaknya. Diantaranya adalah kisah Nabi Ibrahim, Nabi Nuh, Ya’qub dalam surat Al- Baqoroh 132-133, QS. Luqman 12-19, QS. Yusuf. Proses pendidikan bukan hanya terjadi pada kita saja, akan tetapi terjadi pula pada para Nabi dan Rasul. Ketika kita membaca kisah Nabi Ibrahim yang sabar dalam menjalankan perintah Allah. Hajar yang tegar, dan Ismail yang sabar. Pertanyaannya apakah pengorbanan mereka datang secara kebetulan atau melalui proses tarbiyah (pendidkan)?
Jika contoh diatas ada pada Nabi dan Rasul. Maka beda halnya dengan Luqman. Dia adalah hamba Allah yang shalih. Berkat keshalihannya Allah berikan padanya kata-kata hikmah yang menghiasi lembaran Al-Qur’an. Nasihat Luqman yang ia berikan kepada anaknya dan menjadi pelajaran bagi kita.
وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kep…

Suami dan Keridhoannya

(Nasehat indah dari Ustadz Nasrullah Gontor)
Ada seorang ibu, mau cerai dari suaminya. Lalu dia diskusi panjang dengan saya.... + Pak Nas, saya sudah nggak kuat dengan suami saya. Saya mau cerai saja...
-: emangnya kenapa bu? + ya suami saya udah nggak ada kerjanya, nggak kreatif, nggak bisa jadi pemimpin untuk anak2. Nanti gimana anak2 saya kalau ayahnya modelnya kayak begitu. Saya harus cari nafkah capek2 dia santai aja di rumah.

-: oh gitu, cuma itu aja? + sebenarnya masih banyak lagi, tapi ya itu mungkin sebab yang paling utama.
-: oooh... iya... mau tahu pandangan saya nggak bu? + boleh pak Nas.

-: gini... ibarat orang punya kulkas, tapi dipakainya untuk lemari pakaian, ya akhirnya nggak bakal puas dengan produk kulkas tersebut. Sudahlah nggak muat banyak, nggak ada gantungan pakaiannya, nggak ada lacinya, nggak  bisa dikunci, malah boros listrik...
Nah... itulah kalau kita pakai produk nggak sesuai fungsi. Sebagus apapun produknya kalau dipakai tidak sesuai peruntukannya ya nggak ak…

10 Sifat Istri yang Membuat Rejeki Mengalir Deras

Banyak suami yang mungkin tidak tahu kalau rejekinya dengan izin Allah mengalir lancar atas peran istri. Memang tidak dapat dilihat secara kasat mata, tetapi dapat dijelaskan secara spiritual kalau 10 karakter istri ini ‘membantu’ menghadirkan rejeki untuk suami dan rumah tangganya.
1. Istri yang pandai bersyukur Istri yang bersyukur atas semua karunia Allah pada hakikatnya dia sedang mengundang tambahan nikmat untuk suaminya. Termasuk juga rejeki. Miliki suami, bersyukur. Jadi ibu, bersyukur. Anak-anak dapat mengaji, bersyukur. Suami memberi nafkah, bersyukur.
2. Istri yang tawakal kepada Allah Di waktu seseorang bertawakkal pada Allah, Allah akan mencukupi rejekinya. “Dan barangsiapa yang bertawakkal pada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya.” (QS. Ath Thalaq : 3). Bila seseorang istri bertawakkal pada Allah, sementara dia tidak bekerja, dari mana dia dicukupkan rejekinya. Allah akan mencukupkannya dari jalan lain, tidak selamanya harus langsung diberikan pada wanit…