Skip to main content

Sedekah Tanpa Alasan

sedekah
Bismilah, saya ceritakan ini tidak diniatkan sebagai riya. Bila disebut riya pun tak masalah. Saya hanya berniat membagi cerita atau sebenarnya saya ingin bertanya kepada sampean semua: benarkah di dalam sesuatu yang kita miliki itu sebenarnya ada milik orang lain?

Saya menunggu bus. Bersama saya ada sepasang istri-suami. Sang suami mengeluarkan ponsel zadul yang dari bentuknya saya tahu bunyi deringnya pun belum berupa polifonik.

"Gantilah hape saya ini untuk ongkos ke Pasuruan," kata sang suami.

Saya membuka dompet dan memberikan semua yang ada dengan menyisakan sejumlah untuk ongkos bus saya sekali jalan. Di dalam hati dan pikiran saya saat itu, tak terbetik pun konsep menolong mereka. Tidak sama sekali. Ya, semacam aksi spontan: mendengar ucapan sang suami, membuka dompet, menyisihkan untuk ongkosku sekali jalan, dan memberikannya. Saya tak diberati oleh konsep-konsep bersedekah dan lain-lain. Enteng saja seenteng menyerahkan jumlah uang yang saya hitung cukup untuk dua orang itu bayar bus dari Semarang ke Surabaya disambung ke Pasuruan.

Saya juga tak diberati kecemasan bagaimana saya pulang nanti tanpa ongkos, juga beli rokok yang kebetulan sedang tak ada di saku saya. Pikiran saya: halah nanti utang teman, beres.

"Lah ini hapenya."
"Bawa saja, Pak."

Bus saya datang. Saya pamit pada mereka. Di dalam bus saya menyesalkan kenapa uang di dompet saya saat itu hanya cukup untuk ongkos bus. Kenapa saya tidak bawa lebih? Bagaimana bila mereka haus atau lapar? Bagaimana bila kemalaman dan harus menginap?

Saya hanya bisa berdoa semoga mereka tak terlalu menderita dalam perjalanan pulang.
Teman yang saya ceritai ini secara lisan, sontak berkomentar, "Kamu ditipu. Banyak yang pakai modus seperti itu."

Saya hanya jawab, "Kalau mereka memang penipu, saya yakin duit dari dompet saya akan sampai ke yang sebenarnya memiliki. Yang paling penting saya merasa tidak tertipu."

Teman saya mengerutkan kening, "Maksud duit sampai ke pemiliknya. Kamu?"

"Ya bukan dong. Makanya dengar dulu lanjutan ceritanya."

Saya melaksanakan hajat berutang ke teman untuk ongkos pulang dan beli sebungkus rokok. Tak beberapa lama kemudian, seseorang memberi saya uang yang jumlahnya empat kali lipat dari yang telah keluar dari dompet saya. Saya tanya uang apa, dia hanya bilang, "Itu terima sajalah. Uangmu."

Alhamdulillah. Saat itu saya dapat pengetahuan baru, atau pertanyaan baru: rezeki itu kemungkinan bergerak dalam lingkaran. Uang yang di tangan musafir dari Pasuruan itu sebenarnya memang bukan uang saya. Saya tak memberi mereka ongkos. Orang yang memberi saya uang itu kemungkinan yang memang berperan mengongkosi mereka, saya hanya sebagai duta penyampai saja. Kemungkinan pula ada orang lain lagi di balik orang yang memberi saya uang.

Ya, menurut saya: dalam selembar uang 10 ribu rupiah yang misalnya kita pegang, jangan-jangan sebenarnya kita hanya boleh atau berhak hanya sepersepuluh semata.

Apa sebenarnya tujuan saya menuliskan ini? Melakukan sesuatu seturut dorongan hati tanpa diberati konsep seperti amal ibadah, menolong orang lain, atau penipuan dll, itu nikmat. Tak ada yang hilang karena dalam cerita itu saya bukannya kehilangan justru beroleh.

Disadur dari wall Saroni Asikin 👍


Mau tau rahasia sukses bisnis bersama suami/istri? Like/Follow:
INSTAGRAM: Fenny Ferawati

Info dan kerjasama silakan klik disini.

Baca juga:

Comments

Artikel Terpopuler

Menikah dan Memahami Pasangan

Ciptaan Allah yang satu ini sungguh luar biasa indahnya. Sebuah perpaduan warna yang tak satu mahluk pun mampu membuatnya, meski berbeda namun selalu kompak dan harmonis. Kehidupan pernikahan bisa diibaratkan sebuah pelangi. Tak jarang banyak perbedaan karakter, mindset, latar belakang kehidupan, pendidikan dan berbagai macam ketidaksamaan. Namun satu hal, bagaimana semua itu terlihat mempesona.
Angan yang terlalu melambung tinggi ketika memimpikan sosok pasangan yang super lembut, sabar, bijaksana dan selalu mencintai pasangan. Namun ketika realita berkata lain, pantaskah pasutri berfikir untuk segera mengakhiri fragmen kehidupan pernikahan?
Episode kehidupan Asma binti Abu Bakar dengan Zubair bin Awwam kiranya cukup menjadi pelajaran berharga. Betapa rumah tangga mereka tetap solid meski kemiskinan dan kesulitan hidup tak lepas dari hari-harinya.
Asma harus berjuang membawa air dan merawat kuda. Sungguh keikhlasan itulah yang telah membuat cinta mereka bersatu. Sementara Zubair adalah …

Menyikapi Tabiat Pasangan

Seorang teman mengeluhkan sikap dan tabiat suaminya yang menurutnya egois dan kekanak-kanakan. Teman ini merasa menyesal telah menikah dengan suaminya.
Setahu saya sikap, karakter, atau kebiasaan tidak tercipta semalam dan juga tidak bisa berubah hanya semalam. Apa yang ditunjukkan suaminya saat ini, dalam pemahaman saya, sebenarnya telah ditunjukkan dulu waktu sebelum menikah.

"Apakah suamimu baru sekarang ini sikap dan perilakunya seperti yang kamu keluhkan?" tanya saya.
"Oh.. sudah dari dulu" jawabnya.
"Sejak masih pacaran ya," tanya saya lagi.
"Ya...." jawab teman.
"Lha... kalau sudah tahu begini kok ya diteruskan sampai nikah?" tanya saya penasaran.
"Saya pikir nanti kalau sudah nikah dia bisa berubah. Ternyata tidak mau berubah dan malah tambah parah. Katanya suami, dia sejak lahir ya seperti ini. Suami bilang saya harus menerima dia apa adanya," keluhnya.
Memang demikianlah yang sering terjadi. Kita berharap pasangan be…

Peran Ayah Dalam Pendidikan Anak

Al-Qur’an menyebutkan beberapa kisah ayah bersama anaknya. Diantaranya adalah kisah Nabi Ibrahim, Nabi Nuh, Ya’qub dalam surat Al- Baqoroh 132-133, QS. Luqman 12-19, QS. Yusuf. Proses pendidikan bukan hanya terjadi pada kita saja, akan tetapi terjadi pula pada para Nabi dan Rasul. Ketika kita membaca kisah Nabi Ibrahim yang sabar dalam menjalankan perintah Allah. Hajar yang tegar, dan Ismail yang sabar. Pertanyaannya apakah pengorbanan mereka datang secara kebetulan atau melalui proses tarbiyah (pendidkan)?
Jika contoh diatas ada pada Nabi dan Rasul. Maka beda halnya dengan Luqman. Dia adalah hamba Allah yang shalih. Berkat keshalihannya Allah berikan padanya kata-kata hikmah yang menghiasi lembaran Al-Qur’an. Nasihat Luqman yang ia berikan kepada anaknya dan menjadi pelajaran bagi kita.
وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kep…

Suami dan Keridhoannya

(Nasehat indah dari Ustadz Nasrullah Gontor)
Ada seorang ibu, mau cerai dari suaminya. Lalu dia diskusi panjang dengan saya.... + Pak Nas, saya sudah nggak kuat dengan suami saya. Saya mau cerai saja...
-: emangnya kenapa bu? + ya suami saya udah nggak ada kerjanya, nggak kreatif, nggak bisa jadi pemimpin untuk anak2. Nanti gimana anak2 saya kalau ayahnya modelnya kayak begitu. Saya harus cari nafkah capek2 dia santai aja di rumah.

-: oh gitu, cuma itu aja? + sebenarnya masih banyak lagi, tapi ya itu mungkin sebab yang paling utama.
-: oooh... iya... mau tahu pandangan saya nggak bu? + boleh pak Nas.

-: gini... ibarat orang punya kulkas, tapi dipakainya untuk lemari pakaian, ya akhirnya nggak bakal puas dengan produk kulkas tersebut. Sudahlah nggak muat banyak, nggak ada gantungan pakaiannya, nggak ada lacinya, nggak  bisa dikunci, malah boros listrik...
Nah... itulah kalau kita pakai produk nggak sesuai fungsi. Sebagus apapun produknya kalau dipakai tidak sesuai peruntukannya ya nggak ak…

10 Sifat Istri yang Membuat Rejeki Mengalir Deras

Banyak suami yang mungkin tidak tahu kalau rejekinya dengan izin Allah mengalir lancar atas peran istri. Memang tidak dapat dilihat secara kasat mata, tetapi dapat dijelaskan secara spiritual kalau 10 karakter istri ini ‘membantu’ menghadirkan rejeki untuk suami dan rumah tangganya.
1. Istri yang pandai bersyukur Istri yang bersyukur atas semua karunia Allah pada hakikatnya dia sedang mengundang tambahan nikmat untuk suaminya. Termasuk juga rejeki. Miliki suami, bersyukur. Jadi ibu, bersyukur. Anak-anak dapat mengaji, bersyukur. Suami memberi nafkah, bersyukur.
2. Istri yang tawakal kepada Allah Di waktu seseorang bertawakkal pada Allah, Allah akan mencukupi rejekinya. “Dan barangsiapa yang bertawakkal pada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya.” (QS. Ath Thalaq : 3). Bila seseorang istri bertawakkal pada Allah, sementara dia tidak bekerja, dari mana dia dicukupkan rejekinya. Allah akan mencukupkannya dari jalan lain, tidak selamanya harus langsung diberikan pada wanit…