Skip to main content

Sebuah Peristiwa KDRT

pertengkaran suami istri
Beberapa waktu lalu, saya gak sengaja merekam sebuah peristiwa KDRT. Pasangan suami istri berantem di depan ATM. Frontal dan brutal.

Posisi saya yang dalam ATM gak bisa keluar karena terhalang si suami yang bersandar di pintu luar ATM dan pasrah dikeplak-keplak istrinya. Orang-orang yang lalu-lalang jangankan melerai, sekadar mendekat pun gak berani, secara si istri ini on fire, persis Asterix yang habis minum ramuan untuk mengeplak-ngeplak prajurit romawi.

Uniknya, si suami ini lengannya penuh tatto. But "dont judge a man by his tattoo". Saya mencoba husnudzon bahwa itu mungkin bukan tatto, melainkan henna yang dislokasi.

Sebenarnya gak ada niat merekam, tapi si suami menoleh ke arah saya yang lagi pegang hape, "ayo pak, rekam pak.. posting di FB, biar tau rasa perempuan ini" teriaknya menghiba di sela-sela jambakan pada rambutnya dan remasan pada mulutnya. Saya memandangnya prihatin lalu menggumam "as you wish, gaes.."

Sambil menghidupkan kamera, saya dorong pintu ATM dengan paksa, lalu menghalang-halangi sebisa mungkin dengan mencoba negosiasi serta pendekatan persuasif pada istrinya. Insting lambe turah membuat kamera hape saya tetap menyala. Tapi serba salah juga jadinya. Pengen tarik tangan istrinya atau memiting dari belakang tapi kan bukan mahrom, ntar bisa-bisa juga dituduh modus menang banyak. Dilihat dari fisik dan ucapan-ucapan yang dilontarkan, mereka memang sepertinya pasangan rumah tangga baru.

Oh iya... Ada yang capek nge-klik mau liat videonya? mending gak usah dilanjutkan deh. Gak ada faedahnya, karena itu memang cuma ilustrasi pelengkap tulisan. Videonya bukan untuk konsumsi publik. Biarlah saya simpan sendiri. Wkwk..

Timbul pertanyaan, apa yang membuat perempuan seberingas ini?

Kasus seperti ini memang banyak terjadi pada rumah tangga baru. Kalo ada istilah sindrom "baby blues" atau luapan emosi ibu pada bayi usai melahirkan, nah ini kita sebut saja "husband blues", atau kekesalan istri pada suami usai menikah. Gak usah dicari di buku psikologi kesehatan, karena ini karangan saya sendiri. Wkwk..

Kadangkala ada ekspektasi-ekspektasi indah yang dibangun saat belum menikah, ambyar setelah resmi jadi pasangan sah. Yang gak siap dengan kondisi ini, ya gagap dah. Yang belasan tahun pacaran pun gak ada jaminan ketemu chemistry setelah jadi suami istri. Jangankan awam yang gak dibentengi ilmu agama, sahabat di jaman Rasulullah saja yang notabene sebaik-baik ummat ada loh yang gak cocok dengan pasangannya dan akhirnya berpisah. Ini manusiawi. Jadi rasanya bohong kalo ada yang ngomong sudah sehati dengan pasangannya. Yang ada adalah satu di antara suami atau istri mengalah, memaklumi atau memahami sebisanya, walau dalam prakteknya pemilik akun ini juga kadang terbersit kehendak melambaikan tangan ke kamera.

Jika suami muram, pahami akar masalahnya. Jika istri ngomel, maklumi siklus periodiknya.

Kadang ada rasa jengah pada suami dalam memenuhi tanggung jawab nafkah sebagaimana jenuhnya istri mengurus anak dan rumah. Suami yang letih, mungkin butuh layanan ekstra. Istri yang lelah mungkin minta diajak ke Alfa. Ya Alloh bang..

Cemburu. Ini biasanya masalah utama di tahun-tahun pertama. Suami dan istri memang harus cemburu, tapi tentu saja dengan porsi yang wajar. Cemburu kekinian adalah istri harus cemburu jika suami melonggarkan jarak dengan teman wanita meski sebatas dunia maya, begitu pula suami yang harus cemburu jika foto selfie istri dinikmati semua pria meski sebatas dunia maya juga.

Jangankan pada manusia, ada riwayat Sayyidina Ali pernah menujukkan rasa geram pada sebatang siwak yang dianggapnya lancang memasuki rongga mulut Sayyidina Fatimah. Entah ini sekadar majas untuk menunjukkan kecintaan atau gimana, wallahu'alam. Tapi ini tentu saja ada ibrah yang bisa diambil. Bahwa hanya suami dayyuts yang gak ada rasa cemburunya. Apa itu dayyuts? cari tau dah ah.. jangan manja.

Petengkaran biasanya terjadi kalo sudah gak ada yang mau ngalah. Di saat-saat seperti inilah dibutuhkan kematangan bersikap. Jika pasangan sibuk ngoceh, jangan dibalas ngoceh. Coba diamkan dulu beberapa menit. Setelah itu angkat lalu tiriskan. Eeh, bukan.. Maksudnya endapkan. Ya, proses pengendapan ini bisa sejam, dua jam, atau bahkan semalaman. Rentang waktu pengendapan itu biasanya emosi berangsur-angsur surut. Trust me, it works. Karena syaithon menyusup pada jiwa-jiwa yang ditutupi amarah. Bagi suami cukup siapkan saja autan, karena dalam proses pengendapan itu biasanya kau harus tidur di sofa.

Nah, jika keadaan sudah memungkinkan, mintalah kesempatan untuk sekadar menjelaskan. Istri pun sebaiknya buka hati untuk mau mendengarkan. Jangan saling memotong pembicaraan. Pahamilah bahwa kalian sedang ada di dalam rumah tangga, bukan di mata najwa.

Bagaimana dengan bohong? Berbohong dalam kondisi tertentu dibolehkan dalam rumah tangga, jika itu untuk membuat keadaan lebih baik. Salah satunya adalah ketika memuji masakan istri. Alhamdulillah, kalo saya sih beruntung dapat istri jago masak. Tapi gimana dengan istri-istri yang cuma bisa masak tumis bawang? Puji aja dulu, kerongkongan mah urusan belakangan. Setelah dipuji, lanjutkanlah dengan mengendap-endap ke warteg, sebab hidup gak layak dibuat saklek.

Intinya, jangan nikah mau enaknya saja. Minimalisir pertengkaran dengan saling memahami peran. Jangan menuntut berlebihan jika kau sendiri gak bisa memenuhi apa yang pasanganmu butuhkan. Istri diciptakan dari tulang rusuk, gak pantas dijadikan tulang punggung, saya pribadi sering menjadikan ini sebagai motivasi dan cambukan. Suami diberi amanah untuk memimpin, bukan jadi bawahan.

Arrijalu qawwamuna alannisa, itu dalilnya. Jangan jadi kaum "nganu" yang ingin mengubah kodrat menjadi arrijalu qawwamuna alarrijal. if you know what i mean.
Naudzubillah minzalik..


Mau tau rahasia sukses bisnis bersama suami/istri? Like/Follow:
INSTAGRAM: Fenny Ferawati

Info dan kerjasama silakan klik disini.

Baca juga:

Comments

Artikel Terpopuler

Menikah dan Memahami Pasangan

Ciptaan Allah yang satu ini sungguh luar biasa indahnya. Sebuah perpaduan warna yang tak satu mahluk pun mampu membuatnya, meski berbeda namun selalu kompak dan harmonis. Kehidupan pernikahan bisa diibaratkan sebuah pelangi. Tak jarang banyak perbedaan karakter, mindset, latar belakang kehidupan, pendidikan dan berbagai macam ketidaksamaan. Namun satu hal, bagaimana semua itu terlihat mempesona.
Angan yang terlalu melambung tinggi ketika memimpikan sosok pasangan yang super lembut, sabar, bijaksana dan selalu mencintai pasangan. Namun ketika realita berkata lain, pantaskah pasutri berfikir untuk segera mengakhiri fragmen kehidupan pernikahan?
Episode kehidupan Asma binti Abu Aakar dengan Zubair bin Awwam kiranya cukup menjadi pelajaran berharga. Betapa rumah tangga mereka tetap solid meski kemiskinan dan kesulitan hidup tak lepas dari hari-harinya.
Asma harus berjuang membawa air dan merawat kuda. Sungguh keikhlasan itulah yang telah membuat cinta mereka bersatu. Sementara Zubair adalah …

Menyikapi Tabiat Pasangan

Seorang teman mengeluhkan sikap dan tabiat suaminya yang menurutnya egois dan kekanak-kanakan. Teman ini merasa menyesal telah menikah dengan suaminya.
Setahu saya sikap, karakter, atau kebiasaan tidak tercipta semalam dan juga tidak bisa berubah hanya semalam. Apa yang ditunjukkan suaminya saat ini, dalam pemahaman saya, sebenarnya telah ditunjukkan dulu waktu sebelum menikah.

"Apakah suamimu baru sekarang ini sikap dan perilakunya seperti yang kamu keluhkan?" tanya saya.
"Oh.. sudah dari dulu" jawabnya.
"Sejak masih pacaran ya," tanya saya lagi.
"Ya...." jawab teman.
"Lha... kalau sudah tahu begini kok ya diteruskan sampai nikah?" tanya saya penasaran.
"Saya pikir nanti kalau sudah nikah dia bisa berubah. Ternyata tidak mau berubah dan malah tambah parah. Katanya suami, dia sejak lahir ya seperti ini. Suami bilang saya harus menerima dia apa adanya," keluhnya.
Memang demikianlah yang sering terjadi. Kita berharap pasangan be…

Peran Ayah Dalam Pendidikan Anak

Al-Qur’an menyebutkan beberapa kisah ayah bersama anaknya. Diantaranya adalah kisah Nabi Ibrahim, Nabi Nuh, Ya’qub dalam surat Al- Baqoroh 132-133, QS. Luqman 12-19, QS. Yusuf. Proses pendidikan bukan hanya terjadi pada kita saja, akan tetapi terjadi pula pada para Nabi dan Rasul. Ketika kita membaca kisah Nabi Ibrahim yang sabar dalam menjalankan perintah Allah. Hajar yang tegar, dan Ismail yang sabar. Pertanyaannya apakah pengorbanan mereka datang secara kebetulan atau melalui proses tarbiyah (pendidkan)?
Jika contoh diatas ada pada Nabi dan Rasul. Maka beda halnya dengan Luqman. Dia adalah hamba Allah yang shalih. Berkat keshalihannya Allah berikan padanya kata-kata hikmah yang menghiasi lembaran Al-Qur’an. Nasihat Luqman yang ia berikan kepada anaknya dan menjadi pelajaran bagi kita.
وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kep…

Suami dan Keridhoannya

(Nasehat indah dari Ustadz Nasrullah Gontor)
Ada seorang ibu, mau cerai dari suaminya. Lalu dia diskusi panjang dengan saya.... + Pak Nas, saya sudah nggak kuat dengan suami saya. Saya mau cerai saja...
-: emangnya kenapa bu? + ya suami saya udah nggak ada kerjanya, nggak kreatif, nggak bisa jadi pemimpin untuk anak2. Nanti gimana anak2 saya kalau ayahnya modelnya kayak begitu. Saya harus cari nafkah capek2 dia santai aja di rumah.

-: oh gitu, cuma itu aja? + sebenarnya masih banyak lagi, tapi ya itu mungkin sebab yang paling utama.
-: oooh... iya... mau tahu pandangan saya nggak bu? + boleh pak Nas.

-: gini... ibarat orang punya kulkas, tapi dipakainya untuk lemari pakaian, ya akhirnya nggak bakal puas dengan produk kulkas tersebut. Sudahlah nggak muat banyak, nggak ada gantungan pakaiannya, nggak ada lacinya, nggak  bisa dikunci, malah boros listrik...
Nah... itulah kalau kita pakai produk nggak sesuai fungsi. Sebagus apapun produknya kalau dipakai tidak sesuai peruntukannya ya nggak ak…

10 Sifat Istri yang Membuat Rejeki Mengalir Deras

Banyak suami yang mungkin tidak tahu kalau rejekinya dengan izin Allah mengalir lancar atas peran istri. Memang tidak dapat dilihat secara kasat mata, tetapi dapat dijelaskan secara spiritual kalau 10 karakter istri ini ‘membantu’ menghadirkan rejeki untuk suami dan rumah tangganya.
1. Istri yang pandai bersyukur Istri yang bersyukur atas semua karunia Allah pada hakikatnya dia sedang mengundang tambahan nikmat untuk suaminya. Termasuk juga rejeki. Miliki suami, bersyukur. Jadi ibu, bersyukur. Anak-anak dapat mengaji, bersyukur. Suami memberi nafkah, bersyukur.
2. Istri yang tawakal kepada Allah Di waktu seseorang bertawakkal pada Allah, Allah akan mencukupi rejekinya. “Dan barangsiapa yang bertawakkal pada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya.” (QS. Ath Thalaq : 3). Bila seseorang istri bertawakkal pada Allah, sementara dia tidak bekerja, dari mana dia dicukupkan rejekinya. Allah akan mencukupkannya dari jalan lain, tidak selamanya harus langsung diberikan pada wanit…