Skip to main content

Sebenarnya Hanya Rasa Menderita


secangkir kopi
Berkali-kali saya sampaikan tentang level Anda di alam semesta ini; the perfect being (ahsani taqwîm) itu kedudukan Anda. Dari dasar bumi hingga ujung luar angkasa seluruhnya tercipta hanya untuk melayani Anda. Iblis saja—yang tidak mau sujud pada Anda artinya tidak mau melayani kebaikan kepada Anda—dia dikutuk dan dilaknat. Sistem rezeki dijaminkan untuk Anda, seluruh sistem energi di alam semesta tercipta hanya untuk menyukupi kebutuhan Anda, matahari telah disterilkan dari racun nuklir dan radiasi panasnya, segala penyakit telah dijaminkan obatnya, segala masalah disediakan solusinya. Benar-benar event kehidupan ini hanya event yang diselenggarakan untuk Anda.

Andai Anda sadar level the perfict being ini, Anda harusnya sangat malu merasakan menderita di kehidupan ini. Keterciptaan Anda itu ibarat Anda adalah anak pingitan yang seluruh konsentrasi keberdayaan ayah dan ibu Anda hanya dicurahkan untuk mengfasilitasi kebutuhan Anda. Konsep penciptaan the perfect being tersebut sebenarnya konsep dimana Anda terlahir sudah tanpa penderitaan, terlahir hanya layak untuk bahagia.

Anda terlahir sebagai the perfect being dengan sistem layanan canggih alam semesta, namun kemudian muncul “rasa menderita” dari dalam diri Anda sendiri. Anda menyadari penderitaan dari dalam diri Anda sendiri sehingga seolah-olah hidup ini adalah pergolakan penderitaan yang harus diperjuangkan mati-matian kesejahteraannya.

Rasa menderita kalau Anda lapar, Anda berupaya mati-matian untuk kenyang. Rasa menderita kalau Anda kurang terhormat, Anda berupaya mati-matian membesarkan ego Anda. Rasa menderita kalau Anda masih miskin, Anda berupaya mati-matian untuk meningkatkan finansial. Rasa menderita kalau Anda orang yang gagal meraih impian, Anda berupaya mati-matian untuk memotivasi diri meraih impian. Rasa menderita kalau Anda ditolak cinta, Anda berdarah-darah patah hati dan memelas cinta. Rasa menderita kalau Anda belum ada perubahan hidupnya, Anda berjuang mati-matian mengubah hidup. Dan seterusnya.

Kesusahan menyukupkan hati akhirnya Anda bertindak untuk mengubah hidup. Kerja keras, target, impian, prioritas, kompetisi, dan lain sebagainya menyeret-nyeret Anda dalam penderitaan yang begitu mendalam, Anda berdarah-darah batinnya hanya dalam rangka untuk keluar dari rasa menderita Anda sendiri.

Sesudah Anda bergeser nasibnya, misal dari finansial 3 juta bergeser menjadi 10 juta, lagi-lagi masih Anda hadirkan rasa menderita Anda. Sudah berpenghasilan 10 juta, keinginan di dalam diri ingin meraih 20 juta per bulan. Dari titik ini Anda kembali melukai soul Anda untuk mengulang penderitaan semula. Penghasilan 10 juta Anda anggap belum cukup, masih kurang, konsentrasi Anda pun diarahkan untuk meraih 20 juta. Berbagai upaya dilakukan, berbagai target ditulis, berbagai resiko diambil, hanya untuk menyukupi rasa menderita Anda yakni rasa lapar ingin berpenghasilan 20 juta. Stres di masa lalu diulang lagi.

Padahal andai Anda sadar, jerih payah yang Anda perjuangkan tersebut hakikatnya Anda hanya berusaha keluar dari rasa menderita Anda sendiri. Di luar rasa di dalam diri Anda sebenarnya tidak ada penderitaan.
Bagaimana di luar rasa diri Anda ada penderitaan? Semua sistem alam semesta di luar diri Anda telah dijaminkan untuk Anda, penciptaan termulia sudah ada pada diri Anda.

Suku Aborigin di benua Australia tidak pernah sadar kalau bumi yang mereka huni adalah tanah yang berlimpah ruah kekayaan, baru setelah bangsa-bangsa Eropa menyingkirkan dan menindas mereka dan wujudlah kota metropolitan Sydney, Brisbane, Adelaide, Melbourne, Darwin, dan lain-lain, suku Aborigin baru sadar kalau tanah airnya adalah kekayaan berlimpah ruah.

Kebanyakan dari kita persis seperti suku Aborigin tersebut, tidak sadar kalau telah kaya. Kita sibuk merasa menderita, tidak sadar kalau di alam semesta ini Anda telah dipingit hanya untuk berbahagia.

Rasa menderita, "Duitku mau habis," Anda bergerak berhemat dan diet finansial. Rasa menderita, "Aku difitnah," Anda bergerak membela diri ujar-ujar meluruskan masalah. Rasa menderita, "Aku dibenci dia, aku diolok-olok dia," Anda bergerak cepat membela diri parah lagi menyerang balik.

Anda selalu ketakutan kalau-kalau mekanisme kehidupan ini akan menggerus keberuntungan Anda, seolah Anda sangat takut tidak kebagian kesejahteraan, lalu Anda biarkan diri Anda terbakar hidup-hidup dalam upaya memadamkan gejolak hidup Anda. Akhirnya hidup sekali hanya untuk mengapresiasi rasa menderita Anda sendiri.

Di situ Anda lupa kalau Anda telah dibangunkan sistem elegan alam semesta, di mana alam semesta ini tersetting harmoni untuk Anda. Anda menjadi orang yang lupa bersyukur, lupa menyukupkan diri, akhirnya lupa berbahagia.

Padahal—seperti kemarin saya tuliskan—hidup ini adalah proyeksi dari dalam diri Anda sendiri. Anda sedang merasakan marah, realitas di sekeliling Anda pasti menegang emosinya, ayam saja bisa lari tunggang-langgang menyaksikan Anda marah. Anda sedang mengakses rasa khusyuk shalat, tidak ada orang berani dugem disco di depan Anda, maka ini tidak ada bar di dalam masjid. Realitas hidup ini semata-mata proyeksi dari rasa di dalam diri Anda masing-masing.

Bukan level Anda untuk bersedih, bukan level Anda untuk menderita, level Anda hanya layak berbahagia, sebab sistem penciptaan the perfect being di dalam diri Anda memang sudah menjaminnya.

وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ
“Janganlah kamu lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, karena kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman” (Q.S. Ali Imran : 139).

Dengan rasa lapar, Anda bersedih, urusan nasi saja bikin hati sedih, tinggi siapa derajat Anda dengan derajat nasi? Dengan fitnah, Anda bersedih, fitnah itu energi iblis. Iblis jauh sekali terpaut derajatnya dengan Anda, apa Anda tidak malu bersedih hanya oleh iblis? Dengan kebencian orang lain atas diri Anda, lalu Anda bersedih, kebencian itu juga energi iblis. Anda mau sujud pada iblis? Ya silakan bersedih-hatilah dengan kebencian orang lain atas diri Anda. Dengan kemiskinan Anda bersedih. Anda sedih pada kemiskinan? Berati jiwa Anda dengan harta masih mulia hartanya.

Dan yang paling sering terjadi, bersedih dengan duit. Sedikit boros, sedih. Income finansial menurun, sedih. Duit ilang, sedih. Dipalak orang, sedih. Listrik minta tagihan bayaran, sedih. BBM naik, sedih. Tagihan pajak, sedih. Penjualan menurun, sedih. Hidup melulu sedih duit, bikin malu Tuhan saja yang telah menciptakan Anda sebagai the perfect being.

Orbital saya di dunia pemberdayaan diri tentu memicu pro kontra. Ada yang bangga, ada juga yang benci. Bahkan banyak juga yang mencaci-maki, merendahkan, menghadang, yang bermuka dua, dan lain-lain. Tetapi saya merasa sangat malu untuk bersedih hati atas kebencian mereka. Batin saya selalu menjawab, “Saya malu untuk bersedih atas kelakuan mereka. Bukan level saya sedih karena iblis, karena karir, karena profesi, karena duit. Saya hanya ingin berbahagia saja dengan keadaan ini.”

وَٱصْبِرْ وَمَا صَبْرُكَ إِلَّا بِٱللَّهِ وَلَا تَحْزَنْ عَلَيْهِمْ وَلَا تَكُ فِى ضَيْقٍ مِّمَّا يَمْكُرُونَ
"Bersabarlah! Dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipudayakan." (Q.S. An-Nahl : 127)

Andai Anda tidak seperti suku Aborigin yang kehilangan rasa sadar kekayaan tanah airnya, hidup Anda sebenarnya telah dijaminkan kesejahteraannya. Tidak usah ngoyo kerja mengejar-ngejar uang, uang datang melayani Anda. Tidak usah sempoyongan mengejar target kenaikan finansial, finasial naik sendiri. Tidak usah stres bangun bisnis ini dan itu, seharusnya bisnis Anda mengembang sendiri.

Lah enak sekali kalau begitu? Iya enak sekali. Karena memang semua sistem alam semesta ini sebenarnya telah tersetting sujud pada Anda. Duit, finansial, bisnis, karir, pasangan hidup, anak, rumah, kemuliaan, semuanya sudah disetting melayani Anda selayaknya matahari dan curah hujan yang siap melayani Anda. Hanya saja, Anda mengalami error kebahagiaan dari dalam diri, sehingga Anda kejang-kejang seperti orang gila dipasung.

Benar begitu? Saya tidak akan menuliskannya di sini kalau saya tidak mengalaminya sendiri. Duit, keberuntungan, kenaikan finansial, kehormatan, kesehatan, peluang, rezeki, semuanya sudah siap melayani Anda, hanya saja bangunlah rasa bahagia, jangan mudah bersedih hati, perbanyaklah bersyukur dan menyukupkan diri.


Mau tau rahasia sukses bisnis bersama suami/istri? Like/Follow Facebook:

Info dan kerjasama silakan klik disini.

Comments

Artikel Terpopuler

Menikah dan Memahami Pasangan

Ciptaan Allah yang satu ini sungguh luar biasa indahnya. Sebuah perpaduan warna yang tak satu mahluk pun mampu membuatnya, meski berbeda namun selalu kompak dan harmonis. Kehidupan pernikahan bisa diibaratkan sebuah pelangi. Tak jarang banyak perbedaan karakter, mindset, latar belakang kehidupan, pendidikan dan berbagai macam ketidaksamaan. Namun satu hal, bagaimana semua itu terlihat mempesona.
Angan yang terlalu melambung tinggi ketika memimpikan sosok pasangan yang super lembut, sabar, bijaksana dan selalu mencintai pasangan. Namun ketika realita berkata lain, pantaskah pasutri berfikir untuk segera mengakhiri fragmen kehidupan pernikahan?
Episode kehidupan Asma binti Abu Aakar dengan Zubair bin Awwam kiranya cukup menjadi pelajaran berharga. Betapa rumah tangga mereka tetap solid meski kemiskinan dan kesulitan hidup tak lepas dari hari-harinya.
Asma harus berjuang membawa air dan merawat kuda. Sungguh keikhlasan itulah yang telah membuat cinta mereka bersatu. Sementara Zubair adalah …

Menyikapi Tabiat Pasangan

Seorang teman mengeluhkan sikap dan tabiat suaminya yang menurutnya egois dan kekanak-kanakan. Teman ini merasa menyesal telah menikah dengan suaminya.
Setahu saya sikap, karakter, atau kebiasaan tidak tercipta semalam dan juga tidak bisa berubah hanya semalam. Apa yang ditunjukkan suaminya saat ini, dalam pemahaman saya, sebenarnya telah ditunjukkan dulu waktu sebelum menikah.

"Apakah suamimu baru sekarang ini sikap dan perilakunya seperti yang kamu keluhkan?" tanya saya.
"Oh.. sudah dari dulu" jawabnya.
"Sejak masih pacaran ya," tanya saya lagi.
"Ya...." jawab teman.
"Lha... kalau sudah tahu begini kok ya diteruskan sampai nikah?" tanya saya penasaran.
"Saya pikir nanti kalau sudah nikah dia bisa berubah. Ternyata tidak mau berubah dan malah tambah parah. Katanya suami, dia sejak lahir ya seperti ini. Suami bilang saya harus menerima dia apa adanya," keluhnya.
Memang demikianlah yang sering terjadi. Kita berharap pasangan be…

Peran Ayah Dalam Pendidikan Anak

Al-Qur’an menyebutkan beberapa kisah ayah bersama anaknya. Diantaranya adalah kisah Nabi Ibrahim, Nabi Nuh, Ya’qub dalam surat Al- Baqoroh 132-133, QS. Luqman 12-19, QS. Yusuf. Proses pendidikan bukan hanya terjadi pada kita saja, akan tetapi terjadi pula pada para Nabi dan Rasul. Ketika kita membaca kisah Nabi Ibrahim yang sabar dalam menjalankan perintah Allah. Hajar yang tegar, dan Ismail yang sabar. Pertanyaannya apakah pengorbanan mereka datang secara kebetulan atau melalui proses tarbiyah (pendidkan)?
Jika contoh diatas ada pada Nabi dan Rasul. Maka beda halnya dengan Luqman. Dia adalah hamba Allah yang shalih. Berkat keshalihannya Allah berikan padanya kata-kata hikmah yang menghiasi lembaran Al-Qur’an. Nasihat Luqman yang ia berikan kepada anaknya dan menjadi pelajaran bagi kita.
وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kep…

Suami dan Keridhoannya

(Nasehat indah dari Ustadz Nasrullah Gontor)
Ada seorang ibu, mau cerai dari suaminya. Lalu dia diskusi panjang dengan saya.... + Pak Nas, sy sdh ga kuat dgn suami saya. Saya mau cerai saja...
-: emangnya kenapa bu? + ya suami saya udah ga ada kerjanya, ga kreatif, ga bisa jadi pemimpin utk anak2. Nanti gimana anak2 saya kalau ayahnya modelnya kayak begitu. Saya harus cari nafkah cape2 dia santai aja di rumah.
-: oh gitu, cuma itu aja? + sebenarnya masih banyak lagi, tapi ya itu mungkin sebab yg paling utama.
-: oooh... iya... mau tahu pandangan saya ga bu? + boleh pak Nas.
-: gini... ibarat orang punya kulkas, tapi dipakainya untuk lemari pakaian, ya akhirnya ga bakal puas dengan produk kulkas tersebut. Sudahlah ga muat banyak, ga ada gantungan pakaiannya, ga ada lacinya, ga bisa dikunci, malah boros listrik... Nah... itulah kalau kita pakai produk ga sesuai fungsi. Sebagus apapun produknya kalau dipakai tidak sesuai peruntukannya ya ga akan puas. + Mmm... trus apa hubungannya sama suami…

10 Sifat Istri yang Membuat Rejeki Mengalir Deras

Banyak suami yang mungkin tidak tahu kalau rejekinya dengan izin Allah mengalir lancar atas peran istri. Memang tidak dapat dilihat secara kasat mata, tetapi dapat dijelaskan secara spiritual kalau 10 karakter istri ini ‘membantu’ menghadirkan rejeki untuk suami dan rumah tangganya.
1. Istri yang pandai bersyukur Istri yang bersyukur atas semua karunia Allah pada hakikatnya dia sedang mengundang tambahan nikmat untuk suaminya. Termasuk juga rejeki. Miliki suami, bersyukur. Jadi ibu, bersyukur. Anak-anak dapat mengaji, bersyukur. Suami memberi nafkah, bersyukur.
2. Istri yang tawakal kepada Allah Di waktu seseorang bertawakkal pada Allah, Allah akan mencukupi rejekinya. “Dan barangsiapa yang bertawakkal pada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya.” (QS. Ath Thalaq : 3). Bila seseorang istri bertawakkal pada Allah, sementara dia tidak bekerja, dari mana dia dicukupkan rejekinya. Allah akan mencukupkannya dari jalan lain, tidak selamanya harus langsung diberikan pada wanit…