Skip to main content

Proyeksi Dari Dalam

proyeksi dari dalam
Proyeksi dari dalam diri itulah wujud realitas kehidupan Anda masing-masing. Anda sedang marah, sedang stres, sedang bergembira, sedang khusyuk, semua keadaan-keadaan kesadaran di dalam diri memroyeksikan realitas nyata di sekitar Anda.

Tidak ada rasa marah memroyeksikan keharmonisan, yang ada ayam saja bisa lari tunggang-langgang berada di sisi Anda. Marah tentu memroyeksikan kepanikan. Demikian pula rasa khusyuk misalkan. Orang lain tidak akan berani untuk memutar musik disko kencang-kencang di sisi Anda yang sedang khusyuk shalat. Kesadaran di dalam diri Anda itu menarik segala realitas di kehidupan nyata.

Seorang Nia Daniati yang kerap menyanyikan lagu-lagu melankolis dengan penghayatan mendalam, cenderung kehidupan nyatanya terseret-seret dalam situasi melankolis. Kesan sendu, syahdu, sayu, sentimental, murung, lamban, muram dan sebagainya kerap menghantam kehidupan si artis ini. Maka kalau Anda sedang menyanyikan lagu melankolis jangan dihayati, karena update penghayatan kesedihan sama artinya dengan memanggil kesedihan.

Seorang pemusik aliran metal dimana metal merupakan aliran musik yang lebih keras dibandingkan dengan rock, mereka pun menarik realitas tubuh bertato, rambut gonderong, dengan mode pakaian preman. Update rasa Anda, itulah proyeksi nyata yang mewujud realita.

Maka ini Nabi S.A.W. saat membaca Al-Qur'an lalu beliau menemukan ayat-ayat rahmat, beliau berhenti lalu membaca doa. Dan saat menemukan ayat-ayat azab, beliau berhenti lalu membaca ta'awudz (berdoa memohon perlindungan).

عَنْ عَوْفِ بْنِ مَالِكٍ الْأَشْجَعِيِّ قَالَ قُمْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْلَةً فَقَامَ فَقَرَأَ سُورَةَ الْبَقَرَةِ لَا يَمُرُّ بِآيَةِ رَحْمَةٍ إِلَّا وَقَفَ فَسَأَلَ وَلَا يَمُرُّ بِآيَةِ عَذَابٍ إِلَّا وَقَفَ فَتَعَوَّذَ
“Dari Auf Ibn Malik berkata, 'Aku melakukan shalat malam bersama Rasulullah S.A.W. pada suatu malam. Maka beliau berdiri membaca Surat Al-Baqarah. Beliau tidak melewati ayat tentang rahmat, kecuali beliau berhenti dan memohon (berdoa) dan tidak melewati ayat tentang adzab, kecuali berhenti dan meminta perlindungan (membaca ta'awudz).” (H.R. Abu Dawud, Nasa-i & Ahmad)

Ini terapi yang dilakukan Nabi S.A.W. agar apa yang beliau hayati dalam bacaan Al-Qur'annya selaras dengan keharmonian diri. Kalau yang beliau baca ayat tentang rahmat, beliau meresapkannya dalam rasa dengan jeda baca dan memohonkan rahmat tersebut turun. Dan kalau yang beliau baca ayat tentang azab maka beliau memblokirnya dengan jeda baca lalu berdoa ta'awudz.

Kemarin ada pengusaha bertamu ke rumah saya. Satu sisi dia sudah memegang usaha bisnis pupuk yang cukup mapan. Di sisi lain dia baru terkena musibah ditipu orang. Dia ditipu 13 sertifikat tanah senilai 10 miliar. Ke-13 sertifikat tanahnya digunakan orang untuk hutang bank, sesudah dapatkan uangnya, si penipu menghilang tanpa jejak.

Akibatnya si pengusaha yang harus menanggung kredit hutangnya. Efek dari kejadian tragis ini, keluarga di sekitarnya mendorongnya lagi untuk membangun usaha lain, analitisnya punya usaha lain jadi punya penghasilan tambahan, jadikan kredit hutangnya lekas lunas.

Saya pernah menyeritakan bagaimana kondisi stres tikus yang terjebak dalam kurungan jebakan. Awal si tikus masuk kurungan karena dia mengejar rezekinya, mengejar makanan. Setelah dia sadar telah terjebak, dia hanya sibuk mencari "jalan keluar", sehingga rezeki makanan yang sudah ada di sisinya dan dia kejar-kejar malahan lupa untuk dia nikmati.

Anda punya masalah, saya pun punya. Anda punya kendala, saya pun punya. Anda punya kesulitan, saya pun punya. Nah di titik ini saya mengingatkan untuk diri saya sendiri, bagaimana kondisi tikus yang terkerangkeng secara fisik, lalu mentalnya pun ikut terkerangkeng dalam stres.

Andai si tikus mengerti mental ayam dalam kurungan, sebenarnya dia tidak perlu stres mendalam untuk mencari " jalan keluar" dari kerangkeng. Ayam dalam kurungan tetap tenang dan damai dalam kesadarannya di dalam, sehingga rezeki makanan di dalam kurungan sangat lahap dia nikmati. Dan pada akhirnya kurungannya terbuka sendiri.

Walaupun tragis-tragisnya si ayam dikurung untuk disembelih, tetapi dia hanya merasakan kepedihan itu hanya saat pisau mengiris lehernya. Si ayam bisa menikmati rezeki hidupnya di dalam kurungan yang sesaat tersebut.

Pada kasus pengusaha di atas sebenarnya keadaan tikus dan ayam terjebak kurungan. Dia mau stres cari jalan keluar ataukah mau menikmati kenikmatan yang ada.

Kerangkengnya ditipu 13 sertifikat tanah. Jalan keluarnya membangun bisnis lain agar penghasilan bertambah dan bisa membantu memercepat bayar hutang. Nikmat anugerah yang sudah dia terima adalah punya bisnis pupuk yang mapan.

Hidup ini adalah proyeksi dari kesadaran di dalam. Kalau si pengusaha memilih menyedihkan musibah yang dia terima, itu artinya dia sedang menghayati lagu melankolis yang diputarkan untuknya. Dia menjadi tikus yang stres dengan keadaan hidupnya yang terkerangkeng. Dan artinya itu cara mencari binasa.
Nah andai Anda punya musibah atau kesulitan lalu Anda menyedihkannya mendalam, tikus stres dan penghayat lagu melankolis itulah penggambaran diri Anda.

Sekarang andai dia berkonsentrasi kuat membangun bisnis baru sebagai jalan keluar baru, dia menjadi tikus yang sibuk mencari jalan keluar, nabrak semua sisi kerangkeng dengan sibuk lari ngalor-ngidul mencari solusi dengan keadaan di dalam diri yang sangat stres dan panik. Sementara tubuhnya capai, badannya pegal, pikiran ruwet, dan makanan di sisinya tidak bisa sama sekali dia nikmati.

Andai Anda tertimpa musibah atau kesulitan lalu Anda sibuk cari jalan keluar, tikus stres cari jalan keluar itulah gambaran diri Anda.

Mau mengembangkan usaha, sibuk cari hutangan. Punya hutang, sibuk cari pendapatan lain. Didebat orang, sibuk berargumentasi membenarkan diri. Konflik dengan orang, sibuk meluruskan duduk masalah. Dibenci orang, sibuk meluruskan kelakukan bejat si pembenci. Ini model tikus stres, cara pandangnya cari jalan keluar.

Kalau si pengusaha obesesinya lebih terarah bagaimana membangun peluang bisnis berikutnya, bukankah membangun bisnis lain itu sama halnya mencari beban penderitaan baru. Harus cari modal baru, harus bangun manajemen baru, cari resiko baru, dan lain-lain. Ya kalau takdir mendukungnya untuk sukses di bisnis tersebut, kalau kemudian ditakdirkan bangkrut? Bukankah itu mencari binasa yang lebih tragis?
Selalu berjalanlah ke dalam diri, kembali tata kesadaran Anda di dalam. Karena kesadaran di dalam diri itulah yang akan memroyeksikan keharmonian dari keruwetan Anda.

Caranya? Amati ayam dalam kurungan. Si ayam sekalipun dalam kerangkeng, dia terkonsentrasi menikmati anugerah rezeki yang dia terima. Konsentrasi obsesi si ayam bukan pada penghayatan kesedihan di dalam, juga bukan pada konsentrasi mencari jalan keluar, tetapi konsentrasi obsesinya pada "menikmati apa yang sudah dia terima". Si ayam menikmati makanan yang dihidangkan dalam kurungan. Yang pada akhirnya kurungan yang mengerangkeng si ayam terbuka sendiri.

Ketika di luar diri Anda sedang kemerungsung penuh masalah, yang perlu Anda tenangkan justru gejolak di dalam diri Anda. Ingat realitas di luar diri Anda adalah proyeksi dari kesadaran di dalam.

Maka yang dilakukan si pengusaha di atas bukan menyedihi musibah tertipunya, bukan pula ngoyo cari jalan keluar, tetapi menguatkan rasa "menikmati apa yang telah dia diterima dari-Nya". Mengalihkan kegundahan, kekhawatiran, dan kesedihan menjadi rasa bahagia telah banyak menerima anugerah-Nya. Dalam duduk, dalam berbaring, saat sendiri, perbanyaklah mengingat nikmat-Nya. Si pengusaha justru harus lebih banyak menghayati bisnis pupuk pertaniannya yang sudah bertumbuh baik.

Rasa syukur menambah nikmat, rasa tawakal didatangkan rezeki dari jalan yang tidak disangka-sangka, itu sistem manajemen-Nya. Banyaklah masuk dalam hening rasa menikmati anugerah. Hanya saja Anda lebih percaya kepada stresnya pikiran Anda ketimbang pada manajemen-Nya sehingga Anda memercayakan kemelut selalu pada " jalan keluar".

Dua tindakan yang kerap menyengsarakan hidup Anda sendiri; pertama memroyeksikan kesedihan dan kekhawatiran ke alam semesta; kedua sibuk mencari jalan keluar karena dorongan stres dari dalam. Lupa berbahagia, lupa menikmati yang telah ada, lupa bersyukur, itu yang lazim dialami Anda.

وَقَلِيلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ
“Sangat sedikit sekali di antara hamba-Ku yang mau bersyukur.” (Q.S. Saba’: 13).


Mau tau rahasia sukses bisnis bersama suami/istri? Like/Follow Facebook:

Info dan kerjasama silakan klik disini.

Comments

Artikel Terpopuler

Menikah dan Memahami Pasangan

Ciptaan Allah yang satu ini sungguh luar biasa indahnya. Sebuah perpaduan warna yang tak satu mahluk pun mampu membuatnya, meski berbeda namun selalu kompak dan harmonis. Kehidupan pernikahan bisa diibaratkan sebuah pelangi. Tak jarang banyak perbedaan karakter, mindset, latar belakang kehidupan, pendidikan dan berbagai macam ketidaksamaan. Namun satu hal, bagaimana semua itu terlihat mempesona.
Angan yang terlalu melambung tinggi ketika memimpikan sosok pasangan yang super lembut, sabar, bijaksana dan selalu mencintai pasangan. Namun ketika realita berkata lain, pantaskah pasutri berfikir untuk segera mengakhiri fragmen kehidupan pernikahan?
Episode kehidupan Asma binti Abu Aakar dengan Zubair bin Awwam kiranya cukup menjadi pelajaran berharga. Betapa rumah tangga mereka tetap solid meski kemiskinan dan kesulitan hidup tak lepas dari hari-harinya.
Asma harus berjuang membawa air dan merawat kuda. Sungguh keikhlasan itulah yang telah membuat cinta mereka bersatu. Sementara Zubair adalah …

Menyikapi Tabiat Pasangan

Seorang teman mengeluhkan sikap dan tabiat suaminya yang menurutnya egois dan kekanak-kanakan. Teman ini merasa menyesal telah menikah dengan suaminya.
Setahu saya sikap, karakter, atau kebiasaan tidak tercipta semalam dan juga tidak bisa berubah hanya semalam. Apa yang ditunjukkan suaminya saat ini, dalam pemahaman saya, sebenarnya telah ditunjukkan dulu waktu sebelum menikah.

"Apakah suamimu baru sekarang ini sikap dan perilakunya seperti yang kamu keluhkan?" tanya saya.
"Oh.. sudah dari dulu" jawabnya.
"Sejak masih pacaran ya," tanya saya lagi.
"Ya...." jawab teman.
"Lha... kalau sudah tahu begini kok ya diteruskan sampai nikah?" tanya saya penasaran.
"Saya pikir nanti kalau sudah nikah dia bisa berubah. Ternyata tidak mau berubah dan malah tambah parah. Katanya suami, dia sejak lahir ya seperti ini. Suami bilang saya harus menerima dia apa adanya," keluhnya.
Memang demikianlah yang sering terjadi. Kita berharap pasangan be…

Peran Ayah Dalam Pendidikan Anak

Al-Qur’an menyebutkan beberapa kisah ayah bersama anaknya. Diantaranya adalah kisah Nabi Ibrahim, Nabi Nuh, Ya’qub dalam surat Al- Baqoroh 132-133, QS. Luqman 12-19, QS. Yusuf. Proses pendidikan bukan hanya terjadi pada kita saja, akan tetapi terjadi pula pada para Nabi dan Rasul. Ketika kita membaca kisah Nabi Ibrahim yang sabar dalam menjalankan perintah Allah. Hajar yang tegar, dan Ismail yang sabar. Pertanyaannya apakah pengorbanan mereka datang secara kebetulan atau melalui proses tarbiyah (pendidkan)?
Jika contoh diatas ada pada Nabi dan Rasul. Maka beda halnya dengan Luqman. Dia adalah hamba Allah yang shalih. Berkat keshalihannya Allah berikan padanya kata-kata hikmah yang menghiasi lembaran Al-Qur’an. Nasihat Luqman yang ia berikan kepada anaknya dan menjadi pelajaran bagi kita.
وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kep…

Suami dan Keridhoannya

(Nasehat indah dari Ustadz Nasrullah Gontor)
Ada seorang ibu, mau cerai dari suaminya. Lalu dia diskusi panjang dengan saya.... + Pak Nas, sy sdh ga kuat dgn suami saya. Saya mau cerai saja...
-: emangnya kenapa bu? + ya suami saya udah ga ada kerjanya, ga kreatif, ga bisa jadi pemimpin utk anak2. Nanti gimana anak2 saya kalau ayahnya modelnya kayak begitu. Saya harus cari nafkah cape2 dia santai aja di rumah.
-: oh gitu, cuma itu aja? + sebenarnya masih banyak lagi, tapi ya itu mungkin sebab yg paling utama.
-: oooh... iya... mau tahu pandangan saya ga bu? + boleh pak Nas.
-: gini... ibarat orang punya kulkas, tapi dipakainya untuk lemari pakaian, ya akhirnya ga bakal puas dengan produk kulkas tersebut. Sudahlah ga muat banyak, ga ada gantungan pakaiannya, ga ada lacinya, ga bisa dikunci, malah boros listrik... Nah... itulah kalau kita pakai produk ga sesuai fungsi. Sebagus apapun produknya kalau dipakai tidak sesuai peruntukannya ya ga akan puas. + Mmm... trus apa hubungannya sama suami…

10 Sifat Istri yang Membuat Rejeki Mengalir Deras

Banyak suami yang mungkin tidak tahu kalau rejekinya dengan izin Allah mengalir lancar atas peran istri. Memang tidak dapat dilihat secara kasat mata, tetapi dapat dijelaskan secara spiritual kalau 10 karakter istri ini ‘membantu’ menghadirkan rejeki untuk suami dan rumah tangganya.
1. Istri yang pandai bersyukur Istri yang bersyukur atas semua karunia Allah pada hakikatnya dia sedang mengundang tambahan nikmat untuk suaminya. Termasuk juga rejeki. Miliki suami, bersyukur. Jadi ibu, bersyukur. Anak-anak dapat mengaji, bersyukur. Suami memberi nafkah, bersyukur.
2. Istri yang tawakal kepada Allah Di waktu seseorang bertawakkal pada Allah, Allah akan mencukupi rejekinya. “Dan barangsiapa yang bertawakkal pada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya.” (QS. Ath Thalaq : 3). Bila seseorang istri bertawakkal pada Allah, sementara dia tidak bekerja, dari mana dia dicukupkan rejekinya. Allah akan mencukupkannya dari jalan lain, tidak selamanya harus langsung diberikan pada wanit…