Skip to main content

Pendidikan Berbasis Fitrah

pendidikan berbasis fitrah
Pasca Perang Dunia II, dunia dilanda mental illness, semua hal dibangun dengan cara pandang "weakness based" termasuk psikologi dan pendidikan. Dalam bahasa gaulnya, orang modern itu "senang lihat orang lain susah dan susah lihat orang lain senang". Ini barangkali ciri khas mereka yang lahir seputar paska kemerdekaan dan setelahnya. Bukan hanya di indonesia, tetapi juga di luar negeri. 

Riset sederhana tahun 70an membuktikan para orangtua di Amerika dan Eropa umumnya lebih suka mempermasalahkan nilai akademis yang rendah dari anaknya daripada potensi kekuatan anak anaknya yang lain baik akademis ataupun non akademis.

Namun jika hari ini sistem pendidikan masih fokus melihat siswa dari apa yang menjadi kelemahannya dengan mematok standar nilai, lalu fokus memperbaiki, menambal, merecovery "gap kelemahannya" agar sesuai standar yang ditetapkan, maka itu mengkhianati keunikan manusia dan itu jelas kebodohan yang tak terampunkan. 

Manusia bukan robot atau mesin yang bisa dicetak dan diproduksi seragam lalu dijuruskan sesuai pekerjaan yang tersedia. Manusia harus diantarkan pada takdir peran peradabannya sesuai potensi cahaya fitrahnya.

Jika hari ini sistem pendidikan masih berfikir menambah jam pelajaran dan jam pengajaran sebanyak banyaknya agar siswa semakin hebat, tanpa melihat relevansi pengetahuan yang diajarkan dengan kebutuhan perkembangan dan potensi keunikan anak didik, itu pertanda bahwa pembuat kebijakannya tidak memahami fitrah manusia atau mengalami sakit jiwa alias mental ilness.

Jika hari ini ada yang mengukur kecerdasan majemuk anak, lalu menggunakannya agar dapat menjejalkannya dengan akademis sesuai tipe kecerdasannya itu sebanyaknya, tanpa mengganti obyek belajarnya sesuai potensi anak maka itu sama dengan manipulasi kecerdasan untuk kepentingan pembuat kurikulum akademis.
Hari ini dunia bisnis juga dikejutkan oleh kenyataan bahwa banyak anak anak muda yang kini sukses dalam bisnis, ternyata dulu mereka sering dianggap lemah secara akademis, pindah pindah perusahaan, tidak berkinerja baik di perusahaan sebelumnya dstnya. 

Anak anak muda sukses ini sesungguhnya sukses karena menemukan tempat dimana cahaya mereka berpendar indah, di masa lalu sesungguhnya hanya memerlukan kesempatan untuk menghebatkan potensi keunikanmya. 

Berhentilah menjadi operator peradaban usang yang melihat manusia dari sisi kegelapannya atau kelemahannya. Sesungguhnya kita menuju dunia masa depan dimana manusia dilihat dan dikembangkan seusai potensi cahaya fitrahnya, agar cahaya itu semakin terang dan menyinari peradaban sehingga menjadi lebih indah, lebih adil, lebih beradab dan lebih damai.


Mau tau rahasia sukses bisnis bersama suami/istri? Like/Follow Facebook:

Info dan kerjasama silakan klik disini.

Comments

Artikel Terpopuler

Menikah dan Memahami Pasangan

Ciptaan Allah yang satu ini sungguh luar biasa indahnya. Sebuah perpaduan warna yang tak satu mahluk pun mampu membuatnya, meski berbeda namun selalu kompak dan harmonis. Kehidupan pernikahan bisa diibaratkan sebuah pelangi. Tak jarang banyak perbedaan karakter, mindset, latar belakang kehidupan, pendidikan dan berbagai macam ketidaksamaan. Namun satu hal, bagaimana semua itu terlihat mempesona.
Angan yang terlalu melambung tinggi ketika memimpikan sosok pasangan yang super lembut, sabar, bijaksana dan selalu mencintai pasangan. Namun ketika realita berkata lain, pantaskah pasutri berfikir untuk segera mengakhiri fragmen kehidupan pernikahan?
Episode kehidupan Asma binti Abu Aakar dengan Zubair bin Awwam kiranya cukup menjadi pelajaran berharga. Betapa rumah tangga mereka tetap solid meski kemiskinan dan kesulitan hidup tak lepas dari hari-harinya.
Asma harus berjuang membawa air dan merawat kuda. Sungguh keikhlasan itulah yang telah membuat cinta mereka bersatu. Sementara Zubair adalah …

Menyikapi Tabiat Pasangan

Seorang teman mengeluhkan sikap dan tabiat suaminya yang menurutnya egois dan kekanak-kanakan. Teman ini merasa menyesal telah menikah dengan suaminya.
Setahu saya sikap, karakter, atau kebiasaan tidak tercipta semalam dan juga tidak bisa berubah hanya semalam. Apa yang ditunjukkan suaminya saat ini, dalam pemahaman saya, sebenarnya telah ditunjukkan dulu waktu sebelum menikah.

"Apakah suamimu baru sekarang ini sikap dan perilakunya seperti yang kamu keluhkan?" tanya saya.
"Oh.. sudah dari dulu" jawabnya.
"Sejak masih pacaran ya," tanya saya lagi.
"Ya...." jawab teman.
"Lha... kalau sudah tahu begini kok ya diteruskan sampai nikah?" tanya saya penasaran.
"Saya pikir nanti kalau sudah nikah dia bisa berubah. Ternyata tidak mau berubah dan malah tambah parah. Katanya suami, dia sejak lahir ya seperti ini. Suami bilang saya harus menerima dia apa adanya," keluhnya.
Memang demikianlah yang sering terjadi. Kita berharap pasangan be…

Peran Ayah Dalam Pendidikan Anak

Al-Qur’an menyebutkan beberapa kisah ayah bersama anaknya. Diantaranya adalah kisah Nabi Ibrahim, Nabi Nuh, Ya’qub dalam surat Al- Baqoroh 132-133, QS. Luqman 12-19, QS. Yusuf. Proses pendidikan bukan hanya terjadi pada kita saja, akan tetapi terjadi pula pada para Nabi dan Rasul. Ketika kita membaca kisah Nabi Ibrahim yang sabar dalam menjalankan perintah Allah. Hajar yang tegar, dan Ismail yang sabar. Pertanyaannya apakah pengorbanan mereka datang secara kebetulan atau melalui proses tarbiyah (pendidkan)?
Jika contoh diatas ada pada Nabi dan Rasul. Maka beda halnya dengan Luqman. Dia adalah hamba Allah yang shalih. Berkat keshalihannya Allah berikan padanya kata-kata hikmah yang menghiasi lembaran Al-Qur’an. Nasihat Luqman yang ia berikan kepada anaknya dan menjadi pelajaran bagi kita.
وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kep…

Suami dan Keridhoannya

(Nasehat indah dari Ustadz Nasrullah Gontor)
Ada seorang ibu, mau cerai dari suaminya. Lalu dia diskusi panjang dengan saya.... + Pak Nas, sy sdh ga kuat dgn suami saya. Saya mau cerai saja...
-: emangnya kenapa bu? + ya suami saya udah ga ada kerjanya, ga kreatif, ga bisa jadi pemimpin utk anak2. Nanti gimana anak2 saya kalau ayahnya modelnya kayak begitu. Saya harus cari nafkah cape2 dia santai aja di rumah.
-: oh gitu, cuma itu aja? + sebenarnya masih banyak lagi, tapi ya itu mungkin sebab yg paling utama.
-: oooh... iya... mau tahu pandangan saya ga bu? + boleh pak Nas.
-: gini... ibarat orang punya kulkas, tapi dipakainya untuk lemari pakaian, ya akhirnya ga bakal puas dengan produk kulkas tersebut. Sudahlah ga muat banyak, ga ada gantungan pakaiannya, ga ada lacinya, ga bisa dikunci, malah boros listrik... Nah... itulah kalau kita pakai produk ga sesuai fungsi. Sebagus apapun produknya kalau dipakai tidak sesuai peruntukannya ya ga akan puas. + Mmm... trus apa hubungannya sama suami…

10 Sifat Istri yang Membuat Rejeki Mengalir Deras

Banyak suami yang mungkin tidak tahu kalau rejekinya dengan izin Allah mengalir lancar atas peran istri. Memang tidak dapat dilihat secara kasat mata, tetapi dapat dijelaskan secara spiritual kalau 10 karakter istri ini ‘membantu’ menghadirkan rejeki untuk suami dan rumah tangganya.
1. Istri yang pandai bersyukur Istri yang bersyukur atas semua karunia Allah pada hakikatnya dia sedang mengundang tambahan nikmat untuk suaminya. Termasuk juga rejeki. Miliki suami, bersyukur. Jadi ibu, bersyukur. Anak-anak dapat mengaji, bersyukur. Suami memberi nafkah, bersyukur.
2. Istri yang tawakal kepada Allah Di waktu seseorang bertawakkal pada Allah, Allah akan mencukupi rejekinya. “Dan barangsiapa yang bertawakkal pada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya.” (QS. Ath Thalaq : 3). Bila seseorang istri bertawakkal pada Allah, sementara dia tidak bekerja, dari mana dia dicukupkan rejekinya. Allah akan mencukupkannya dari jalan lain, tidak selamanya harus langsung diberikan pada wanit…