Skip to main content

Menyikapi Tabiat Pasangan



fenny ferawati
Seorang teman mengeluhkan sikap dan tabiat suaminya yang menurutnya egois dan kekanak-kanakan. Teman ini merasa menyesal telah menikah dengan suaminya.

Setahu saya sikap, karakter, atau kebiasaan tidak tercipta semalam dan juga tidak bisa berubah hanya semalam. Apa yang ditunjukkan suaminya saat ini, dalam pemahaman saya, sebenarnya telah ditunjukkan dulu waktu sebelum menikah.

"Apakah suamimu baru sekarang ini sikap dan perilakunya seperti yang kamu keluhkan?" tanya saya.
"Oh.. sudah dari dulu" jawabnya.
"Sejak masih pacaran ya," tanya saya lagi.
"Ya...." jawab teman.
"Lha... kalau sudah tahu begini kok ya diteruskan sampai nikah?" tanya saya penasaran.
"Saya pikir nanti kalau sudah nikah dia bisa berubah. Ternyata tidak mau berubah dan malah tambah parah. Katanya suami, dia sejak lahir ya seperti ini. Suami bilang saya harus menerima dia apa adanya," keluhnya.
Memang demikianlah yang sering terjadi. Kita berharap pasangan berubah dan kenyataannya ia tidak berubah. Yang timbul selanjutnya adalah perasaan kecewa dan menyesal.

Para orangtua, dalam hal jodoh, biasanya berpesan untuk memerhatikan bibit, bebet, dan bobot. Ini pesan penting yang sering diabaikan.

Saran bagi para jomblowan dan jomblowati yang sedang mencari jodoh atau yang sekarang lagi pacaran, benar-benar perhatikan pesan orangtua untuk memerhatikan bibit, bebet, dan bobot. Mumpung lagi pacaran. Kalau dirasa tidak cocok atau tidak ada komitmen untuk menjalani hidup dengan baik, sebagaimana layaknya suami/istri yang dewasa dalam sikap dan karakter, sebaiknya jangan diteruskan.

Bagi suami/istri yang pasangannya belum seperti yang diharapkan, jangan putus asa. Kabar baiknya, semua orang bisa berubah asal bersedia dan tahu caranya. Kabar buruknya, bila ia tidak bersedia atau tidak merasa perlu berubah maka apapun yang dilakukan tidak akan bisa mengubahnya.

Sikap, karakter, kebiasaan, belief, dan value letaknya di pikiran bawah sadar. Untuk mengubahnya tentu butuh teknik yang tepat. Dan ini bisa dilakukan.

Bagaimana bila pasangan tidak mau berubah? Apakah perlu cari pasangan baru?
Cari pasangan baru belum tentu menyelesaikan masalah. Bagaimana bila jumpa pasangan baru yang karakternya kurang lebih sama dengan yang sebelumnya?

Langkah awal membuat perubahan diawali dengan mengubah diri sendiri. Perubahan diri ini cepat atau lambat pasti akan berimbas pada lingkungan, termasuk pasangan.

Biasanya suami atau istri tanpa disadari sering mengeluh dan memperkuat sikap, sifat, kebiasaan pasangannya dengan memberi afirmasi antara lain "Saya heran... kamu kok tidak bisa berubah" , "Kalau dulu saya tahu kamu seperti ini pasti saya tidak mau kawin sama kamu" , "Makin hari makin parah saja sikapmu", dan berbagai kalimat lain yang justru menguatkan perilaku pasangannya yang justru tidak disukai.

Ini akan semakin parah bila suami/istri menceritakan kondisi pasangannya ke keluarga, rekan, atau orang lain karena menjadi afirmasi yang diperkuat oleh pandangan dan ekspektasi publik/lingkungan terhadap pasangannya.

Cobalah mulai dengan mengubah sikap, pandangan, dan kalimat terhadap pasangan. Katakan apa yang Anda inginkan terjadi. Gunakan kalimat positif seperti "Saya yakin dan percaya kamu adalah suami/istri yang baik" , "Yang nakal itu kan hanya satu Bagian Dirimu. Ada banyak Bagian Dirimu yang lain yang sangat baik, yang sabar, tanggung jawab, pengertian, dan dewasa."

Kita semua orang beriman dan yakin bahwa Tuhan selalu memberikan yang terbaik untuk setiap umatnya. Kita yakin bahwa Tuhan tidak mungkin salah karena Mahabenar. Tuhan tidak pernah menyusahkan umatnya karena Mahapengasih dan Mahapenyayang.

Waktu masih kasmaran orang akan berkata, "Inilah jodoh yang Tuhan berikan padaku." Bila ini benar jodoh harusnya pasti akan baik hasilnya. Namun, mengapa banyak pasangan yang setelah menjalani hidup bersama beberapa saat kemudian malah ribut dan akhirnya memutuskan pisah?

Waktu pisah umumnya mereka berkata, "Ternyata ini bukan jodoh saya." Lha... kalau begitu mereka menyalahkan Tuhan?

Pemahaman saya adalah Tuhan memberikan pasangan yang terbaik untuk diri kita, untuk melatih diri kita, untuk mengembangkan potensi kita, untuk menjadi diri yang lebih baik dengan hidup dan bertumbuh bersama pasangan kita.

Secara tidak langsung, dengan hidup bersama pasangan, maka kita juga "diminta" untuk membantu pasangan kita berkembang menjadi pribadi yang lebih baik.

Dalam beberapa kasus memang kondisinya sungguh tidak kondusif. Ada pasangan yang egois, ada yang kurang menghargai, tidak sabaran, dll, dll... dan di sinilah indahnya dan seni berumah tangga. Bila semua berjalan mulus, lancar, tidak ada masalah sama sekali maka hidup menjadi monoton dan membosankan. Justru dari perbedaan inilah kita akhirnya bisa saling mencintai secara total.

Bisa Anda bayangkan bila pelangi hanya ada satu warna? Bagaimana bila balon ulang tahun juga hanya satu warna? Tidak menarik, kan? Justru warna-warni ini membuat semuanya menjadi lebih indah.

Dari sisi ilmu pikiran, kita hanya akan tertarik dengan orang yang kualitas diri dan nilai hidupnya kurang lebih sama dengan kita. Inilah hasil kerja Hukum Daya Tarik (LOA).

Dan ingat, saat dua orang bertemu dan memutuskan untuk hidup bersama maka ada dua program pikiran yang bisa saling mendukung atau saling berseteru.

Program pikiran ini, yang tampak dalam sikap, pola pikir, kebiasaan, dan perilaku, adalah hasil proses tumbuh kembang yang telah dilalui masing-masing pasangan.

Jadi, jangan gunakan prinsip "Saya mencintai kamu kalau.... ". Relasi suami istri akan sangat indah bila menggunakan prinsip "Saya mencintai kamu walau.....". Hanya beda satu huruf "k" dan "w" tapi efeknya sungguh luar biasa.

Mau tau rahasia sukses bisnis bersama suami/istri? Like/Follow:
INSTAGRAM: Ustadzah Fenny Ferawati

Info dan kerjasama silakan klik disini.

Baca juga:

Comments

  1. terima kasih pencerahannya ustadzah

    ReplyDelete
  2. Wah bagus banget 😊 memang benar jika sedang terjadi masalah dengan suami/istri lebih baik ga usah menceritakan kekurangan pasangan kekeluarga apalagi ke orang lain. Seberat apapun tetap tutupi aib pasangan masing2.. 😊

    ReplyDelete
    Replies
    1. karena bagaimanapun pasangan kita adl cerminan kita sendiri :)

      Delete

Post a Comment

Artikel Terpopuler

Menikah dan Memahami Pasangan

Ciptaan Allah yang satu ini sungguh luar biasa indahnya. Sebuah perpaduan warna yang tak satu mahluk pun mampu membuatnya, meski berbeda namun selalu kompak dan harmonis. Kehidupan pernikahan bisa diibaratkan sebuah pelangi. Tak jarang banyak perbedaan karakter, mindset, latar belakang kehidupan, pendidikan dan berbagai macam ketidaksamaan. Namun satu hal, bagaimana semua itu terlihat mempesona.
Angan yang terlalu melambung tinggi ketika memimpikan sosok pasangan yang super lembut, sabar, bijaksana dan selalu mencintai pasangan. Namun ketika realita berkata lain, pantaskah pasutri berfikir untuk segera mengakhiri fragmen kehidupan pernikahan?
Episode kehidupan Asma binti Abu Aakar dengan Zubair bin Awwam kiranya cukup menjadi pelajaran berharga. Betapa rumah tangga mereka tetap solid meski kemiskinan dan kesulitan hidup tak lepas dari hari-harinya.
Asma harus berjuang membawa air dan merawat kuda. Sungguh keikhlasan itulah yang telah membuat cinta mereka bersatu. Sementara Zubair adalah …

Peran Ayah Dalam Pendidikan Anak

Al-Qur’an menyebutkan beberapa kisah ayah bersama anaknya. Diantaranya adalah kisah Nabi Ibrahim, Nabi Nuh, Ya’qub dalam surat Al- Baqoroh 132-133, QS. Luqman 12-19, QS. Yusuf. Proses pendidikan bukan hanya terjadi pada kita saja, akan tetapi terjadi pula pada para Nabi dan Rasul. Ketika kita membaca kisah Nabi Ibrahim yang sabar dalam menjalankan perintah Allah. Hajar yang tegar, dan Ismail yang sabar. Pertanyaannya apakah pengorbanan mereka datang secara kebetulan atau melalui proses tarbiyah (pendidkan)?
Jika contoh diatas ada pada Nabi dan Rasul. Maka beda halnya dengan Luqman. Dia adalah hamba Allah yang shalih. Berkat keshalihannya Allah berikan padanya kata-kata hikmah yang menghiasi lembaran Al-Qur’an. Nasihat Luqman yang ia berikan kepada anaknya dan menjadi pelajaran bagi kita.
وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kep…

Suami dan Keridhoannya

(Nasehat indah dari Ustadz Nasrullah Gontor)
Ada seorang ibu, mau cerai dari suaminya. Lalu dia diskusi panjang dengan saya.... + Pak Nas, saya sudah nggak kuat dengan suami saya. Saya mau cerai saja...
-: emangnya kenapa bu? + ya suami saya udah nggak ada kerjanya, nggak kreatif, nggak bisa jadi pemimpin untuk anak2. Nanti gimana anak2 saya kalau ayahnya modelnya kayak begitu. Saya harus cari nafkah capek2 dia santai aja di rumah.

-: oh gitu, cuma itu aja? + sebenarnya masih banyak lagi, tapi ya itu mungkin sebab yang paling utama.
-: oooh... iya... mau tahu pandangan saya nggak bu? + boleh pak Nas.

-: gini... ibarat orang punya kulkas, tapi dipakainya untuk lemari pakaian, ya akhirnya nggak bakal puas dengan produk kulkas tersebut. Sudahlah nggak muat banyak, nggak ada gantungan pakaiannya, nggak ada lacinya, nggak  bisa dikunci, malah boros listrik...
Nah... itulah kalau kita pakai produk nggak sesuai fungsi. Sebagus apapun produknya kalau dipakai tidak sesuai peruntukannya ya nggak ak…

10 Sifat Istri yang Membuat Rejeki Mengalir Deras

Banyak suami yang mungkin tidak tahu kalau rejekinya dengan izin Allah mengalir lancar atas peran istri. Memang tidak dapat dilihat secara kasat mata, tetapi dapat dijelaskan secara spiritual kalau 10 karakter istri ini ‘membantu’ menghadirkan rejeki untuk suami dan rumah tangganya.
1. Istri yang pandai bersyukur Istri yang bersyukur atas semua karunia Allah pada hakikatnya dia sedang mengundang tambahan nikmat untuk suaminya. Termasuk juga rejeki. Miliki suami, bersyukur. Jadi ibu, bersyukur. Anak-anak dapat mengaji, bersyukur. Suami memberi nafkah, bersyukur.
2. Istri yang tawakal kepada Allah Di waktu seseorang bertawakkal pada Allah, Allah akan mencukupi rejekinya. “Dan barangsiapa yang bertawakkal pada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya.” (QS. Ath Thalaq : 3). Bila seseorang istri bertawakkal pada Allah, sementara dia tidak bekerja, dari mana dia dicukupkan rejekinya. Allah akan mencukupkannya dari jalan lain, tidak selamanya harus langsung diberikan pada wanit…