Skip to main content

Menerima Maha Duit

fenny ferawati


Rezeki materi bukan cuma masalah kebendaan duniawi belaka. Esensinya rezeki adalah wujud Zat-Nya, yakni wujud Ar-Razzâq-Nya; Maha Rezeki adalah salah satu nama besar-Nya.

Rezeki adalah karakter-Nya; karakter Ar-Razzâq. Sebagai karakter Tuhan tentu rezeki merupakan bentuk kesadaran diri, sebab di dalam diri Anda ter-install karakter-karakter-Nya sebagaimana tertera dalam Asmâul Husnâ. Maka di dalam kesadaran Anda ada kesadaran Ar-Razzâq.

Karena prosperity rezeki hanya sebuah kesadaran, maka bagi yang masih tertutup kesadaran Ar-Razzâq-Nya, dia ada rasa penolakan pada kemewahan, muncul rasa benci melihat keberlimpahan, muncul rasa tidak nyaman. Dulu saya pernah menonton di Youtube gaya hidup masyarakat kelas atas di Dubai yang tissue WC saja memakai bahan bercampur emas. Dalam hati saya ada muncul tudingan mubazir, idhâ'atil mâl (menyia-nyiakan harta) dan lain-lain. Padahal itu harta mereka, apa urusannya dengan saya?
Namun semakin terbukanya kesadaran, saya jadi mengerti kalau tudingan batin saya itu karena saya masih menolak keberlimpahan, saya masih tertutup dengan kesadaran Ar-Razzâq-Nya.

Bahkan, jangankan menyaksikan kemewahan tidak risi batinnya, orang yang kesadaran Ar-Razzâq-nya masih tertutup, untuk sekedar baca artikel tentang keberlimpahan duit saja malas, batinnya menolak. Maunya baca yang tasawuf, yang spiritual, yang tauhid, yang bersifat ahli kubur, yang bersifat ibadah, dan lain-lain, pokoknya asal bukan topik duit. Lihat status facebook tentang duit, batinnya langsung nunjuk, "Ini orang cinta dunia."

Kualitas menerima kemewahan yang dipamer-pamerkan berarti dia hubbul mâl (cinta harta)? Ya tidak apa disebut cinta harta duniawi, Tuhan saja mencintai rezeki, buktinya Dia jadikan rezeki sebagai salah satu nama agung-Nya, ya Tuhan bergelar Maha Duit. Dan orang yang mengingkari nikmat rezeki-Nya, Dia sebut "kufur" alias orang kurang ajar. Artinya rezeki bagi Tuhan itu "sesuatu banget".

أَقْرَأَنِي رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ (إِنِّى أَنَا الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِيْنُ)
“Rasulullah S.A.W. membacakan kepadaku (Abdullah bin Mas'ud)--akan firman Allah--, “Sesungguhnya Aku adalah Ar-Razzâq (Maha Rezeki), yang Maha Kuat lagi Maka Kokoh.” (H.R. Abu Dawud, At-Tirmidzi dan lain-lain)

Mengapa ayam tidak ada yang numpang tidur di kamar hotel? Seolah alam semesta tidak pernah menjatah kamar hotel untuk ayam? Karena kesadaran si ayam tidak bisa menerima suasana elegan kamar hotel, dia kesadarannya lebih menerima pada kandang bambu yang berbau telek.

Akan halnya rezeki di alam semesta ini, Anda menerima atau tidak, rezeki sebagai keberlimpahan dari Zat-Nya Yang Maha Rezeki? Kalau Anda masih menolak, siap-siap saja seperti ayam di kamar hotel.
Di dalam spiritual justru di situ ada kesadaran untuk sanggup menerima Zat-Nya apa adanya, termasuk menerima Maha Duit-Nya.

Jadi Anda jangan mengira orang-orang yang hijrah dari duit untuk intens di dalam spiritual itu orang-orang tersucikan. Belum tentu.

Kalau sudah pernah kaya raya seperti Gede Prama, lalu hijrah untuk intens dalam spiritual. Atau seperti Gobind Vashdev yang populer di dunia online, lalu dia memilih tutup wall facebook. Atau seperti Sunan Kalijaga yang putra adipati ningrat, atau seperti Budha Gautama yang anak raja, lalu memilih hidup asketik bertapa. Atau seperti Imam Ghazali yang sudah meraih popularitas sebagai ilmuwan lalu dia memilih 'uzlah. Atau seperti Muhammad S.A.W. yang sesudah dia sukses sebagai pembisnis lalu memilih jalan dakwah. Dengan mereka, saya baru percaya kalau itu spiritual.

Artinya mereka sudah menerima baik Maha Rezeki-Nya di alam semesta, lalu mereka memilih untuk sederhana.

Terimalah Kemahaduitan-Nya di dalam diri Anda, terimalah Dia. Bagaimana Anda mau punya duit, baca tulisan tentang duit saja batinnya menolak, lihat orang kaya saja jijik. Kesadaran demikian bukan kesadaran spiritual, tetapi kesadaran miskin.


Mau tau rahasia sukses bisnis bersama suami/istri? Like/Follow:
INSTAGRAM: Fenny Ferawati

Info dan kerjasama silakan klik disini.

Baca juga:

Comments

Artikel Terpopuler

Menikah dan Memahami Pasangan

Ciptaan Allah yang satu ini sungguh luar biasa indahnya. Sebuah perpaduan warna yang tak satu mahluk pun mampu membuatnya, meski berbeda namun selalu kompak dan harmonis. Kehidupan pernikahan bisa diibaratkan sebuah pelangi. Tak jarang banyak perbedaan karakter, mindset, latar belakang kehidupan, pendidikan dan berbagai macam ketidaksamaan. Namun satu hal, bagaimana semua itu terlihat mempesona.
Angan yang terlalu melambung tinggi ketika memimpikan sosok pasangan yang super lembut, sabar, bijaksana dan selalu mencintai pasangan. Namun ketika realita berkata lain, pantaskah pasutri berfikir untuk segera mengakhiri fragmen kehidupan pernikahan?
Episode kehidupan Asma binti Abu Aakar dengan Zubair bin Awwam kiranya cukup menjadi pelajaran berharga. Betapa rumah tangga mereka tetap solid meski kemiskinan dan kesulitan hidup tak lepas dari hari-harinya.
Asma harus berjuang membawa air dan merawat kuda. Sungguh keikhlasan itulah yang telah membuat cinta mereka bersatu. Sementara Zubair adalah …

Menyikapi Tabiat Pasangan

Seorang teman mengeluhkan sikap dan tabiat suaminya yang menurutnya egois dan kekanak-kanakan. Teman ini merasa menyesal telah menikah dengan suaminya.
Setahu saya sikap, karakter, atau kebiasaan tidak tercipta semalam dan juga tidak bisa berubah hanya semalam. Apa yang ditunjukkan suaminya saat ini, dalam pemahaman saya, sebenarnya telah ditunjukkan dulu waktu sebelum menikah.

"Apakah suamimu baru sekarang ini sikap dan perilakunya seperti yang kamu keluhkan?" tanya saya.
"Oh.. sudah dari dulu" jawabnya.
"Sejak masih pacaran ya," tanya saya lagi.
"Ya...." jawab teman.
"Lha... kalau sudah tahu begini kok ya diteruskan sampai nikah?" tanya saya penasaran.
"Saya pikir nanti kalau sudah nikah dia bisa berubah. Ternyata tidak mau berubah dan malah tambah parah. Katanya suami, dia sejak lahir ya seperti ini. Suami bilang saya harus menerima dia apa adanya," keluhnya.
Memang demikianlah yang sering terjadi. Kita berharap pasangan be…

Peran Ayah Dalam Pendidikan Anak

Al-Qur’an menyebutkan beberapa kisah ayah bersama anaknya. Diantaranya adalah kisah Nabi Ibrahim, Nabi Nuh, Ya’qub dalam surat Al- Baqoroh 132-133, QS. Luqman 12-19, QS. Yusuf. Proses pendidikan bukan hanya terjadi pada kita saja, akan tetapi terjadi pula pada para Nabi dan Rasul. Ketika kita membaca kisah Nabi Ibrahim yang sabar dalam menjalankan perintah Allah. Hajar yang tegar, dan Ismail yang sabar. Pertanyaannya apakah pengorbanan mereka datang secara kebetulan atau melalui proses tarbiyah (pendidkan)?
Jika contoh diatas ada pada Nabi dan Rasul. Maka beda halnya dengan Luqman. Dia adalah hamba Allah yang shalih. Berkat keshalihannya Allah berikan padanya kata-kata hikmah yang menghiasi lembaran Al-Qur’an. Nasihat Luqman yang ia berikan kepada anaknya dan menjadi pelajaran bagi kita.
وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kep…

Suami dan Keridhoannya

(Nasehat indah dari Ustadz Nasrullah Gontor)
Ada seorang ibu, mau cerai dari suaminya. Lalu dia diskusi panjang dengan saya.... + Pak Nas, saya sudah nggak kuat dengan suami saya. Saya mau cerai saja...
-: emangnya kenapa bu? + ya suami saya udah nggak ada kerjanya, nggak kreatif, nggak bisa jadi pemimpin untuk anak2. Nanti gimana anak2 saya kalau ayahnya modelnya kayak begitu. Saya harus cari nafkah capek2 dia santai aja di rumah.

-: oh gitu, cuma itu aja? + sebenarnya masih banyak lagi, tapi ya itu mungkin sebab yang paling utama.
-: oooh... iya... mau tahu pandangan saya nggak bu? + boleh pak Nas.

-: gini... ibarat orang punya kulkas, tapi dipakainya untuk lemari pakaian, ya akhirnya nggak bakal puas dengan produk kulkas tersebut. Sudahlah nggak muat banyak, nggak ada gantungan pakaiannya, nggak ada lacinya, nggak  bisa dikunci, malah boros listrik...
Nah... itulah kalau kita pakai produk nggak sesuai fungsi. Sebagus apapun produknya kalau dipakai tidak sesuai peruntukannya ya nggak ak…

10 Sifat Istri yang Membuat Rejeki Mengalir Deras

Banyak suami yang mungkin tidak tahu kalau rejekinya dengan izin Allah mengalir lancar atas peran istri. Memang tidak dapat dilihat secara kasat mata, tetapi dapat dijelaskan secara spiritual kalau 10 karakter istri ini ‘membantu’ menghadirkan rejeki untuk suami dan rumah tangganya.
1. Istri yang pandai bersyukur Istri yang bersyukur atas semua karunia Allah pada hakikatnya dia sedang mengundang tambahan nikmat untuk suaminya. Termasuk juga rejeki. Miliki suami, bersyukur. Jadi ibu, bersyukur. Anak-anak dapat mengaji, bersyukur. Suami memberi nafkah, bersyukur.
2. Istri yang tawakal kepada Allah Di waktu seseorang bertawakkal pada Allah, Allah akan mencukupi rejekinya. “Dan barangsiapa yang bertawakkal pada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya.” (QS. Ath Thalaq : 3). Bila seseorang istri bertawakkal pada Allah, sementara dia tidak bekerja, dari mana dia dicukupkan rejekinya. Allah akan mencukupkannya dari jalan lain, tidak selamanya harus langsung diberikan pada wanit…