Skip to main content

Hemat Kog Pangkal Kaya

hemat pangkal kaya
Yang lazim, insting marketing reptil manusia ber-feeling "hemat pangkal kaya", irit berarti proses menjadi kaya. Irit artinya hitung-hitungan ketat agar duit tidak keluar banyak-banyak.

Rezeki alam semesta, Anda unduh dengan apa? Dengan kerja? Dengan pikiran? Atau dengan modal?

Dengan kerja, 12 jam otot Anda untuk kerja bangunan sudah loyo. Dengan pikiran, pikiran Anda dipakai menghitung debet dan kredit pada akhir bulan juga sudah pening. Dengan modal, cari hutangan untuk beli sayuran juga jarang ada warung yang mau memberikan, apalagi cari hutangan modal.

Rezeki itu diunduh memakai perasaan. Rasa hati Anda yang mengunduhnya. Maka ini, Al-Qur'an mengajarkan unduh rezeki berlimpah memakai rasa syukur, rasa tawakal, rasa takwa. Tidak ada jaminan rezeki berlimpah bagi yang berotot kuat, yang cerdas bisnis, yang bermodal banyak, dan lain sebagainya.

Mengunduh rezeki dengan rasa. Dulu saya pernah menjelaskan, bahwa rasa itu bukan urusan fisika Newtonion yang analistis, logis, dan mekanis. Maka ini, rasa pada duit jangan dibuat-buat dengan analistis, logis dan mekanis.

" Ngitung-ngitung duit" itu artinya menganalistikkan rezeki, melogiskan rezeki, dan memaknikkan rezeki. Sebulan pemasukan sekian, berarti untuk keperluan A sekian, untuk keperluan B sekian, untuk keperluan C sekian. Duit terencana matang.

Perilaku demikian artinya membatasi rasa Anda pada duit. Duit yang seharusnya diunduh dengan rasa hati yang berlimpah alias rasa syukur malahan disempitkan sendiri oleh rasa perhitungannya.

Dulu saya pernah menguraikan, anā 'inda zhannī 'abdī bī artinya Aku sesuai prasangka hamba-Ku terhadap-Ku. Hadits qudsī ini sudah sangat populer. Artinya Tuhan itu perepons terhadap setiap getaran rasa yang terpapar. Di sini posisi Tuhan merespons, Anda pemberi affirmasi dan atensinya. Sedang macet di jalan, Anda memaki-maki dengan enek, Tuhan meresponsnya, Anda berdamai dengan rasa keadaan macet, juga Tuhan tinggal meresponsnya. Sumpek akan direspons ruwet, legawa direspons keberlimpahan.

Tuhan Maha Perespons, maka itu semesta ini bermain rasa. Makin Anda mampu meluaskan rasa Anda, maka semesta makin memberikan opsi-opsi kemungkinan apa yang akan menjadi realita. Makin Anda mengerdilkan rasa Anda, semesta juga akan menyiutkan opsi kemungkinan realitas yang akan terjadi.
Karena ini menjadi penting bagi Anda berprasangka keluar dari rumus fisika Newtonian.

Rumus fisika Newtonian itu statis dan analitis, kalau Anda kerja buruh sehari dibayar 75 ribu, berarti sebulan Anda dapat bayaran Rp 2.250.000,00. Kalau Anda hanya bermain rumus fisika Newtonian, Anda berhadapan dengan realitas fisik dengan perhitungan-perhitungan dan hasil terhitung. Ketika hal ini masuk ke alam bawah sadar Anda, Tuhan tinggal merespons saja. Hasilnya, perolehan sesuai kerja fisik Anda.
Coba sekarang kalau fisik Anda bekerja buruh dengan bayaran 75 ribu per hari, tetapi rasa Anda mengakses rasa berlimpah, tidak terbebani hitung-hitungan, ingin beli sesuatu asal cukup oke, butuh pengeluaran A asal cukup enjoy saja, segala bentuk pengeluaran dirasa dengan enjoy dan happy, tentu respons semesta akan meluas untuk menghadirkan realita kemungkinan di luar perhitungan rumus.

Rasa harus keluar dari hitungan mekanis analitis, keluar dari hukum Newtonian, karena memang rasa bukan perkara fisika Newtonian, jadi jangan dihitung-hitung dengan rumus. Jangan berperasaan, "Aku hanya seorang buruh, penghasilan susah mencapai 5 juta per bulan, karena sehari aku cuma bisa menghasilkan 150.000 rupiah," karena rasa seperti ini membatasi rasa Anda dengan hukum fisika Newtonian, padahal rasa bukan urusan Newtonian, fisika Newtonian bertugas mengurusi material kasar.

Rasa bisa keluar dari perhitungan rumus fisika Newtonian yang kemudian Anda sebut "syukur"; suatu rasa yang terus mengunggah rasa berlimpah, rasa Tuhan tiada henti mencukupinya.

Demikian halnya tawakal, ini suatu penerapan rasa yang benar, yakni rasa tidak lagi ditelikung geraknya oleh hukum Newtonian. Dalam keadaan terpepet, misalkan punya anak 5 yang sekolah semua, Anda cuma warung kecil dengan penghasilan 50 ribu per hari, tetapi Anda tawakal, yakni keluar dari hitungan rumus 50 ribu rupiah untuk membiayai 5 anak yang sekolah semua, maka ketika rasa tawakal yang terunggah, semesta meresponsnya bukan sebagai perhitungan rumus Newtonian, dengan segera semesta mencipta realita "fa huwa hasbuh" (Dia yang mencukupi), terbentuk realita "min haitsu lā yahtasib" (rizki dari arah yang tak tersangka).

Qana'ah (menerima apa adanya) juga demikian. Ini permainan rasa tinggi, di mana segala kepentingan adalah "cukup hingga di sini". Handphone sudah cukup ini saja, mobil sudah cukup ini saja, rumah sudah cukup ini saja, dan seterusnya. Ketika rasa ini yang terunggah, semesta justru melihat Anda sebagai orang yang sangat berkecukupan dan melimpah. Karena terlihat melimpah, semesta justru meresponsnya dengan keberlimpahan. Jadi rasa qana'ah justru mengkayakan. Pengkayaan keberlimpahan dalam qana'ah itu ibarat kolong yang terbentuk sendiri karena meja terbentuk, ketika rasa qana'ah terbentuk, kolongnya yakni rezeki berlimpah terbentuk sendiri.

Nah Tuhan itu perespons, pengirim affirmasi dan atensinya adalah Anda. Kalau Anda menggunakan rumus fisika Newtonian untuk rasa Anda, itu sama saja melawan hukum semesta, karena rasa bukan urusan fisika Newtonian. Mulai sekarang jangan berkata, "Sehari aku berpenghasilan 75 ribu sehingga sebulan penghasilanku 2.250.000 rupiah," tapi gantilah, "Aku kaya raya" (rasa syukur), "Aku dicukupi Tuhan" (rasa tawakal), "Aku sudah cukup" (rasa qana'ah).

Dan inilah memperlakukan rasa yang sesuai haknya, karena menjadi kufur nikmat ketika rasa dibatasi dengan perhitungan rumus fisika Newtonian.

Masih mau berprinsip "hemat pangkal kaya", hitung-hitungan rezeki dari Tuhan? Rezeki Tuhan disangkakan dengan rasa berhitung, respons-Nya juga tinggal menyesuaikan.


Mau tau rahasia sukses bisnis bersama suami/istri? Like/Follow Facebook:

Info dan kerjasama silakan klik disini.

Comments

Artikel Terpopuler

Menikah dan Memahami Pasangan

Ciptaan Allah yang satu ini sungguh luar biasa indahnya. Sebuah perpaduan warna yang tak satu mahluk pun mampu membuatnya, meski berbeda namun selalu kompak dan harmonis. Kehidupan pernikahan bisa diibaratkan sebuah pelangi. Tak jarang banyak perbedaan karakter, mindset, latar belakang kehidupan, pendidikan dan berbagai macam ketidaksamaan. Namun satu hal, bagaimana semua itu terlihat mempesona.
Angan yang terlalu melambung tinggi ketika memimpikan sosok pasangan yang super lembut, sabar, bijaksana dan selalu mencintai pasangan. Namun ketika realita berkata lain, pantaskah pasutri berfikir untuk segera mengakhiri fragmen kehidupan pernikahan?
Episode kehidupan Asma binti Abu Aakar dengan Zubair bin Awwam kiranya cukup menjadi pelajaran berharga. Betapa rumah tangga mereka tetap solid meski kemiskinan dan kesulitan hidup tak lepas dari hari-harinya.
Asma harus berjuang membawa air dan merawat kuda. Sungguh keikhlasan itulah yang telah membuat cinta mereka bersatu. Sementara Zubair adalah …

Menyikapi Tabiat Pasangan

Seorang teman mengeluhkan sikap dan tabiat suaminya yang menurutnya egois dan kekanak-kanakan. Teman ini merasa menyesal telah menikah dengan suaminya.
Setahu saya sikap, karakter, atau kebiasaan tidak tercipta semalam dan juga tidak bisa berubah hanya semalam. Apa yang ditunjukkan suaminya saat ini, dalam pemahaman saya, sebenarnya telah ditunjukkan dulu waktu sebelum menikah.

"Apakah suamimu baru sekarang ini sikap dan perilakunya seperti yang kamu keluhkan?" tanya saya.
"Oh.. sudah dari dulu" jawabnya.
"Sejak masih pacaran ya," tanya saya lagi.
"Ya...." jawab teman.
"Lha... kalau sudah tahu begini kok ya diteruskan sampai nikah?" tanya saya penasaran.
"Saya pikir nanti kalau sudah nikah dia bisa berubah. Ternyata tidak mau berubah dan malah tambah parah. Katanya suami, dia sejak lahir ya seperti ini. Suami bilang saya harus menerima dia apa adanya," keluhnya.
Memang demikianlah yang sering terjadi. Kita berharap pasangan be…

Peran Ayah Dalam Pendidikan Anak

Al-Qur’an menyebutkan beberapa kisah ayah bersama anaknya. Diantaranya adalah kisah Nabi Ibrahim, Nabi Nuh, Ya’qub dalam surat Al- Baqoroh 132-133, QS. Luqman 12-19, QS. Yusuf. Proses pendidikan bukan hanya terjadi pada kita saja, akan tetapi terjadi pula pada para Nabi dan Rasul. Ketika kita membaca kisah Nabi Ibrahim yang sabar dalam menjalankan perintah Allah. Hajar yang tegar, dan Ismail yang sabar. Pertanyaannya apakah pengorbanan mereka datang secara kebetulan atau melalui proses tarbiyah (pendidkan)?
Jika contoh diatas ada pada Nabi dan Rasul. Maka beda halnya dengan Luqman. Dia adalah hamba Allah yang shalih. Berkat keshalihannya Allah berikan padanya kata-kata hikmah yang menghiasi lembaran Al-Qur’an. Nasihat Luqman yang ia berikan kepada anaknya dan menjadi pelajaran bagi kita.
وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kep…

Suami dan Keridhoannya

(Nasehat indah dari Ustadz Nasrullah Gontor)
Ada seorang ibu, mau cerai dari suaminya. Lalu dia diskusi panjang dengan saya.... + Pak Nas, sy sdh ga kuat dgn suami saya. Saya mau cerai saja...
-: emangnya kenapa bu? + ya suami saya udah ga ada kerjanya, ga kreatif, ga bisa jadi pemimpin utk anak2. Nanti gimana anak2 saya kalau ayahnya modelnya kayak begitu. Saya harus cari nafkah cape2 dia santai aja di rumah.
-: oh gitu, cuma itu aja? + sebenarnya masih banyak lagi, tapi ya itu mungkin sebab yg paling utama.
-: oooh... iya... mau tahu pandangan saya ga bu? + boleh pak Nas.
-: gini... ibarat orang punya kulkas, tapi dipakainya untuk lemari pakaian, ya akhirnya ga bakal puas dengan produk kulkas tersebut. Sudahlah ga muat banyak, ga ada gantungan pakaiannya, ga ada lacinya, ga bisa dikunci, malah boros listrik... Nah... itulah kalau kita pakai produk ga sesuai fungsi. Sebagus apapun produknya kalau dipakai tidak sesuai peruntukannya ya ga akan puas. + Mmm... trus apa hubungannya sama suami…

10 Sifat Istri yang Membuat Rejeki Mengalir Deras

Banyak suami yang mungkin tidak tahu kalau rejekinya dengan izin Allah mengalir lancar atas peran istri. Memang tidak dapat dilihat secara kasat mata, tetapi dapat dijelaskan secara spiritual kalau 10 karakter istri ini ‘membantu’ menghadirkan rejeki untuk suami dan rumah tangganya.
1. Istri yang pandai bersyukur Istri yang bersyukur atas semua karunia Allah pada hakikatnya dia sedang mengundang tambahan nikmat untuk suaminya. Termasuk juga rejeki. Miliki suami, bersyukur. Jadi ibu, bersyukur. Anak-anak dapat mengaji, bersyukur. Suami memberi nafkah, bersyukur.
2. Istri yang tawakal kepada Allah Di waktu seseorang bertawakkal pada Allah, Allah akan mencukupi rejekinya. “Dan barangsiapa yang bertawakkal pada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya.” (QS. Ath Thalaq : 3). Bila seseorang istri bertawakkal pada Allah, sementara dia tidak bekerja, dari mana dia dicukupkan rejekinya. Allah akan mencukupkannya dari jalan lain, tidak selamanya harus langsung diberikan pada wanit…