Skip to main content

Ada Yang Bisa Saya Bantu?

pesugihan
Anda tidak asing dengan pesugihan? Walaupun secara bahasa "pesugihan" adalah kata umum yang berarti cara-cara bagaimana sugih (kaya), namun kata ini secara lazim dimaknai untuk para pencari kekayaan dengan memuja setan menggunakan akses mistik.

Salah satu gaya fundamental alam semesta di level material adalah gaya gravitasi ataupun elektromagnet, di mana antar partikel materi saling tarik menarik dengan partikel lain sehingga kedua partikel materi saling tolak menolak. Gaya ini di dimensi emosi adalah ego Anda.

Di level material, Anda menarik prosperity menggunakan gaya ego, gaya fundamental tarik menarik partikel-partikel materi alam. Dengan gaya ini efek reaksinya terbentuk efek homo homini lupus, tidak peduli kesengsaraan dan penderitaan yang lain, yang penting keuntungan diri.

Maka ini prosperity di level material sekarakter pesugihan memuja setan, yakni selalu ada korban untuk tumbal; yang lain disengsarakan demi keuntungan diri, sama seperti pesugihan memuja setan, Anda enak sendiri, tapi korban, misal anak Anda, yang disengsarakan jadi tumbal.

Sistem renten, sistem kriminal, sistem pornografi, sistem kapital, sistem otoriter, semuanya setingkat pesugihan memuja setan, yakni gaya ego Anda menarik kuat energi lain.

Gaya penarikan prosperity semacam ini, berbalik 180° dengan karakter prosperity Tuhan. Rezeki adalah karakter Tuhan yakni karakter Ar-Razzâq (Maha Rezeki). Tuhan meraih Al-Ghinâ (Maha Kaya) dengan sistem berbagi yakni dari Zat-Nya mengeluarkan sesuatu untuk lainnya. Entah apa yang terjadi andai Tuhan membangun kekayaan-Nya dengan menumpuk-numpuk harta-Nya untuk kepentingan pribadi-Nya. Tuhan menjadi Maha Kaya justru lantaran kemampuan berbagi-Nya yang tak terbatas. Semua yang ada di sisi-Nya digunakan untuk membesarkan kemakmuran makhluk-Nya.

Kita seringkali salah menyadari sistem prosperity alam semesta, menyangka bahwa prosperity diri itu dimulai apabila kita menarik sesuatu dari orang lain ke dalam diri kita. Kita menafsirkan prosperity diri itu dimulai apabila "ada keuntungan yang masuk ke dalam diri kita".

Sistem prosperity alam semesta tidak demikian. Alam semesta--sebagaimana dulu saya jelaskan--memulai prosperity justru dari modal. Modal itu adalah sesuatu yang Anda keluarkan untuk orang lain.

Sebelum Anda menarik keuntungan dari toko, Anda harus belanja kulakan terlebih dulu. Belanja kulakan ini disebut modal. Jadi sebelum meraih prosperity dari toko, Anda harus " keluar untuk orang lain" alias modal.
Maka ini salah kalau Anda menyadari ingin meningkatkan finansial dengan cara membangun income dulu. Tidak begitu, meningkatkan finansial justru dengan cara membangun outcome dulu. Pengeluaran dulu kepada orang lain alias modal, baru ada income. Besarkan pasaknya dulu, baru besarnya tiang ngikuti.

Waktu bujangan banyak pria yang penghasilannya hanya cukup untuk beli bensin motor dan rokok, tetapi kenapa setelah menikah, setelah dia menanggung penghidupan anak istri justru bisa beli rumah, beli mobil, dan menjadi kaya? Itu disebabkan setelah menikah outcome-nya membesar, income-nya pun mengikuti.
Sekali lagi, memulai prosperity itu tidak dari besarnya income, tetapi dimulai dari besarnya outcome. Pengeluaran besarkan dulu baru pemasukan menyusul.

Beberapa waktu lalu saya teringat bagaimana Rico Huang membuka perbincangan Messenger kami berdua. Dia mengawali, "Gus, ada yang bisa saya bantu?" Padahal sebenarnya Mas Rico sedang ngajak saya untuk kerjasama bisnis. Dia butuh saya, saya pun butuh dia. Tapi dia mengawali dengan kata, "Ada yang bisa saya bantu?"

Dia memulai dari outcome lebih dulu untuk membuka hubungan kerjasama. Andai dia memulai dengan kata, "Gus, saya dibantu lah. Tolong sekali," pasti saya kabur sebelum menanggapinya.

Anda sering salah memulai hubungan sosial, Anda sering mengedepankan income ego Anda sehingga membuka peluang prosperity diri dengan, "Tolong saya dibantu". Tidak begitu, jika ingin membuka prosperity diri mulailah dari besar outcome, mulai dari besar modal, bukan dari income. Mulai dari, "Ada yang bisa saya bantu?"

Di Messenger Facebook saya, mungkin ada ratusan orang konsultasi yang isinya mengeluhkan keruwetan hidup mereka. Saya kenal juga belum, mereka datang minta tolong diberi solusi, bahasa pengantarnya sangat halus dan simpatik, " Mohon pencerahan". Tetapi model seperti ini justru model memulai prosperity diri dari income lebih dulu, dari sistem menarik keuntungan diri lebih dulu. Modal kenal dengan saya juga belum, modal komentar di status saya juga belum, langsung teriak minta tolong.

Dan pada akhirnya sekarang saya malahan dengan tegas menolak konsultasi via online, baik Whatsap, Instragram, Messenger, BBM dan lain-lain, dan juga via telepon. Saya memilih dengan tegas menolak dan hanya melayani konsultasi di dalam workshop dan training, kecuali konsultasi dari alumni-alumni workshop saya baik online maupun offline dan orang-orang yang secara pribadi dekat saya.

Kenapa saya bersikap demikian? Itu efek dari sistem prosperity yang dibangun tidak dari outcome, tidak dari modal, tapi dibangun dari income lebih dulu.

Jadi datangilah orang-orang di sekitar Anda dengan kesadaran, "Ada yang bisa saya bantu?" bukan dengan kesadaran, "Tolong saya dibantu." 

Saya pribadi mengalami perubahan hidup termasuk perubahan finansial juga dari outcome, yakni setelah saya membagikan ilmu-ilmu saya di Facebook, memberi dan terus memberi. Setelah banyak orang merasa mendapat pencerahan dari tulisan saya, baru kemudian income perubahan hidup terjadi pada diri saya.

Mulailah dari outcome untuk meningkatkan income karena memang itu sistem prosperity alam semesta, dan Tuhan pun juga menjadi Maha Kaya, Maha Rezeki, juga karena Tuhan memulainya dari berbagi kepada makhluk-makhluk-Nya.


Mau tau rahasia sukses bisnis bersama suami/istri? Like/Follow:
INSTAGRAM: Ustadzah Fenny Ferawati

Info dan kerjasama silakan klik disini.

Baca juga:

Comments

Artikel Terpopuler

Menikah dan Memahami Pasangan

Ciptaan Allah yang satu ini sungguh luar biasa indahnya. Sebuah perpaduan warna yang tak satu mahluk pun mampu membuatnya, meski berbeda namun selalu kompak dan harmonis. Kehidupan pernikahan bisa diibaratkan sebuah pelangi. Tak jarang banyak perbedaan karakter, mindset, latar belakang kehidupan, pendidikan dan berbagai macam ketidaksamaan. Namun satu hal, bagaimana semua itu terlihat mempesona.
Angan yang terlalu melambung tinggi ketika memimpikan sosok pasangan yang super lembut, sabar, bijaksana dan selalu mencintai pasangan. Namun ketika realita berkata lain, pantaskah pasutri berfikir untuk segera mengakhiri fragmen kehidupan pernikahan?
Episode kehidupan Asma binti Abu Aakar dengan Zubair bin Awwam kiranya cukup menjadi pelajaran berharga. Betapa rumah tangga mereka tetap solid meski kemiskinan dan kesulitan hidup tak lepas dari hari-harinya.
Asma harus berjuang membawa air dan merawat kuda. Sungguh keikhlasan itulah yang telah membuat cinta mereka bersatu. Sementara Zubair adalah …

Menyikapi Tabiat Pasangan

Seorang teman mengeluhkan sikap dan tabiat suaminya yang menurutnya egois dan kekanak-kanakan. Teman ini merasa menyesal telah menikah dengan suaminya.
Setahu saya sikap, karakter, atau kebiasaan tidak tercipta semalam dan juga tidak bisa berubah hanya semalam. Apa yang ditunjukkan suaminya saat ini, dalam pemahaman saya, sebenarnya telah ditunjukkan dulu waktu sebelum menikah.

"Apakah suamimu baru sekarang ini sikap dan perilakunya seperti yang kamu keluhkan?" tanya saya.
"Oh.. sudah dari dulu" jawabnya.
"Sejak masih pacaran ya," tanya saya lagi.
"Ya...." jawab teman.
"Lha... kalau sudah tahu begini kok ya diteruskan sampai nikah?" tanya saya penasaran.
"Saya pikir nanti kalau sudah nikah dia bisa berubah. Ternyata tidak mau berubah dan malah tambah parah. Katanya suami, dia sejak lahir ya seperti ini. Suami bilang saya harus menerima dia apa adanya," keluhnya.
Memang demikianlah yang sering terjadi. Kita berharap pasangan be…

Peran Ayah Dalam Pendidikan Anak

Al-Qur’an menyebutkan beberapa kisah ayah bersama anaknya. Diantaranya adalah kisah Nabi Ibrahim, Nabi Nuh, Ya’qub dalam surat Al- Baqoroh 132-133, QS. Luqman 12-19, QS. Yusuf. Proses pendidikan bukan hanya terjadi pada kita saja, akan tetapi terjadi pula pada para Nabi dan Rasul. Ketika kita membaca kisah Nabi Ibrahim yang sabar dalam menjalankan perintah Allah. Hajar yang tegar, dan Ismail yang sabar. Pertanyaannya apakah pengorbanan mereka datang secara kebetulan atau melalui proses tarbiyah (pendidkan)?
Jika contoh diatas ada pada Nabi dan Rasul. Maka beda halnya dengan Luqman. Dia adalah hamba Allah yang shalih. Berkat keshalihannya Allah berikan padanya kata-kata hikmah yang menghiasi lembaran Al-Qur’an. Nasihat Luqman yang ia berikan kepada anaknya dan menjadi pelajaran bagi kita.
وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kep…

Suami dan Keridhoannya

(Nasehat indah dari Ustadz Nasrullah Gontor)
Ada seorang ibu, mau cerai dari suaminya. Lalu dia diskusi panjang dengan saya.... + Pak Nas, saya sudah nggak kuat dengan suami saya. Saya mau cerai saja...
-: emangnya kenapa bu? + ya suami saya udah nggak ada kerjanya, nggak kreatif, nggak bisa jadi pemimpin untuk anak2. Nanti gimana anak2 saya kalau ayahnya modelnya kayak begitu. Saya harus cari nafkah capek2 dia santai aja di rumah.

-: oh gitu, cuma itu aja? + sebenarnya masih banyak lagi, tapi ya itu mungkin sebab yang paling utama.
-: oooh... iya... mau tahu pandangan saya nggak bu? + boleh pak Nas.

-: gini... ibarat orang punya kulkas, tapi dipakainya untuk lemari pakaian, ya akhirnya nggak bakal puas dengan produk kulkas tersebut. Sudahlah nggak muat banyak, nggak ada gantungan pakaiannya, nggak ada lacinya, nggak  bisa dikunci, malah boros listrik...
Nah... itulah kalau kita pakai produk nggak sesuai fungsi. Sebagus apapun produknya kalau dipakai tidak sesuai peruntukannya ya nggak ak…

10 Sifat Istri yang Membuat Rejeki Mengalir Deras

Banyak suami yang mungkin tidak tahu kalau rejekinya dengan izin Allah mengalir lancar atas peran istri. Memang tidak dapat dilihat secara kasat mata, tetapi dapat dijelaskan secara spiritual kalau 10 karakter istri ini ‘membantu’ menghadirkan rejeki untuk suami dan rumah tangganya.
1. Istri yang pandai bersyukur Istri yang bersyukur atas semua karunia Allah pada hakikatnya dia sedang mengundang tambahan nikmat untuk suaminya. Termasuk juga rejeki. Miliki suami, bersyukur. Jadi ibu, bersyukur. Anak-anak dapat mengaji, bersyukur. Suami memberi nafkah, bersyukur.
2. Istri yang tawakal kepada Allah Di waktu seseorang bertawakkal pada Allah, Allah akan mencukupi rejekinya. “Dan barangsiapa yang bertawakkal pada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya.” (QS. Ath Thalaq : 3). Bila seseorang istri bertawakkal pada Allah, sementara dia tidak bekerja, dari mana dia dicukupkan rejekinya. Allah akan mencukupkannya dari jalan lain, tidak selamanya harus langsung diberikan pada wanit…