Skip to main content

Pencarian Jati Diri Seorang Wanita, Anak dan Ibu

pencarian jati diri
Sebagai seorang anak yang dilahirkan oleh seorang ibu bekerja, dalam artian ibu yang bekerja di luar rumah atau sekarang memiliki bahasa keren Working Mom, dulunya Fenny pun juga memiliki pemikiran yang sama dengan ibunda tercinta. Setelah selesai kuliah, bekerja, menikah lalu punya anak dan tetap bekerja. Pemikiran yang sederhana dan standar untuk sebuah masa depan yang masih panjang. Pengalaman ibu sebagai ibu rumah tangga sekaligus guru PNS membuat beliau berpandangan seorang istri apalagi yang sudah menjadi ibu itu tetap harus berpenghasilan sendiri. Oleh karena itu harus bekerja, TITIK. Fenny pun menganggukkan kepala tanda mengiyakan. Bahkan saking nurutnya, Fenny pernah memiliki cita-cita menjadi guru juga dan terwujud dengan diterimanya Fenny sebagai mahasiswi jurusan Fisika, di sebuah Universitas Negeri di Semarang.

Perkenalan Fenny dengan dunia internet terutama dunia internet marketing dan blogging ternyata memiliki pengaruh besar di kehidupan Fenny sampai sekarang. Ketika mulai goyah dengan pilihan study yang telah dijalani, Fenny menemukan hal baru yang juga mempengaruhi pemikiran hingga hampir bertolak belakang. 

Sempat mencicipi ketebalan kantong yang tidak sekedar dompet koin. Hal yang sebelumnya tidak pernah dicicipi karena uang saku pas-pasan berkat mencoba usaha internet marketing, Fenny jadi mengetahui bahwa mendapatkan penghasilan itu tidak harus bekerja kantoran. Fenny pun menikmati profesi ini meskipun dengan pasang surutnya penghasilan.

Menjadi seorang freelance sembari kuliah juga mengantarkan Fenny ke cita-cita menikah muda meskipun jadi melenceng dari pemikiran standar Fenny dulu. Belum selesai kuliah tapi sudah menikah tapi minimal sudah bekerja dulu, hehe. Saat wisuda ternyata Fenny diberi hadiah dan amanah kehamilan. Wohoooo…bakalan jadi ibu muda juga. Saat itu Fenny dan suami tengah membangun bisnis web developer yang sistem kerjanya sesuai idealisme kami berdua bahwa bekerja itu tidak harus kantoran berangkat pagi pulang sore atau malam. Tidak ada halangan yang berarti karena sejak saat itu Fenny tinggal berdua di Semarang.

Kegalauan menimpa Fenny saat memutuskan melahirkan di Klaten atas permintaan orang tua. Seusai lahiran ternyata Fenny tidak langsung diperbolehkan ikut suami ke Semarang. Satu bulan, dua bulan hingga berbulan-bulan kemudian akhirnya Fenny masih tinggal dirumah orang tua. Memasuki bulan ketiga, ibu mulai melancarkan serangan yang menunjukkan ketidaksukaan beliau dengan aktivitas Fenny yang sering khusus di depan laptop. Rupanya sulit menjelaskan pada ibu yang lahir dan besar di jaman batu dengan teknologi internet yang bisa memberikan penghasilan bagi yang menekuni. Aktivitas Fenny dibilang sia-sia meskipun sudah ada bukti penghasilan. Ijazah yang tidak terpakai dan gelar yang tidak digunakan sebagaimana mestinya rupanya membuat ibu tidak ikhlas. Sekolah tinggi-tinggi koq hanya dirumah.

Demi menyenangkan ibu, Fenny bekerja ketika si sulung berusia 6 bulan. Demi memberikan ASI ekslusif pula Fenny memerah ASIP dan menyimpannya di kulkas. Fenny kira semuanya akan baik-baik saja sampai pada akhirnya belum ada sebulan si sulung tidak mau menyusu. Usut punya usut ternyata ASIP tidak diberikan pada si sulung karena bapak ibu sulit menerima bahwa ASI bisa disimpan. Fenny pun menangis tersedu-sedu. Niat hati menyenangkan orang tua tapi kehilangan masa emas untuk menyusui dua tahun. Beragam cara Fenny coba untuk menyusui si sulung lagi termasuk dengan resign langsung dari pekerjaan sebagai bentuk protes. Rupanya itu malah membuat ibu menekan Fenny yang tidak mau “bekerja”.

Negosiasi berlangsung setelah keadaan semakin runyam. Fenny memutuskan mengikuti suami ke Semarang setelah mendapatkan tawaran mengajar di salah satu sekolah swasta. Fenny mengiyakan untuk tetap bekerja karena di sekolah tersebut nantinya juga ada penitipan anak. Jadi pemikiran Fenny bisa menengok si sulung beberapa jam sekali. Rupanya takdir membuka jalan lain. Saat tanda tangan kontrak bersamaan dengan jadwal Fenny mengisi workshop di Universitas Diponegoro. Fenny pun memilih tetap mengisi workshop meski itu sama saja melewatkan tawaran bekerja sebagai guru. Kehidupan sebagai ibu rumah tangga pun dimulai.

Awalnya Fenny merasa bahagia. Menjalani hari bersama si sulung dan sesekali mengikuti kegiatan blogging. Namun lama-kelamaan Fenny merasakan kehampaan. Fenny jadi cenderung lebih emosional. Bahkan jauh lebih emosional ketika masih tinggal bersama orang tua setelah melahirkan. Kekacauan ini membuat Fenny merenung dan menemukan jawaban bahwa Fenny memerlukan me time untuk mengembalikan kewarasan. Bukan hal yang mudah untuk mengakui kebutuhan aktualisasi diri tanpa harus menggendong anak kesana kemari. Selain membuka jalan penghasilan tanpa kantoran, internet juga membawa Fenny pada pengetahuan tentang homeschooling. Tidak hanya terpukau hasil akhirnya yang rata-rata mencetak anak cemerlang tapi sempat juga ada ketakutan akibat berita-berita negatif yang berkaitan dengan anak di lingkungan penitipan anak sampai perkuliahan. Tapi sekali lagi Fenny mengukur ulang kemampuan diri sekaligus mengevaluasi. Suami rupanya menyadari dan membantu mengurai setiap kemungkinan.

Kini Fenny kembali tinggal bersama orang tua. Negosiasi ulang. Fenny pun mendapatkan pekerjaan yang sesuai impian. Fenny bisa bekerja dengan jam kerja yang fleksibel. Sesekali me time untuk mengikuti kegiatan blogging. Fenny memiliki waktu dimana Fenny bisa menjadi diri sendiri dan mewujudkan setiap impian. Berawal dari sini lah Fenny mulai merancang kembali perjalanan sebagai seorang ibu sekaligus sebagai makhluk sosial. Tidak harus sama seperti A atau si B. Tak lagi merisaukan ketika ada yang mempertanyakan pekerjaan yang tidak sesuai ijazah. Tak perlu antipati dengan ibu yang menitipkan anak atau menyekolahkan anak ke sekolah formal. Perjalanan sampai pada titik ini juga membuat Fenny mengacungkan jempol untuk ibu rumah tangga. Ini lah keseimbangan yang Fenny inginkan. Meski kadang lelah setelah beraktivitas di luar rumah, Fenny bisa kembali memeluk dan merawat anak-anak dengan hati yang penuh keikhlasan. Dengan cinta yang seutuhnya.

It’s a long, long journey…
Have a great experience of being a mother
It’s mommylicious  (hal 171, catatan Mama Arin)

Mau tau rahasia sukses bisnis bersama suami/istri? Like/Follow:
INSTAGRAM: Ustadzah Fenny Ferawati

Info dan kerjasama silakan klik disini.

Baca juga:

Comments

Artikel Terpopuler

Menikah dan Memahami Pasangan

Ciptaan Allah yang satu ini sungguh luar biasa indahnya. Sebuah perpaduan warna yang tak satu mahluk pun mampu membuatnya, meski berbeda namun selalu kompak dan harmonis. Kehidupan pernikahan bisa diibaratkan sebuah pelangi. Tak jarang banyak perbedaan karakter, mindset, latar belakang kehidupan, pendidikan dan berbagai macam ketidaksamaan. Namun satu hal, bagaimana semua itu terlihat mempesona.
Angan yang terlalu melambung tinggi ketika memimpikan sosok pasangan yang super lembut, sabar, bijaksana dan selalu mencintai pasangan. Namun ketika realita berkata lain, pantaskah pasutri berfikir untuk segera mengakhiri fragmen kehidupan pernikahan?
Episode kehidupan Asma binti Abu Aakar dengan Zubair bin Awwam kiranya cukup menjadi pelajaran berharga. Betapa rumah tangga mereka tetap solid meski kemiskinan dan kesulitan hidup tak lepas dari hari-harinya.
Asma harus berjuang membawa air dan merawat kuda. Sungguh keikhlasan itulah yang telah membuat cinta mereka bersatu. Sementara Zubair adalah …

Menyikapi Tabiat Pasangan

Seorang teman mengeluhkan sikap dan tabiat suaminya yang menurutnya egois dan kekanak-kanakan. Teman ini merasa menyesal telah menikah dengan suaminya.
Setahu saya sikap, karakter, atau kebiasaan tidak tercipta semalam dan juga tidak bisa berubah hanya semalam. Apa yang ditunjukkan suaminya saat ini, dalam pemahaman saya, sebenarnya telah ditunjukkan dulu waktu sebelum menikah.

"Apakah suamimu baru sekarang ini sikap dan perilakunya seperti yang kamu keluhkan?" tanya saya.
"Oh.. sudah dari dulu" jawabnya.
"Sejak masih pacaran ya," tanya saya lagi.
"Ya...." jawab teman.
"Lha... kalau sudah tahu begini kok ya diteruskan sampai nikah?" tanya saya penasaran.
"Saya pikir nanti kalau sudah nikah dia bisa berubah. Ternyata tidak mau berubah dan malah tambah parah. Katanya suami, dia sejak lahir ya seperti ini. Suami bilang saya harus menerima dia apa adanya," keluhnya.
Memang demikianlah yang sering terjadi. Kita berharap pasangan be…

Peran Ayah Dalam Pendidikan Anak

Al-Qur’an menyebutkan beberapa kisah ayah bersama anaknya. Diantaranya adalah kisah Nabi Ibrahim, Nabi Nuh, Ya’qub dalam surat Al- Baqoroh 132-133, QS. Luqman 12-19, QS. Yusuf. Proses pendidikan bukan hanya terjadi pada kita saja, akan tetapi terjadi pula pada para Nabi dan Rasul. Ketika kita membaca kisah Nabi Ibrahim yang sabar dalam menjalankan perintah Allah. Hajar yang tegar, dan Ismail yang sabar. Pertanyaannya apakah pengorbanan mereka datang secara kebetulan atau melalui proses tarbiyah (pendidkan)?
Jika contoh diatas ada pada Nabi dan Rasul. Maka beda halnya dengan Luqman. Dia adalah hamba Allah yang shalih. Berkat keshalihannya Allah berikan padanya kata-kata hikmah yang menghiasi lembaran Al-Qur’an. Nasihat Luqman yang ia berikan kepada anaknya dan menjadi pelajaran bagi kita.
وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kep…

Suami dan Keridhoannya

(Nasehat indah dari Ustadz Nasrullah Gontor)
Ada seorang ibu, mau cerai dari suaminya. Lalu dia diskusi panjang dengan saya.... + Pak Nas, saya sudah nggak kuat dengan suami saya. Saya mau cerai saja...
-: emangnya kenapa bu? + ya suami saya udah nggak ada kerjanya, nggak kreatif, nggak bisa jadi pemimpin untuk anak2. Nanti gimana anak2 saya kalau ayahnya modelnya kayak begitu. Saya harus cari nafkah capek2 dia santai aja di rumah.

-: oh gitu, cuma itu aja? + sebenarnya masih banyak lagi, tapi ya itu mungkin sebab yang paling utama.
-: oooh... iya... mau tahu pandangan saya nggak bu? + boleh pak Nas.

-: gini... ibarat orang punya kulkas, tapi dipakainya untuk lemari pakaian, ya akhirnya nggak bakal puas dengan produk kulkas tersebut. Sudahlah nggak muat banyak, nggak ada gantungan pakaiannya, nggak ada lacinya, nggak  bisa dikunci, malah boros listrik...
Nah... itulah kalau kita pakai produk nggak sesuai fungsi. Sebagus apapun produknya kalau dipakai tidak sesuai peruntukannya ya nggak ak…

10 Sifat Istri yang Membuat Rejeki Mengalir Deras

Banyak suami yang mungkin tidak tahu kalau rejekinya dengan izin Allah mengalir lancar atas peran istri. Memang tidak dapat dilihat secara kasat mata, tetapi dapat dijelaskan secara spiritual kalau 10 karakter istri ini ‘membantu’ menghadirkan rejeki untuk suami dan rumah tangganya.
1. Istri yang pandai bersyukur Istri yang bersyukur atas semua karunia Allah pada hakikatnya dia sedang mengundang tambahan nikmat untuk suaminya. Termasuk juga rejeki. Miliki suami, bersyukur. Jadi ibu, bersyukur. Anak-anak dapat mengaji, bersyukur. Suami memberi nafkah, bersyukur.
2. Istri yang tawakal kepada Allah Di waktu seseorang bertawakkal pada Allah, Allah akan mencukupi rejekinya. “Dan barangsiapa yang bertawakkal pada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya.” (QS. Ath Thalaq : 3). Bila seseorang istri bertawakkal pada Allah, sementara dia tidak bekerja, dari mana dia dicukupkan rejekinya. Allah akan mencukupkannya dari jalan lain, tidak selamanya harus langsung diberikan pada wanit…