Skip to main content

Membangun Masjid Bermodal 5 Ekor Ayam

masjid suciati saliman jogja
Suciati Saliman Riyanto, wanita kelahiran Yogyakarta 66 tahun lalu ini merintis usaha ayam potong sejak duduk di kelas 2 SMP. Saat itu, ia hanya memiliki modal Rp 175 ribu pemberian kedua orangtuanya. Uang tersebut lantas ia gunakan untuk membeli 5 ekor ayam.

Sejak SMP Suciati memimpikan membangun masjid. Waktu itu dengan membonceng sepeda onthel ibunya, tiap jam 6 pagi ia berangkat ke Pasar Terban untuk menjajakan ayam yang telah disembelih ayahnya. Baru setelah itu, ia langsung menunaikan kewajibannya menuntut ilmu. Jam 7 pagi habis atau tidak, Suciati berangkat ke sekolah. Kalau tidak habis ayamnya dijual ke ibu-ibu dosen UGM karena dulu belum punya freezer.

Hingga lulus SMP, sudah ada 15 ekor ayam yang berhasil ia jual. Usahanya tersebut terus berlanjut hingga ia menempuh pendidikan di STM Kimia Jetis dan mampu menjual 70 ekor ayam. Usahanya semakin meningkat setelah ia menikah dengan seorang pegawai Dinsos, Saliman Riyanto Saharjo. Tidak hanya mengajarinya berbisnis, sang suami pun akhirnya ikut terjun berdagang ayam. Suaminya mengajari untuk bikin kartu nama dan selebaran untuk diselipkan di koran-koran.

Menjadi pedagang ayam sebenarnya sudah lama menjadi pilihan hidup Suciati setelah mendapat nasihat dari sang nenek. Ia juga berusaha menerapkan falsafah Jawa "urip iku urup" yang berarti hidup itu memberi manfaat sebanyak-banyaknya ke sesama. Kini, dari 5 ekor ayam, Suciati telah memiliki 1.300 karyawan dengan dua pabrik di Sleman dan Jombang, Jawa Timur. Dari sanalah, lebih dari 100 ton ayam potong diproduksi setiap harinya. Dia juga mendirikan pabrik nugget dan sosis dengan segmen pasar Indonesia Timur.

Meski telah sukses, masih ada cita-cita Suciati yang saat itu masih belum terlaksana yaitu membangun masjid. Ia baru memantapkan cita-cita itu usai kembali dari ibadah haji. Tahun 1995 sesudah haji ia mantap ingin mendirikan masjid. Barulah mulai tahun 2015 niat itu ia laksanakan.

Selain alasan itu, Suciati ia juga ingin memudahkan karyawannya beribadah. Masjid ini juga sengaja dibuka 24 jam agar para musafir bisa beristirahat atau ikut salat di sini. Masjid itu diberi nama Masjid Suciati Saliman. Desainnya pun terlihat apik. Kultur Timur Tengah tampak jelas dari desain pintu dengan uliran emas di sepanjang tepiannya. Desain itu, sama dengan desain pintu di Masjid Nabawi, Madinah. Tak hanya pintu, bagian dalamnya pun mirip dengan Masjid Nabawi.

Sementara, atap limas masjid tersebut merupakan hasil serapan dari budaya Jawa yang ingin ditonjolkan. Sebuah bedug berdiameter 130 cm bermaterial kayu trembesi berusia 127 dari Majalengka dan kulit kerbau jantan tampak gagah di samping masjid. Masjid yang berada persis di samping Jalan Gito Gati tersebut juga ramah lansia dan difabel. Sebab, didalamnya tersedia lift yang bisa digunakan oleh jamaah.

Putri sulung Suciati, Atik, mengisahkan cara ibunya menabung untuk membangun masjid. Menurutnya keuntungan dagang yang hendak untuk membangun masjid ditabung terlebih dahulu dengan dibelikan emas. Masjid Suciati Saliman baru benar-benar rampung pada Agustus 2018, namun telah diresmikan untuk digunakan sejak 13 Mei 2018 lalu. Adzan pertama dikumandangkan pada 6 Mei 2018, saat itu Suciati sempat meneteskan air mata karena terharu.

Kini Suciati bersiap untuk merealisasikan cita-cita berikutnya: membangun rumah hafidz, pondok pesantren, sekolah muslim, hingga taman religi.


Mau tau rahasia sukses bisnis bersama suami/istri? Like/Follow:
INSTAGRAM: Fenny Ferawati

Info dan kerjasama silakan klik disini.

Baca juga:

Comments

Artikel Terpopuler

Menikah dan Memahami Pasangan

Ciptaan Allah yang satu ini sungguh luar biasa indahnya. Sebuah perpaduan warna yang tak satu mahluk pun mampu membuatnya, meski berbeda namun selalu kompak dan harmonis. Kehidupan pernikahan bisa diibaratkan sebuah pelangi. Tak jarang banyak perbedaan karakter, mindset, latar belakang kehidupan, pendidikan dan berbagai macam ketidaksamaan. Namun satu hal, bagaimana semua itu terlihat mempesona.
Angan yang terlalu melambung tinggi ketika memimpikan sosok pasangan yang super lembut, sabar, bijaksana dan selalu mencintai pasangan. Namun ketika realita berkata lain, pantaskah pasutri berfikir untuk segera mengakhiri fragmen kehidupan pernikahan?
Episode kehidupan Asma binti Abu Aakar dengan Zubair bin Awwam kiranya cukup menjadi pelajaran berharga. Betapa rumah tangga mereka tetap solid meski kemiskinan dan kesulitan hidup tak lepas dari hari-harinya.
Asma harus berjuang membawa air dan merawat kuda. Sungguh keikhlasan itulah yang telah membuat cinta mereka bersatu. Sementara Zubair adalah …

Menyikapi Tabiat Pasangan

Seorang teman mengeluhkan sikap dan tabiat suaminya yang menurutnya egois dan kekanak-kanakan. Teman ini merasa menyesal telah menikah dengan suaminya.
Setahu saya sikap, karakter, atau kebiasaan tidak tercipta semalam dan juga tidak bisa berubah hanya semalam. Apa yang ditunjukkan suaminya saat ini, dalam pemahaman saya, sebenarnya telah ditunjukkan dulu waktu sebelum menikah.

"Apakah suamimu baru sekarang ini sikap dan perilakunya seperti yang kamu keluhkan?" tanya saya.
"Oh.. sudah dari dulu" jawabnya.
"Sejak masih pacaran ya," tanya saya lagi.
"Ya...." jawab teman.
"Lha... kalau sudah tahu begini kok ya diteruskan sampai nikah?" tanya saya penasaran.
"Saya pikir nanti kalau sudah nikah dia bisa berubah. Ternyata tidak mau berubah dan malah tambah parah. Katanya suami, dia sejak lahir ya seperti ini. Suami bilang saya harus menerima dia apa adanya," keluhnya.
Memang demikianlah yang sering terjadi. Kita berharap pasangan be…

Peran Ayah Dalam Pendidikan Anak

Al-Qur’an menyebutkan beberapa kisah ayah bersama anaknya. Diantaranya adalah kisah Nabi Ibrahim, Nabi Nuh, Ya’qub dalam surat Al- Baqoroh 132-133, QS. Luqman 12-19, QS. Yusuf. Proses pendidikan bukan hanya terjadi pada kita saja, akan tetapi terjadi pula pada para Nabi dan Rasul. Ketika kita membaca kisah Nabi Ibrahim yang sabar dalam menjalankan perintah Allah. Hajar yang tegar, dan Ismail yang sabar. Pertanyaannya apakah pengorbanan mereka datang secara kebetulan atau melalui proses tarbiyah (pendidkan)?
Jika contoh diatas ada pada Nabi dan Rasul. Maka beda halnya dengan Luqman. Dia adalah hamba Allah yang shalih. Berkat keshalihannya Allah berikan padanya kata-kata hikmah yang menghiasi lembaran Al-Qur’an. Nasihat Luqman yang ia berikan kepada anaknya dan menjadi pelajaran bagi kita.
وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kep…

Suami dan Keridhoannya

(Nasehat indah dari Ustadz Nasrullah Gontor)
Ada seorang ibu, mau cerai dari suaminya. Lalu dia diskusi panjang dengan saya.... + Pak Nas, saya sudah nggak kuat dengan suami saya. Saya mau cerai saja...
-: emangnya kenapa bu? + ya suami saya udah nggak ada kerjanya, nggak kreatif, nggak bisa jadi pemimpin untuk anak2. Nanti gimana anak2 saya kalau ayahnya modelnya kayak begitu. Saya harus cari nafkah capek2 dia santai aja di rumah.

-: oh gitu, cuma itu aja? + sebenarnya masih banyak lagi, tapi ya itu mungkin sebab yang paling utama.
-: oooh... iya... mau tahu pandangan saya nggak bu? + boleh pak Nas.

-: gini... ibarat orang punya kulkas, tapi dipakainya untuk lemari pakaian, ya akhirnya nggak bakal puas dengan produk kulkas tersebut. Sudahlah nggak muat banyak, nggak ada gantungan pakaiannya, nggak ada lacinya, nggak  bisa dikunci, malah boros listrik...
Nah... itulah kalau kita pakai produk nggak sesuai fungsi. Sebagus apapun produknya kalau dipakai tidak sesuai peruntukannya ya nggak ak…

10 Sifat Istri yang Membuat Rejeki Mengalir Deras

Banyak suami yang mungkin tidak tahu kalau rejekinya dengan izin Allah mengalir lancar atas peran istri. Memang tidak dapat dilihat secara kasat mata, tetapi dapat dijelaskan secara spiritual kalau 10 karakter istri ini ‘membantu’ menghadirkan rejeki untuk suami dan rumah tangganya.
1. Istri yang pandai bersyukur Istri yang bersyukur atas semua karunia Allah pada hakikatnya dia sedang mengundang tambahan nikmat untuk suaminya. Termasuk juga rejeki. Miliki suami, bersyukur. Jadi ibu, bersyukur. Anak-anak dapat mengaji, bersyukur. Suami memberi nafkah, bersyukur.
2. Istri yang tawakal kepada Allah Di waktu seseorang bertawakkal pada Allah, Allah akan mencukupi rejekinya. “Dan barangsiapa yang bertawakkal pada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya.” (QS. Ath Thalaq : 3). Bila seseorang istri bertawakkal pada Allah, sementara dia tidak bekerja, dari mana dia dicukupkan rejekinya. Allah akan mencukupkannya dari jalan lain, tidak selamanya harus langsung diberikan pada wanit…