Skip to main content

Garwa adalah Sigaraning Nyawa (Belahan Jiwa)

garwa sigaraning nyawa
Masyarakat Jawa sejak dulu mengenal konsep “garwa” (garwo), yakni sebutan kehormatan bagi seorang istri (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1990: 257). “Garwa” sering dipahami sebagai kependekan dari kata “sigaraning nyawa” alias “belahan nyawa” atau “belahan jiwa”. Di balik sebutan itu terkadung makna bahwa istri adalah “sigaraning nyawa” atau “belahan jiwa” bagi sang suami. Sungguh pemaknaan yang sangat filosofis dan mendalam terhadap ikatan pernikahan antara dua anak manusia.

Hal ini segera mengingatkan kita dengan hadits Nabi Saw, “An-nisa-u saqa-iqu ar-rijaal, sesungguhnya perempuan (istri) itu adalah saudara kandung bagi laki-laki (suaminya)”. Menurut Dr. Setiawan Budi Utomo, setelah diperistri, perempuan berposisi sebagai saqa-iq (saudara kandung) bagi suaminya. Artinya, suami istri itu tidak ada yang di atas dan yang di bawah. Tidak ada yang berposisi sebagai atasan atau bawahan.

Kendati suami mendapatkan peran kepemimpinan, akan tetapi hal itu tidak boleh membuatnya memposisikan diri menjadi atasan, yang bisa menindas bawahan dengan semaunya. Kepemimpinan suami adalah peran pengarahan, keteladanan, perlindungan, pengayoman, dalam bingkai cinta serta kasih sayang. Suami adalah pemimpin, bukan penguasa maka tidak boleh memimpin dengan otoriter dan sewenang-wenang yang membuat istri berada dalam posisi yang tertindas atau terzalimi.

Konsekuensi "Sigaraning Nyawa"
Jika dicermati dari berbagai aspek dan dihayati lebih mendalam, penyebutan seorang istri sebagai “garwa” ini memiliki beberapa konsekuensi logis dalam kehidupan sehari-hari.

Pertama, ketika laki-laki dan perempuan melaksanakan akad nikah, mereka diikat sangat kuat dalam sebuah "mitsaqan ghalizha" (perjanjian yang agung). Pernikahan ini menandakan seorang lelaki dan perempuan telah saling menemukan "sigaraning nyawa"nya. Oleh karena itu, suami harus menerima dengan segenap rasa syukur bagaimanapun sosok dan kondisi istrinya. Begitu pula istri harus menerima dengan penuh kerelaan bagaimanapun sosok dan kondisi suaminya. Mereka adalah belahan jiwa bagi yang lain.

Sikap syukur dan kerelaan ini harus selalu ditumbuhsuburkan dan dipelihara hingga akhir usia. Tidak layak bagi mereka untuk saling mencela dan mencari-cari kesalahan serta kelemahan pasangan. Mereka adalah belahan jiwa, tidak akan lengkap jika terpisah. Ketika bersatu dalam pernikahan, maka belahan jiwa telah tersatukan, sehingga hidup mereka utuh.

Kedua, karena telah menjadi "sigaraning nyawa", maka antara suami dan istri harus senantiasa berada dalam "satu pihak" dalam mensikapi berbagai permasalahan yang datang silih berganti dalam kehidupan. Oleh karena itu, dalam kehidupan pasangan suami istri, tidak boleh lagi ada sekat yang menghambat kebersamaan dan penyatuan hati serta pemikiran antara keduanya. Setiap menghadapi masalah, suami dan istri harus selalu berada dalam pihak yang sama, bukan berseberangan.

Jika terpaksa muncul konflik, pasangan suami istri harus segera mampu menyelesaikan dengan baik dan semakin mendekat satu dengan yang lain, sehingga hari demi hari mereka selalu diliputi oleh rasa sakinah, mawwadah dan rahmah. Konflik tidak untuk memisahkan mereka, sehingga masing-masing mengambil sikap dan pihak yang berseberangan. Namun justru harus menyadarkan untuk semakin mendekat dan menyatu, sehingga sikap setiap muncul masalah adalah "kita hadapi bersama".

Ketiga, “sigaran” atau belahan jiwa itu menyiratkan adanya keseimbangan antara satu dengan yang lain. Suami dan istri harus berada dalam suasana yang saling melengkapi, saling menguatkan, saling memberi hingga ada konsekuensi keduanya berlaku aktif untuk memulai kebaikan bagi yang lain. Bukan saling menunggu, namun saling mendahului untuk memberikan yang terbaik bagi pasangan.

Kalau hanya satu pihak yang aktif, sementara pihak lainnya pasif, ini menandakan tidak ada keseimbangan. Suami dan istri harus sama-sama aktif untuk menciptakan kebaikan, keharmonisan, kebahagiaan, keindahan dalam keluarga. Keduanya tidak saling menunggu pasangan dalam  menciptakan kebahagiaan keluarga. Keseimbangan dalam melakukan berbagai kebaikan dalam keluarga akan semakin menguatkan keharmonisan dan kebahagiaan mereka.

Keempat, sebagai belahan jiwa, suami dan istri harus berusaha untuk saling mengenali, memahami, mengerti lebih dalam satu dengan yang lain. Mereka tidak berhenti untuk mengenali setiap perubahan yang ada pada pasangannya. Dengan demikian, dari waktu ke waktu, mereka akan semakin mampu menyatu dalam segala aspek. Menyatu dalam visi, menyatu dalam langkah, menyatu dalam sikap, menyatu dalam menghadapi tantangan serta persoalan kehidupan.

Tidak layak suami dan istri saling berjauhan secara visi, sikap dan langkah, karena mereka adalah belahan jiwa satu dengan yang lain. Justru mereka harus semakin mendekat sehingga tidak ada sekat dan jarak yang membuat mereka terpisahkan. Menjadi kewajiban suami dan istri untuk selalu berusaha lebih memahami dan mengerti satu dengan yang lain.

Kelima, makna "sigaraning nyawa" menandakan adanya kesatuan dalam kehidupan, atau ada kesejiwaan dan kesenyawaan. Seakan suami 'tidak bisa hidup' tanpa istri, dan istri 'tidak bisa hidup' tanpa suami. Nyawa kita hanya satu, maka jika hilang sebagiannya, menyebabkan tidak bisa membentuk kehidupan yang utuh dan normal. Kita tidak bisa hidup dengan separoh nyawa saja. Penyatuan suami dan istri menyebabkan kita memiliki nyawa yang utuh untuk bisa hidup normal.

Ungkapan "jangan menikahi seseorang yang bisa engkau ajak menjalani hidup bersamanya, namun nikahilah seseorang yang engkau tidak bisa hidup tanpanya", menjadi relevan dengan makna "sigaraning nyawa" ini.

Pecahing Dhadha, Wutahing Ludira
Bahkan karena suami dan istri itu saling menjadi belahan jiwa bagi yang lain, maka sikap pembelaan di antara keduanya sampai ke tingkat "pecahing dhadha, wutahing ludira". Pecahnya dada dan tertumpahkannya darah. Artinya, sampai mati akan tetap dibela dan dilindungi. Hal ini menandakan, suami dan istri sudah berada dalam ikatan chemistry yang kokoh dan tak terpisahkan.

Ungkapan ini tidak dimaksudkan untuk pemberian pembelaan secara membabi buta terhadap pasangan. Namun lebih dimaksudkan sebagai kekompakan sikap, atau kesejiwaan yang kokoh, antara suami dan istri. Tidak ada yang bisa memisahkan mereka. Sehingga apabila ada pihak ketiga yang bermaksud jahat untuk memisahkan mereka, maka keduanya bersikap saling memberikan pembelaan sampai titik darah penghabisan.

Pembelaan yang muncul akibat kesejiwaan, menjadi soulmate, belahan jiwa, yang apabila mereka dipisahkan, membuat tidak bisa mendapatkan kehidupan yang utuh. Belahan jiwa harus dibela, dilindungi, diayomi, dan dipertahankan keutuhan ikatannya. Tidak rela apabila ada pihak lain yang mencoba menceraiberaikan ikatan cinta dan kasih sayang di antara keduanya.

Jika ada yang mencoba-coba mengganggu, akan dibela hingga "pecahing dhadha wutahing ludira", karena jika kehilangan pasangan, nyawa kita tinggal separohnya.


Mau tau rahasia sukses bisnis bersama suami/istri? Like/Follow:
INSTAGRAM: Fenny Ferawati

Info dan kerjasama silakan klik disini.

Baca juga:

Comments

Artikel Terpopuler

Menikah dan Memahami Pasangan

Ciptaan Allah yang satu ini sungguh luar biasa indahnya. Sebuah perpaduan warna yang tak satu mahluk pun mampu membuatnya, meski berbeda namun selalu kompak dan harmonis. Kehidupan pernikahan bisa diibaratkan sebuah pelangi. Tak jarang banyak perbedaan karakter, mindset, latar belakang kehidupan, pendidikan dan berbagai macam ketidaksamaan. Namun satu hal, bagaimana semua itu terlihat mempesona.
Angan yang terlalu melambung tinggi ketika memimpikan sosok pasangan yang super lembut, sabar, bijaksana dan selalu mencintai pasangan. Namun ketika realita berkata lain, pantaskah pasutri berfikir untuk segera mengakhiri fragmen kehidupan pernikahan?
Episode kehidupan Asma binti Abu Aakar dengan Zubair bin Awwam kiranya cukup menjadi pelajaran berharga. Betapa rumah tangga mereka tetap solid meski kemiskinan dan kesulitan hidup tak lepas dari hari-harinya.
Asma harus berjuang membawa air dan merawat kuda. Sungguh keikhlasan itulah yang telah membuat cinta mereka bersatu. Sementara Zubair adalah …

Menyikapi Tabiat Pasangan

Seorang teman mengeluhkan sikap dan tabiat suaminya yang menurutnya egois dan kekanak-kanakan. Teman ini merasa menyesal telah menikah dengan suaminya.
Setahu saya sikap, karakter, atau kebiasaan tidak tercipta semalam dan juga tidak bisa berubah hanya semalam. Apa yang ditunjukkan suaminya saat ini, dalam pemahaman saya, sebenarnya telah ditunjukkan dulu waktu sebelum menikah.

"Apakah suamimu baru sekarang ini sikap dan perilakunya seperti yang kamu keluhkan?" tanya saya.
"Oh.. sudah dari dulu" jawabnya.
"Sejak masih pacaran ya," tanya saya lagi.
"Ya...." jawab teman.
"Lha... kalau sudah tahu begini kok ya diteruskan sampai nikah?" tanya saya penasaran.
"Saya pikir nanti kalau sudah nikah dia bisa berubah. Ternyata tidak mau berubah dan malah tambah parah. Katanya suami, dia sejak lahir ya seperti ini. Suami bilang saya harus menerima dia apa adanya," keluhnya.
Memang demikianlah yang sering terjadi. Kita berharap pasangan be…

Peran Ayah Dalam Pendidikan Anak

Al-Qur’an menyebutkan beberapa kisah ayah bersama anaknya. Diantaranya adalah kisah Nabi Ibrahim, Nabi Nuh, Ya’qub dalam surat Al- Baqoroh 132-133, QS. Luqman 12-19, QS. Yusuf. Proses pendidikan bukan hanya terjadi pada kita saja, akan tetapi terjadi pula pada para Nabi dan Rasul. Ketika kita membaca kisah Nabi Ibrahim yang sabar dalam menjalankan perintah Allah. Hajar yang tegar, dan Ismail yang sabar. Pertanyaannya apakah pengorbanan mereka datang secara kebetulan atau melalui proses tarbiyah (pendidkan)?
Jika contoh diatas ada pada Nabi dan Rasul. Maka beda halnya dengan Luqman. Dia adalah hamba Allah yang shalih. Berkat keshalihannya Allah berikan padanya kata-kata hikmah yang menghiasi lembaran Al-Qur’an. Nasihat Luqman yang ia berikan kepada anaknya dan menjadi pelajaran bagi kita.
وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kep…

Suami dan Keridhoannya

(Nasehat indah dari Ustadz Nasrullah Gontor)
Ada seorang ibu, mau cerai dari suaminya. Lalu dia diskusi panjang dengan saya.... + Pak Nas, saya sudah nggak kuat dengan suami saya. Saya mau cerai saja...
-: emangnya kenapa bu? + ya suami saya udah nggak ada kerjanya, nggak kreatif, nggak bisa jadi pemimpin untuk anak2. Nanti gimana anak2 saya kalau ayahnya modelnya kayak begitu. Saya harus cari nafkah capek2 dia santai aja di rumah.

-: oh gitu, cuma itu aja? + sebenarnya masih banyak lagi, tapi ya itu mungkin sebab yang paling utama.
-: oooh... iya... mau tahu pandangan saya nggak bu? + boleh pak Nas.

-: gini... ibarat orang punya kulkas, tapi dipakainya untuk lemari pakaian, ya akhirnya nggak bakal puas dengan produk kulkas tersebut. Sudahlah nggak muat banyak, nggak ada gantungan pakaiannya, nggak ada lacinya, nggak  bisa dikunci, malah boros listrik...
Nah... itulah kalau kita pakai produk nggak sesuai fungsi. Sebagus apapun produknya kalau dipakai tidak sesuai peruntukannya ya nggak ak…

10 Sifat Istri yang Membuat Rejeki Mengalir Deras

Banyak suami yang mungkin tidak tahu kalau rejekinya dengan izin Allah mengalir lancar atas peran istri. Memang tidak dapat dilihat secara kasat mata, tetapi dapat dijelaskan secara spiritual kalau 10 karakter istri ini ‘membantu’ menghadirkan rejeki untuk suami dan rumah tangganya.
1. Istri yang pandai bersyukur Istri yang bersyukur atas semua karunia Allah pada hakikatnya dia sedang mengundang tambahan nikmat untuk suaminya. Termasuk juga rejeki. Miliki suami, bersyukur. Jadi ibu, bersyukur. Anak-anak dapat mengaji, bersyukur. Suami memberi nafkah, bersyukur.
2. Istri yang tawakal kepada Allah Di waktu seseorang bertawakkal pada Allah, Allah akan mencukupi rejekinya. “Dan barangsiapa yang bertawakkal pada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya.” (QS. Ath Thalaq : 3). Bila seseorang istri bertawakkal pada Allah, sementara dia tidak bekerja, dari mana dia dicukupkan rejekinya. Allah akan mencukupkannya dari jalan lain, tidak selamanya harus langsung diberikan pada wanit…