Skip to main content

Batas Alam Semesta Raya Kehidupan

batas alam semesta raya
Ada seorang wanita yang sudah punya suami dan anak. Dia bekerja dengan gaji yang lumayan, suaminya juga berpenghasilan besar. Sampai suatu saat ada sebuah lintasan pikiran dia kepingin resign dari pekerjaannya dan hanya fokus mengasuh anak. Menurut Anda, keputusan si wanita ini bagaimana? Mantap resign dari pekerjaan atau memilih pekerjaan yang penghasilannya lumayan?

Yang akan menentukan keputusan apa yang diambil si wanita ini adalah "apa yang paling kuat dalam memori emosional pada pikiran bawah sadarnya". Dan terkait dengan cara kerja pikiran bawah sadar, maka ini jelas terkait dengan "apa penyimpulan-penyimpulan si wanita itu atas segenap pengalaman masa lalu dalam kehidupannya".

Bila si wanita ini semasa kecil lahir dari keluarga kaya raya dan cukup uang, namun kurang perhatian orangtua, sangat besar kecenderungan si wanita ini akan mantap memutuskan resign dari pekerjaannya. Namun apabila si wanita ini dulu semasa kecil lahir dari keluarga yang susah perekonomiannya, maka besar kecenderungannya dia tidak akan resign.

Apabila si wanita itu lahir dari situasi keluarga kaya tapi kurang perhatian orangtua, maka value (nilai) sesuatu yang dia anggap berharga adalah perhatian orangtua. Apabila si wanita itu lahir di keluarga miskin maka value (nilai) sesuatu yang dia anggap berharga adalah uang (kecukupan materi). Lalu, keputusan mana yang benar? Dalam perspektif ini, keduanya benar bagi si wanita itu. Dia memiliki alasan subyektif.

Namun ketika melihatnya dari luar, akan muncul salah dan benar itu. Bagi orang yang value-nya perhatian, ketika melihat si wanita itu memilih tetap bekerja akan berkomentar "ih, anak kok tidak dianggap penting !!". Sebaliknya, jika value orang lain tersebut adalah uang, ketika melihat si wanita itu resign akan berkomentar "bodoh banget ya, apa gak kasihan kalau nanti si anak kurang biaya?".

Bahasan ini bisa disimpulkan kemana saja. Namun yang perlu "digarisbawahi" adalah bahwa kita selalu menakar peristiwa secara subyektif, selalu menilai orang lain juga secara subyektif. Subyektif berdasarkan value apa yang kita anggap berharga. Di sinilah kita sering sok tahu. Kita sering terjebak menghakimi orang lain atas dasar value kita tanpa ingin memahami apa value orang lain.

Sejauh mana sesuatu itu berharga bagi kita, lahir dari penyimpulan pengalaman kita sendiri. Kemudian, sesuatu yang berharga itulah yang memberikan sebuah emosi. Dan emosi ini tanpa disadari akan mengarahkan kita dalam mengambil keputusan, mengarahkan kita dalam menentukan pilihan, mengarahkan kita dalam memandang kehidupan. Ini tanpa disadari karena penggeraknya pikiran bawah sadar kita.

Oleh karenanya cara pandang kita tentang orang lain, cara pandang kita tentang kehidupan, cenderung tidak akan berubah, sampai kita bisa mengubah penyimpulan-penyimpulan kita atas kejadian-kejadian yang pernah hadir dalam hidup kita sendiri. Ke-aku-an kita, sering merasa di luar sana selalu sama dengan pengalaman kita.

Alam semesta raya ini luas dan konon batasnya belum diketahui. Tapi bisa disimpulkan bahwa luasnya semesta kehidupan dibatasi oleh ke-aku-an kita masing-masing.


Mau tau rahasia sukses bisnis bersama suami/istri? Like/Follow:
INSTAGRAM: Fenny Ferawati

Info dan kerjasama silakan klik disini.

Baca juga:

Comments

Artikel Terpopuler

Menikah dan Memahami Pasangan

Ciptaan Allah yang satu ini sungguh luar biasa indahnya. Sebuah perpaduan warna yang tak satu mahluk pun mampu membuatnya, meski berbeda namun selalu kompak dan harmonis. Kehidupan pernikahan bisa diibaratkan sebuah pelangi. Tak jarang banyak perbedaan karakter, mindset, latar belakang kehidupan, pendidikan dan berbagai macam ketidaksamaan. Namun satu hal, bagaimana semua itu terlihat mempesona.
Angan yang terlalu melambung tinggi ketika memimpikan sosok pasangan yang super lembut, sabar, bijaksana dan selalu mencintai pasangan. Namun ketika realita berkata lain, pantaskah pasutri berfikir untuk segera mengakhiri fragmen kehidupan pernikahan?
Episode kehidupan Asma binti Abu Aakar dengan Zubair bin Awwam kiranya cukup menjadi pelajaran berharga. Betapa rumah tangga mereka tetap solid meski kemiskinan dan kesulitan hidup tak lepas dari hari-harinya.
Asma harus berjuang membawa air dan merawat kuda. Sungguh keikhlasan itulah yang telah membuat cinta mereka bersatu. Sementara Zubair adalah …

Menyikapi Tabiat Pasangan

Seorang teman mengeluhkan sikap dan tabiat suaminya yang menurutnya egois dan kekanak-kanakan. Teman ini merasa menyesal telah menikah dengan suaminya.
Setahu saya sikap, karakter, atau kebiasaan tidak tercipta semalam dan juga tidak bisa berubah hanya semalam. Apa yang ditunjukkan suaminya saat ini, dalam pemahaman saya, sebenarnya telah ditunjukkan dulu waktu sebelum menikah.

"Apakah suamimu baru sekarang ini sikap dan perilakunya seperti yang kamu keluhkan?" tanya saya.
"Oh.. sudah dari dulu" jawabnya.
"Sejak masih pacaran ya," tanya saya lagi.
"Ya...." jawab teman.
"Lha... kalau sudah tahu begini kok ya diteruskan sampai nikah?" tanya saya penasaran.
"Saya pikir nanti kalau sudah nikah dia bisa berubah. Ternyata tidak mau berubah dan malah tambah parah. Katanya suami, dia sejak lahir ya seperti ini. Suami bilang saya harus menerima dia apa adanya," keluhnya.
Memang demikianlah yang sering terjadi. Kita berharap pasangan be…

Peran Ayah Dalam Pendidikan Anak

Al-Qur’an menyebutkan beberapa kisah ayah bersama anaknya. Diantaranya adalah kisah Nabi Ibrahim, Nabi Nuh, Ya’qub dalam surat Al- Baqoroh 132-133, QS. Luqman 12-19, QS. Yusuf. Proses pendidikan bukan hanya terjadi pada kita saja, akan tetapi terjadi pula pada para Nabi dan Rasul. Ketika kita membaca kisah Nabi Ibrahim yang sabar dalam menjalankan perintah Allah. Hajar yang tegar, dan Ismail yang sabar. Pertanyaannya apakah pengorbanan mereka datang secara kebetulan atau melalui proses tarbiyah (pendidkan)?
Jika contoh diatas ada pada Nabi dan Rasul. Maka beda halnya dengan Luqman. Dia adalah hamba Allah yang shalih. Berkat keshalihannya Allah berikan padanya kata-kata hikmah yang menghiasi lembaran Al-Qur’an. Nasihat Luqman yang ia berikan kepada anaknya dan menjadi pelajaran bagi kita.
وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kep…

Suami dan Keridhoannya

(Nasehat indah dari Ustadz Nasrullah Gontor)
Ada seorang ibu, mau cerai dari suaminya. Lalu dia diskusi panjang dengan saya.... + Pak Nas, saya sudah nggak kuat dengan suami saya. Saya mau cerai saja...
-: emangnya kenapa bu? + ya suami saya udah nggak ada kerjanya, nggak kreatif, nggak bisa jadi pemimpin untuk anak2. Nanti gimana anak2 saya kalau ayahnya modelnya kayak begitu. Saya harus cari nafkah capek2 dia santai aja di rumah.

-: oh gitu, cuma itu aja? + sebenarnya masih banyak lagi, tapi ya itu mungkin sebab yang paling utama.
-: oooh... iya... mau tahu pandangan saya nggak bu? + boleh pak Nas.

-: gini... ibarat orang punya kulkas, tapi dipakainya untuk lemari pakaian, ya akhirnya nggak bakal puas dengan produk kulkas tersebut. Sudahlah nggak muat banyak, nggak ada gantungan pakaiannya, nggak ada lacinya, nggak  bisa dikunci, malah boros listrik...
Nah... itulah kalau kita pakai produk nggak sesuai fungsi. Sebagus apapun produknya kalau dipakai tidak sesuai peruntukannya ya nggak ak…

10 Sifat Istri yang Membuat Rejeki Mengalir Deras

Banyak suami yang mungkin tidak tahu kalau rejekinya dengan izin Allah mengalir lancar atas peran istri. Memang tidak dapat dilihat secara kasat mata, tetapi dapat dijelaskan secara spiritual kalau 10 karakter istri ini ‘membantu’ menghadirkan rejeki untuk suami dan rumah tangganya.
1. Istri yang pandai bersyukur Istri yang bersyukur atas semua karunia Allah pada hakikatnya dia sedang mengundang tambahan nikmat untuk suaminya. Termasuk juga rejeki. Miliki suami, bersyukur. Jadi ibu, bersyukur. Anak-anak dapat mengaji, bersyukur. Suami memberi nafkah, bersyukur.
2. Istri yang tawakal kepada Allah Di waktu seseorang bertawakkal pada Allah, Allah akan mencukupi rejekinya. “Dan barangsiapa yang bertawakkal pada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya.” (QS. Ath Thalaq : 3). Bila seseorang istri bertawakkal pada Allah, sementara dia tidak bekerja, dari mana dia dicukupkan rejekinya. Allah akan mencukupkannya dari jalan lain, tidak selamanya harus langsung diberikan pada wanit…